Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 179. Lamaran


__ADS_3

Sang ayah sudah memasang wajah tidak suka yang membuat nyali Aisyah menciut. Wanita itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.


"Pak, dia mau ke sini sama ayah dan ibunya. Sekedar bersilaturahmi." Aisyah masih berbasa-basi.


"Silaturahmi? Pasti ada maksud lain. Katakan saja, Ais!" Sukiman mengangkat alisnya.


Orang tua mana yang tidak tahu maksud kedatangan seorang pria bersama keluarganya ke rumah seorang wanita. Meskipun demikian, Sukiman masih ingin mendengar semua itu dari mulut sang anak.


Sekali lagi Aisyah menarik nafas dalam-dalam. "Iya, Pak. Mereka ke sini ingin melamarku!"


Sukiman hanya menghembuskan nafas panjang. Tak ada kata-kata darinya. Dia masih memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Pak, bagaimana?" tanya Aisyah. Wajahnya sangat cemas. Dia berharap sang ayah tidak meolak keluarga David.


"Apa kamu mencintai pria itu?" Sukiman menatap Aisyah lekat. Dia ingin memastikan kesungguhan sang anak. Baginya, pernikahan bukan hal main-main dan harus dipikirkan matang-matang.


"Iya," ucap Aisyah mantap. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam ucapannya.


Tidak tahu mengapa Aisyah tiba-tiba bisa mengucap kata itu. Seseorang akan mengatakan kebenaran dalam keadaan terdesak. Jadi, itulah perasaan dia yang sebenarnya.


Aisyah kini yakin dan mantap kepada David. Tidak ada keraguan lagi di hatinya. Penjelasan pria itu kemarin telah merubah pandangannya.


Aisyah percaya bahwa Clara tidak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu. Apa lagi, sumua ucapan David dipertegas oleh kedua orang tuanya.


...****************...


"Bagaimana? Apakah Aisyah sudah memberi kabar?" tanya Wildan. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar David.


"Belum, Pa." David membalikkan tubuh untuk melihat ke arah sang ayah. Pria itu sedang membenarkan dasinya.

__ADS_1


"Jadi, apakah kita tetap akan ke sana?"


"Tentu saja," ucap David singkat. Namun, dia mengucapkan dengan mantap.


"Apa kamu yakin orang tua Aisyah akan menerima? Bagaimana jika mereka menolak?" Wildan mengepang tangan di depan dada.


"Percayalah padaku." David menyambar jas hitam di atas sofa. "Ayo, kita berangkat!"


David bersama orang tuanya segera meninggalkan rumah. Ya, hanya mereka bertiga yang pergi ke rumah Aisyah. Anggota keluarga Wildan tinggal di kota yang berbeda, bahkan negara yang berbeda. Berhubung acara yang mendadak, mereka tak dapat memberi kabar kepada saudaranya.


"Apa kamu sudah pernah bertemu dengan orang tua Aisyah?" tanya Nilam.


"Sudah," jawab David singkat. Dia masih fokus pada jalanan.


"Bagaimana pendapat mereka tentang kamu?" Nilam sangat ingin tahu. Pasalnya, kesan orang tua Aisyah kepada sang anaklah yang akan jadi penentu.


"Tidak ada." David menggeleng pelan.


Mendengar jawaban David, Nilam sedikit lega. Setidaknya tidak ada kesan buruk di mata orang tua Aisyah kepada sang anak. Keadaan menjadi hening setelah ucapan David hingga mereka sampai di rumah sang pujaan hati.


"Baiklah, aku akan di depan. Kamu." Wildan menunjuk ke arah sang anak, "di belakang bersama ibu."


David menganggukkan kepala. Kini, dia berdiri sejajar dengan sang ibu. Detak jantungnya kian memburu. Dia sebenarnya juga sedikit ragu karena Aisyah tak kunjung memberi kabar hingga sekarang.


Wildan mulai mengetuk pintu. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang sedang membukanya. Wanita paruh baya muncul dari balik pintu itu.


"Selamat siang." Wanita itu melirik ke arah pria yang di belakang. Dia mengingat wajah itu.


"Anda ayah hm ...." Wanita itu mencoba mengingat, tetapi tidak bisa.

__ADS_1


"Saya ayah David," ucap Wildan. Dia mencoba mengingatkan wanita itu.


"Oh, iya. Maaf, sudah tua. Banyak lupanya." Wanita itu tersenyum. Senyumnya sungguh mirip dengan Aisyah. Tentu saja, dia adalah ibu Aisyah.


"Mari, silahkan masuk!" Bu Siti mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Mereka memasuki rumah sederhana berlantaikan satu. Ruang tamunya hanya berukuran beberapa meter, tak sebanding dengan ruang tamu mereka.


Wildan memindai sekitar. Sangat rapi dan rajin, sangat baik untuk keluarga sederhana ini.


Di ruang tamu, ternyata seluruh anggota keluarga Aisyah sudah menunggu. Beberapa makanan pun sudah terhidang di meja. Wildan tersenyum tipis melihat semua itu.


"Silahkan duduk!" ucap Bu Siti. Dirinya lalu duduk di sebelah Sukiman.


Wildan beserta istri dan anaknya duduk berhadapan dengan keluarga Aisyah. Setelah Sukiman bertanya, dia segera mengungkapkan tujuannya datang ke rumah tersebut.


Percakapan kedua kepala keluarga itu terdengar sangat kaku. Tidak ada sedikit pun senyum terselip di sana. Orang-orang yang lain pun ikut merasakan ketegangan.


"Aisyah sudah dewasa. Semua keputusan kami serahkan kepadanya," ujar Sukiman.


Akhirnya David dapat mengulas senyum. Dia merasa bahwa ucapan Sukiman adalah sebuah lampu hijau untuknya.


"Bagaimana, Ais?" Sukiman menatap ke arah Aisyah.


"Ba-baik, aku mau." Aisyah menundukkan kepala. Dirinya merasa sangat gugup.


Tentu saja itu yang akan dikatakan Aisyah. David sudah dapat menebaknya. Pria itu yakin bahwa sebenarnya wanita itu cinta kepada dia.


Ingin rasanya David melompat-lompat untuk mengekspresikan kebahagiaan. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan. Dia tetap harus menjaga kesopanan di rumah orang, tidak seperti waktu itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2