Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 115. Noda kecap


__ADS_3

Udara pagi begitu sejuk, begitulah yang di rasakan orang-orang. Tapi tidak dengan Aisyah, paginya begitu pengap. Apalagi harus berdesak-desak dengan banyak orang di dalam bus.


Kini Aisyah tengah berada dalam perjalanan menuju kampus. Wajahnya terlihat cemas karena pagi tadi dia bangun kesiangan. Dia juga terpaksa melewatkan sarapannya.


"Harus bergegas nih, agar tidak telat," gumam Aisyah setelah melihat jam pada layar ponselnya.


Aisyah bergegas menuruni bus. Gadis itu sedikit berlari memasuki kampus. Outer berwarna hitam di atas lutut yang dikenakannya pun berkibar.


Dari kejauhan Aisyah melihat dua orang yang sangat dia kenali, Denok dan temannya. Tak ada pilihan lain untuknya karena itu jalan satu-satunya. Aisyah berjalan terus, melewati kedua orang itu.


"Hei, tunggu!" Denok mencengkeram kuat pergelangan tangan Aisyah.


"Apa yang kamu inginkan?" ucap Aisyah setelah menghentikan langkahnya. Dia menatap Denok tajam.


"Oh! Berani menatapku seperti itu, ya?" Denok melemparkan senyum sinisnya.


Sahabat Denok mengeluarkan sebungkus kecap dari dalam tasnya. Dia segera memberikan benda itu kepada Denok setelah membuka kecap itu. Denok tersenyum seraya memperlihatkan benda itu kepada Aisyah.


"Lepaskan aku!" Aisyah memberontak, tetapi Denok tak melepaskannya.


"Enak saja. Sudah merebut Ari dariku, sekarang dengan enaknya menyuruhku melepaskanmu." Denok menyeringai.


"Merebut? Aku tidak merebut Ari darimu. Bahkan dia bukan siapa-siapa kamu, jadi kamu tidak punya hak untuk melarangku berteman dengannya!" Aisyah sungguh merasa semakin sebal dengan Denok.


"Kamu!" geram Denok.


Denok dengan cepat menuangkan kecap ke atas kaos putih Aisyah tepat di dada. Kecap itu terus mengalir hingga batas perut. Akan tetapi, Aisyah segera menepis tangan Denok, membuat bungkus kecap itu terlempar.


Namun, Denok tersenyum puas karena kaos yang dikenakan Aisyah sudah terkena noda kecap. Dia berpikir Aisyah sudah akan dipermalukan dengan hal itu. Dia berharap itu akan membuat Aisyah segera menjauhi Ari.

__ADS_1


"Kalau kamu masih saja dekat dengan Ari, aku tidak segan-segan melakukan hal yang lebih dari ini," ancam Denok.


Tanpa menunggu jawaban dari Aisyah, Denok begitu saja pergi. Aisyah hanya bisa menatap kepergian Denok dan sahabatnya. Dia tidak ingin membuat perhitungan dengan Denok saat itu karena waktu yang tidak memungkinkan.


Aisyah berjalan cepat kembali menuju ruang kuliah. Gadis itu mencoba mengurangi noda cecap dengan tisu yang selalu ada di dalam tas. Dirasa sudah lumayan menghilang nodanya, Aisyah segera merapatkan outer untuk menutupi. Akan tetapi, masih nampak sedikit di bagian atas dada.


Semoga tidak ada yang menyadarinya, batin Aisyah.


Aisyah masuk ke ruangan. Di dalam, semua mahasiswa sudah duduk di tempatnya. Aisyah berjalan di antara mereka. Ada beberapa yang memeperhatikannya, tetapi dia abaikan. Mereka mulai mencibir pakaian yang dikenakan Aisyah.


"Baju kamu kenapa, Aisyah?" tanya teman Aisyah yang berada di sampingnya.


"Tidak. Ini saat di bus, ada anak kecil yang sedang makan, lalu makanannya terlempar ke arahku." Aisyah menutupi kebenaran.


"Kenapa tidak ganti baju?" Temannya mengernyitkan dahi.


"Aku tidak membawa baju ganti." Aisyah memperlihatkan gigi putihnya.


"Tak masalah. Terima kasih atas perhatiannya," ucap Aisyah seraya tersenyum manis.


Suara orang-orang yang mencibir Aisyah masih menggema di ruangan itu. Hingga dosen masuk ke dalam ruanngan, mereka baru menghentikan suara gemuruh yang mereka buat. Kemudian, sang dosen memulai pelajaran.


Pelajaran yang menyenangkan bagi Aisyah karena sang dosen memberikan materi dengan cara ringan. Aisyah mudah memahaminya. Tanpa terasa waktu berlalu, beberapa kelas pun telah usai. Kini waktunya istirahat siang.


"Aisyah, sekali-kali makan bareng kami, yuk!" ajak teman Aisyah.


"Tidak ah. Aku lebih suka makan di taman. Di sana lebih tenang. Lagi pula aku juga bawa bekal," tolak Aisyah lembut.


"Baiklah." Sang teman pergi meninggalkan Aisyah.

__ADS_1


Aisyah berjalan menuju taman. Gadis itu melihat seorang pria tengah duduk di tempat biasa dia duduk. Ternyata, di sana Ari sudah menunggu.


Ya, Aisyah memang mengajak Ari untuk makan bersama siang itu. Aisyah ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Ari. Dia akan memberi keputusan atas pertanyaan Ari saat itu.


"Ari!" sapa Aisyah setelah berada di dekat Ari.


"Hei!" Ari tersenyum ke arah Aisyah.


Aisyah segera duduk di samping Ari. Jantungnya berdegub kencang. Dia berharap, Ari mau menerima keputusan yang di berikan Aisyah.


Aisyah mengeluarkan dua kotak makan. Satu kotak untuk Ari, sedangkan satunya lagi untuk dirinya. Aisyah mengulurkan kotak itu kepada Ari.


Ari menerimanya dengan senang hati. Untuk yang kedua kalinya dia memakan masakan Aisyah. Sungguh rejeki nomplok menurutnya karena bisa merasakan lagi masakan Aisyah yang begitu enak.


"Terima kasih, Aisyah."Ari membuka kotak nasi itu.


"Wow! Nasi rendang." Air liur hampir menetes dari mulut Ari. "Kamu bisa membuat rendang juga, ya?"


"Selama mau belajar, pasti bisa. Kamu pasti juga bisa, kok." Aisyah tersenyum ke arah Ari.


Mereka mulai menyatap makanan yang ada di hadapan sembari bercakap. Hanya basa-basi yang mereka perbincangkan. Aisyah belum berani mengatakan yang sebenarnya, takut jika Ari marah.


Aisyah, kamu harus mengatakannya segera. Jangan membuat Ari menunggu! Karena keputusan ini sangat di tunggu Ari, batin Aisyah.


"Ari!" Aisyah mencoba memberanikan diri.


Ari menoleh ke arah Aisyah dengan wajah bertanya-tanya. Dia melihat wajah Aisyah yang begitu serius, membuatnya semakin heran. Kedua alis Ari menyatu.


"Sebenarnya ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2