Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 117. Kata cinta David


__ADS_3

Di sisi lain taman, seseorang telah menatap Aisyah dan Ari sedari tadi. Semakin lama orang itu menatap, maka dadanya semakin bergemuruh. Dia juga bingung kenapa itu terjadi.


Orang itu sudah tak bisa menahan lagi karena sepasang orang yang sedang makan siang bersama itu kelihatan bahagia. Orang itu bangkit dari duduknya, kemudian menatap wanita di sebelahnya.


"Kamu pergi saja dulu. Aku ada urusan!" ucap orang itu.


"Tapi ..." protes wanita itu terhenti karena orang yang diprotes telah meninggalkannya. Dengan kesal wanita itu juga pergi.


Orang itu menuju ke tempat di mana Ari dan Aisyah makan. Dengan langkah lebar dan kasar dia bergegas ke sana. Semakin tak sabar di rasanya karena semakin jelas dia melihat kedekatan mereka.


"Hei! Kamu pergi dari sini! Aku ingin berbicara dengan Aisyah." Tunjuk orang itu pada Ari.


Seketika dua orang itu menoleh ke arah sumber suara. Mereka terkejut bersamaan. Ari kaget karena takut, sedangkan Aisyah merasa kesal. Ari hendak bangkit dari duduknya, tetapi Aisyah menahannya.


"David! Apa-apaan kamu, seenaknya menyuruh orang pergi," geram Aisyah akan sikap David.


"Aisyah, kamu sudah tahu siapa aku, 'kan?" tanya David dengan nada lebih lembut dari tadi.


"Tahu! Memangnya kenapa? Tak sepatutnya kamu menyalah gunakan nama orang tuamu untuk menindas orang. Kalau mereka mengetahui ini, pasti mereka akan menyesal mempunyai anak sepertimu," ucap Aisyah seraya melihat David dengan sebelah mata.


David menyeringai, tak menyangka bahwa wanita dihapannya begitu berani. Hal itu membuatnya tertantang untuk semakin mendekati Aisyah. Dia ingin tahu apa yang bisa membuat Aisyah takluk.


"Kalau mereka menyesal, mereka pasti tidak akan melahirkanku," ucap David santai. " Sudah! Aku tidak ingin bahas orang tua lagi. Yang aku ingin, pria ini pergi dari sini." David menatap Ari tajam.


"Aku pergi saja Aisyah. Mungkin ada hal penting yang ingin Kak David bicarakan denganmu." Ari menutup tempat makan, lalu beranjak dari duduknya.


Tanpa menunggu jawaban dari Aisyah, Ari begitu saja pergi dengan kotak makan di tangannya. Aisyah pun sedikit kecewa karena Ari pergi meninggalkannya bersama David. Aisyah hanya diam melanjutkan makannya.


David duduk di sebelah Aisyah. Menatap Aisyah dengan penuh kemenangan. Pandangan David turun ke kotak makan yang ada dipangkuan Aisyah. David tiba-tiba merebut sendok Aisyah, lalu mengambil satu irisan rendang. David memasukan irisan rendang itu ke dalam mulutnya.


"Kamu!" Aisyah menatap David tajam. Dia sungguh tidak menyangka bahwa pria itu mau mengambil makanan dengan sendoknya.


"Hm ... enak sekali masakanmu. Makanya pria itu membawa pergi makanan yang kamu beri. Dia tidak ingin menyia-nyiakan masakanmu ternyata," ucap David dengan irisan daging masih di dalam mulutnya.


"Besok aku juga mau dibawakan makanan seperti ini," ucap David setelah menelan makanannya.

__ADS_1


"Ini saja untukmu, aku sudah tidak mau lagi." Aisyah menyerahkan kotak makannya kepada David.


"Kenapa? Apa karena aku memakai sendoknya tadi?" tanya David tanpa menerima kotak makan Aisyah.


"Iya. Aku jadi tidak berselera makan lagi karena itu." Aisyah semakin mendorong kotak makannya ke arah David.


"Hei! Aku tidak membawa virus. Jadi, jangan khawatir. Kamu akan baik-baik saja. Hanya virus cinta yang aku bawa." David mengerling nakal pada Aisyah.


Aisyah hanya memutar bola mata. Dia merasa jijik dengan apa yang dilakukan David.


"Sudah! Ini terima saja. Jadi, besok-besok aku tidak susah-susah membawakanmu lagi makanan." Aisyah menaruh kotak nasi di pangkuan David karena pria itu tak kunjung menerimanya.


"Tidak bisa. Kamu tetap harus membawakanku makanan." David meraih sendok di hadapannya.


Aisyah hanya mencibir tak jelas akan ucapan David. Dia tidak menanggapi ucapan pria itu karena tidak ingin memperpanjangnya lagi. Aisyah begitu malas jika berbicara dengan David.


David mulai memasukan makanan yang telah dimakan Aisyah sebagian. Dari ekspresi wajahnya, David begitu nampak menikmati masakan itu. Pria itu makan perlahan karena menikmatinya.


Aisyah melirik ke arah David karena tidak mendengar pria itu mengoceh lagi. Gadis itu terkesima melihat cara David makan. Begitu tenang dan tak terlihat jijik walau itu makanan sisa.


Aisyah segera tersadar, lalu menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak!"


"Jangan bohong kamu. Kau melihatnya sendiri. Pasti kamu mulai terpesona oleh ketampananku." David menaikkan dagunya.


Aisyah segera memalingkan wajahnya dari David. Dia tak menyangka akan ketahuan oleh pria itu. Sungguh Aisyah sangat merasa malu.


"Jangan terlalu percaya diri, ya kamu.Aku cuma heran, kenapa kamu mau makan sisa makanannku. Padahalkan kamu bisa beli makanan seperti itu sebanyak kamu mau," ucap Aisyah mengalihkan perhatian David.


"Bisakah aku membeli padamu?" tanya David.


"Tidak mau," tolak Aisyah tegas.


"Nah. Bagaimana aku membeli kalau kamu tidak mau. Jadi aku makan saja ini." David kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Di tempat lain kan bisa. Kenapa harus aku?" tanya Aisyah heran.

__ADS_1


"Apakah tempat lain bisa seenak ini?" tanya David lagi setelah menelan makanannya.


Aisyah mangangkat kedua bahunya seraya menyatukan alisnya. "Kalau beli di restoran berbintang, pasti lebih enaklah. Ini hanya masakan rumahan biasa yang dibuat oleh orang biasa."


"Tidak. Ini makanan terenak yang pernah aku makan." David mengangkat sesendok nasi dengan irisan rendang di atasnya. "Cita rasa yang begitu membuat orang ketagihan." Pria itu kemudian memasukannya ke dalam mulut.


"Ish." Aisyah mencibikan bibirnya.


David menatap Aisyah karena mendengar gumaman yang tidak jelas dari arah gadis itu. Pria itu menyipitkan matanya ketika melihat noda di dada Aisyah.


"Kenapa itu?" David menunjuk pada dada Aisyah dengan sendok masih di tangannya.


Aisyah seketika menutupi apa yang ditunjuk oleh David. Dia merasa risih karena David menunjuk tepat di dadanya. Merasa David bertanya dengan kesungguhan, Aisyah akhirnya menjelaskan apa yang terjadi padanya tadi pagi.


"Oh,wanita itu lagi. Sebenarnya, apa sih yang dia mau?" tanya David heran karena beberapa kali dia melihat Aisyah berdebat dengan wanita itu.


"Dia suka pada Ari, jadi dia tidak suka kalau aku dekat dengan Ari," jelas Aisyah.


"Ya sudah, kamu jauhi saja dia." ucap David enteng.


"Enak saja kalau ngomong. Dia itu satu-satunya temanku sejak dulu di kota ini. Hanya dengannya, aku merasa aman di kota ini. Jadi, aku tak mungkin menjauhi dia." jelas Aisyah.


"Aku juga bisa membuatmu aman. Untuk itu, aku ingin kamu bersamaku," ucap David sungguh-sungguh seraya menatap Aisyah.


Aisyah melihat keseriusan dalam ucapan David. Gadis itu seketika terpaku. Tak pernah dia melihat David yang begitu seserius itu kepadanya, hingga membuat Aisyah tak bisa berkata-kata.


"Jangan bicara sembarangan! Cepat selesaikan makannya! Kelas hampir dimulai lagi nih," seru Aisyah yang menjadi salah tingkah.


David menangkap tingkah Aisyah itu. Sungguh lucu menurut pria itu. Sehingga dia tak mampu menahan tawanya.


"Ha-ha-ha. Kamu lucu sekali." David menyeka air matanya.


Aisyah seketika mengerucutkan bibirnya. Dirinya merasa dibodohi oleh David. Gadis itu sungguh menyesal karena telah percaya pada pria playboy itu. Aisyah segera menarik tempat makan yang ada di tangan David. Pria itu menahannya sebentar karena tinggal sesuap, dia segera memasukkan ke dalam mulut.


David tersenyum tipis setelah Aisyah pergi. Dia tak menyangka, Aisyah begitu imut saat seperti itu. Ada satu perasaan aneh yang kini menghinggapinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2