Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 180. Kekecewaan Dua Hati


__ADS_3

Clara berjalan begitu cepat menuju kamar David. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria itu. Setelah keluar dari bandara, dia segera menuju kediaman Maulana.


"Kak David, aku dengar kamu akan menikah. Benarkah?" tanya Clara.


David kaget dengan kedatangan Clara yang tiba-tiba. Dia yang baru saja selesai mandi pun panik. Dengan segera pria itu memakai kaos.


"Masuk tidak ketuk pintu dulu. Bagaimana kalau aku tadi lagi bu9il?" tanya David. Dia tidak suka dengan cara Clara datang.


"Aku tidak peduli. Jawab saja pertanyaanku!"


"Kalau iya, memang kenapa?" David menaikkan kedua alisnya.


"Dengan siapa? Aisyah?" Clara memeluk lengan David. Dia merengek kepada pria itu.


"Tentu saja!" jawab David singkat dan jelas. Senyum tampak di wajahnya.


Clara menghentakkan kakinya. Dia begitu tidak suka dengan ekspresi wajah David. Ingin rasanya mencubit wajah yang sedang senang itu.


"Kenapa dengan dia? Kenapa tidak denganku saja?"


"Mana mungkin aku menikah denganmu. Kamu, 'kan, adikku?" David mengerutkan dahinya.


Pria itu merasa heran dengan pertanyaan Clara. Bukankah selama ini mereka menganggap sudah seperti kakak beradik. Walaupun sesungguhnya, dia tahu kalau wanita itu menyukainya. Namun, mau bagaimana lagi, dirinya hanya menganggap hubungan mereka sebatas itu.


"Tapi, 'kan, tidak sekandung? Kamu juga tahu sendiri kalau aku suka sama kamu." Clara menyandarkan kepalanya di lengan David.


David membelai lembut rambut Clara. "Clara, maafkan aku. Bukannya aku tidak tahu, tapi aku hanya menganggapmu adik. Aku tidak bisa memaksakan hati ini untuk mencintaimu."

__ADS_1


"Clara, kamu sudah datang?" tanya Wildan. Pria itu sedikit terkejut akan kedatangan wanita itu. Setahu dia, Clara akan datang dua hari lagi.


Tidak menjawab pertanyaan Wildan, Clara malah menghampiri pria itu. Dia segera merengek kepada ayah David.


"Kenapa Om nikahin Kak David dengan orang lain?" tanya Clara.


"Clara, maafkan om. David sudah dewasa, jadi om tidak bisa memaksanya." Wildan menatap sayu ke arah Clara. Dia begitu menyesal dengan semua ini.


"Om, begitu! Tidak sayang Clara!" Lagi-lagi Clara merajuk kepada Wildan.


"Om sayang sama kamu. Om yakin, kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari David. Tidak bren9sek seperti dia." Wildan menujuk David dengan dagunya. Tangannya membelai lembut kepala Clara.


David yang mendengar ucapan Wildan hanya menarik sebelah ujung bibirnya. Bisa-bisanya dia dikatakan seperti itu oleh sang ayah. Akan tetapi, tak masalah baginya. Itu hanyalah cara untuk membujuk Clara.


Benar saja, Clara segera tenang. Dia tak lagi merengek. Senyum terpancar di wajahnya saat menatap David.


Dasar, masih kecil. Dibujuk begitu saja sudah percaya, batin David.


...****************...


Satu bulan kemudian, Riski tengah duduk termenung di dalam kamar. Pikirannya kosong, tidak ada semangat lagi pada dirinya. Hidup pun merasa tak berguna.


"Riski," panggil Laela lembut. Namun, sang anak tak bergeming, masih dalam lamunannya.


Laela berjalan menghampiri sang anak. Dia duduk di sebelah ananknya, lalu membelai lembut punggung pria itu. Wanita itu sungguh merasa kasihan kepada pria di sampingnya yang terlihat begitu kacau.


"Sudahlah, Ris. Kamu jangan seperti ini. Bunda sedih melihatmu begini." Laela menatap Riski sendu.

__ADS_1


"Kamu masih punya masa depan panjang. Tidak pantas kamu seperti ini hanya karena satu wanita. Masih banyak wanita di luar sana yang mau sama kamu."


Laela mencoba memberi semangat kepada Riski. Dia berharap sang anak dapat bangkit lagi dan merelakan semua yang telah terjadi. Namun, pria itu tak memberi respon sama sekali.


Laela menghembuskan nafas panjang akan sikap Riski. "Ayo, sekarang kita berangkat!"


Laela menarik lengan Riski. Dia mengajak pria itu untuk meninggalkan kamar. Akan tetapi, sang anak masih saja diam, tidak beranjak dari tempatnya.


"Kamu tetap harus pergi ke sana, Riski. Perusahaan ayahmu punya kerjasama dengan keluarga dia. Kalau kita tidak hadir, bagaimana nanti kerja sama kita?"


Laela mencoba mengingatkan tentang bisnis yang terjalin di antara mereka kepada Riski. Wanita itu tidak ingin hanya karena sanga anak, kerja sama itu rusak. Jadi, dia terus saja membujuk sang anak supaya pergi ke acara itu.


Namun, pikiran Riski masih belum fokus. Dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan ibunya. Di pikirannya yang ada hanyalah kehancuran hati.


"Riski, ibu lelah membujukmu setiap hari!" Laela mulai tersulut emosi. "Biar ayahmu yang ke sini untuk membujukmu!"


Laela bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki. Tiba-tiba tangannya di tahan oleh Riski. Dia berhenti, kemudian menoleh ke arah sang anak.


"Baiklah, aku akan ikut." Riski berdiri, kemudian mengambil jas di dalam lemari.


Riski malas jika ayahnya sudah maju. Pasti dirinya tidak bisa menang melawan sang ayah. Melihat tatapan pria itu saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.


Riski berjalan keluar rumah diikuti Laela. Sedangkan, Doni sudah duduk di belakang stir mobil. Sang ayah tidak mengijinkan anaknya untuk memegang mengemudi dalam kedaan kacau seperti itu. Takutnya nanti malah mereka semua bisa berada dalam situasi yang tidak diinginkan.


Mereka bertiga saling berdiam diri di dalam satu mobil. Tidak ada satu kata pun terucap di sana. Kedua pria yang duduk di depan, berada dalam pikiran masing-masing.


Suasana pun serasa di kutub, begitu dingin. Laela yang duduk di belakang pun malas jika situasi seperti itu. Dia memilih untuk memainkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2