
Malam telah larut, Aisyah telah turun dari motor Lina. Setelah memastikan Lina meninggalkan gang, Aisyah segera masuk ke kosannya. Dia berjalan gontai menuju kamar kos.
Aisyah melemparkan tas ke sudut kamar setelah berada di dalam. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sungguh segar rasanya air yang mengalir di seluruh tubuhnya, menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas.
Aisyah keluar kamar mandi dengan menyusap rambutnya menggunakan handuk kecil. Gadis itu duduk di tepi kasur yang langsung bersentuhan dengan lantai. Dia meraih tas, lalu mengambil ponsel di dalamnya.
"Aku tidak melakukan transaksi apa pun hari ini, kenapa ada pemberitahuan," gumam Aisyah heran.
Aisyah segera memencet pemberitahuan dari aplikasi sebuah Bank itu. Gadis itu membuka mata lebar ketika melihat angka yang menurutnya banyak telah dikirim ke nomor rekening itu. Aisyah segera menutup aplikasi itu, mencari nomor seseorang yang telah mengirim uang tersebut.
"Assalamualaikum." Suara Aisyah sedikit bergetar.
Orang yang barada di seberang telepon tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Dia tidak percaya bahwa malam itu Aisyah meneleponnya. Hatinya sungguh senang tidak terkira.
"Halo," ucap Aisyah pelan karena sudah malam, takut menganggu penghuni kos lain.
"Halo." Aisyah mengulanginya karena belum mendapat jawaban.
"Halo!" Aisyah sedikit mengeraskan suaranya.
Suara Aisyah menyadarkan orang itu dari lamunan. "Eh! Waalaikumsalam."
Ya, dia adalah Riski. Orang yang selalu menanti kabar baik dari Aisyah.
__ADS_1
"Aisyah, aku senang sekali akhirnya kamu meneleponku. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa kamu akan meneleponku," ucap Riski dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mau langsung intinya saja. Tujuanku menelepon, Kakak, adalah untuk menanyakan kenapa Kakak mengirimi aku uang?" Aisyah berbicara penuh dengan penekanan.
Riski hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Sebenarnya, dia sudah tahu bahwa Aisyah pasti akan bertanya tentang hal itu. Riski sudah mempersiapkan kata-katanya karena dia begitu gugup ketika berbicara dengan Aisyah saat ini.
"Aku tahu, pasti kamu penasaran dengan hal itu. Aku kasihan melihatmu bekerja begitu keras untuk membiayai kebutuhanmu di sana. Aku sungguh tak tega. Jadi, aku berinisiatif untuk mengirimimu sejumlah uang agar kamu tak perlu bekerja lagi," jelas Riski.
"Aku tak apa bekerja, aku sudah biasa. Lagipula, Kak Riski bukan siapa-siapaku lagi. Jadi, tak payahlah, Kakak, memberiku uang!"
"Tapi, kalau kamu bekerja sambil kuliah, kamu bisa kelelahan. Nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan merawatmu?"
"David ...." Aisyah segera menghentikan kata-katanya. Dia merasa telah salah menyebut nama.
"David? Oh, pria yang waktu itu tiba-tiba mengajakmu pergi, juga yang menjemputmu di pagi hari itu?" Riski sungguh tak percaya akan jawaban Aisyah.
"I-iya benar," jawab Aisyah terbata.
"Kenapa harus dengan pria itu? Apa menurutmu dia pria baik? Apakah dia lebih baik dariku?" Riski tak terima atas jawaban Aisyah.
"Iya," jawab Aisyah singkat. Sesungguhnya, Aisyah belum mengenal lebih jauh tentang David. Dia hanya mengatakan seperti itu supaya Riski berhenti mengejarnya.
"Kalau dia memang baik, kenapa juga masih membiarkanmu bekerja keras? Bukankah dia putra dari donatur terbesar di kampusmu?"
__ADS_1
Aisyah diam sejenak, memikirkan jawaban yang terbaik supaya Riski percaya.
"Walau dia putra dari donatur terbesar di sini, bukan berarti aku harus memanfaatkannya, 'kan? Aku masih punya harga diri dan bekerja adalah keinginnanku. Aku ingin merasakan bagaimana kerasnya kehidupan agar aku bisa memetik hikmah dari itu." Aisyah lega setelah mengatakannya.
"Apapun yang kamu katakan, aku akan tetap memberi uang. Aku tak tega membayangkan kamu bekerja setiap hari dan pulang larut malam," kekeh Riski.
Aisyah tahu bahwa Riski orang yang sangat sulit untuk dilarang. Kini dia tak bisa berbuat apa-apa. Aisyah pun menghembuskan nafas panjang. Gadis itu mencari cara lain untuk mengatasi Riski.
"Terserah, Kak Riski. Aku akan mengembalikan uang pemberian, Kakak!"
Aisyah segera memutuskan sambungan telepon. Dia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Riski. Gadis itu tak ingin Riski mengambil kesempatan itu untuk merayunya.
Aisyah meletakkan ponselnya di sampil bantal. Dengan segera gadis itu merebahkan tubuhnya yang lelah. Dia memandang jauh entah kemana.
"Bagaimana caraku mengembalikan uang Kak Riski? Sedangkan, aku tak tahu bagaimana caranya men-transfer uang. Apakah aku harus bertanya kepada Ari?" gumam Aisyah.
Sungguh Aisyah memang tak tahu cara men-transfer uang. Saat pembayaran kuluah saat itu, dia meminta tolong kepada teman kerjanya. Akan trtapi, kali ini dia sedikit sungkan untuk meminta tolong.
Sedangkan di atas ranjang sebuah kamar yang luas, Riski masih saja menatap foto profil kontak Aisyah. Hatinya sangat senang karena bisa melihat foto profil Aisyah lagi.
Aisyah, aku tak 'kan pernah putus asa untuk membawamu kembali, batin Riski dengan senyum kepercayaan diri.
Riski meletakkan ponsel di atas nakas. Pria itu menatap langit-langit di rumahnya. Senyum senantiasa merekah di wajah Riski.
__ADS_1
Bersambung.