Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 148. Satu Lawan Lima


__ADS_3

"Hi, Cantik."


Aisyah membuka mata lebar. "Mau apa kamu?"


Aisyah tahu dari gelagatnya, pria itu bukan orang baik-baik. Dengan tubuh kekar dan bertato, sang pria mengintimidasi sang gadis. Gadis itu memeluk erat tas yang ada di pangkuannya.


"Jangan takut. Aku cuma mau nemenin kamu, mumpung priamu pergi." Pria itu duduk di kursi sebelah Aisyah.


"Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum David datang!" usir Aisyah kepada pria itu. Jari telunjuknya menunjuk ke sembarang arah, mengisyaratkan agar pria itu pergi.


Nada bicaranya juga tidak terlalu tinggi agar tidak mencuri perhatian orang-orang di sekitar. Karena posisis tempat itu juga di pojokan, sehingga tidak ada yang tahu aktivitas mereka.


"Jangan galak-galak begitu! Nanti cantiknya hilang. Lagi pula, cowokmu itu pasti tidak berani sama aku," ucap pria itu sombong.


"Aku di sini cuma mau kenalan. Boleh minta nomor telepon tidak?" Pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.


"Tidak!" tolak Aisyah. Gadis itu mencoba mengabaikan sang pria dengan menatap lurus ke depan.


Tanpa Aisyah sadari, pria itu meletakkan tangan di atas senderan kursinya. Jika dilihat dari belakang, seolah-olah gadis itu di peluk.

__ADS_1


Tiba-tiba kursi yang diduduki pria itu tergelebak ke belakang. Aisyah sontak berdiri karena kaget. Dilihatnya kini David dengan mata merah siap menerkam pria itu.


Pria itu berdiri, lalu memasang kuda-kuda sambil melompat-lompat. "Kamu berani dengan aku?"


Pria itu mengarahkan tinjunya ke pipi kiri David. Namun, David dengan mudah menghindarinya. Kini kaki pria itu melayang menuju perut lawan. Dengan secepat kilat sang lawan menangkap kaki itu, lalu diputar, membuat pria itu jatuh ke tanah.


Aisyah pergi menghindar dari tempat sedikit jauh. Dia tidak ingin pertarungan itu melukainya. Dia juga tidak menyangka bahwa David mampu melawan pria itu.


Namun, tiba-tiba dari belakang ada yang mengunci tangan David. Langkah pria itu terhenti. Kemudian tiga orang yang lain mengerubuninya.


Pria yang telah dihajar David, meludah ke tanah. Dengan senyum menghina, perlahan dia maju menghampiri David. "Sekarang kamu tak bisa bergerak, bukan?"


David hanya tersenyum kecut. Dia sangat membenci pria itu karena telah menggoda Aisyah. Sorot mata kebencian tidak dapat disembunyikan.


Tubuh David terhempas ke kanan,darah mengalir dari ujung bibirnya. Hal itu membuat pria yang menguncinya sedikit kehilangan pegangan, lalu tak disia-siakannya. Dia berbalik mengapit tangan pria itu di ketiak. Dengan sedikit membungkuk, di lempar tubuh yang berada di belakangnya ke depan.


"Beraninya kamu! Ayo, hajar dia!" perintah pria bertato itu.


Semua orang maju bersamaan. Karena mereka hanya preman kampung, dengan mudahnya pria itu menghindari satu-persatu serangan lawan. Sesungguhnya dia pemegang sabuk hitam di dunia pencak silat.

__ADS_1


Lawan tak sebanding jumlah, akhirnya David mendapat pukulan di bagian perut. Pria itu mundur beberapa langkah akibat pukulan itu. Walaupun sakit, pria itu menahannya dan terus melanjutkan perkelahian.


Banyak orang yang meninggalkan tempat itu. Ada juga beberapa yang masih tinggal untuk melihat pertarungan itu. Akan tetapi, mereka tidak berani melerai karena tidak ingin ikut campur dan mencari masalah.


Akhirnya, semua lawan tidak ada yang menyerang lagi. Meraka memegangi masing-masing bagian tubuh yang sakit. Tubuh David pun nampak luka-luka di beberapa bagian. Semua nampak karena kini baju pria itu koyak pada bagian yang luka itu.


"Cafe di bukit. Cepat bereskan!"


Setelah menutup telepon, David menarik kasar lengan Aisyah. Pria itu membawa sang gadis meningalkan Cafe yang kini telah berantakan. Dia melajukan mobil menyusuri jalan raya.


Aisyah begitu takut sehingga tidak berani mengeluarkan satu kata pun. Dirinya tahu bahwa pria di sampingnya masih dipenuhi amarah. Dia hanya menundukkan kepala dan cemas dengan apa yang akan dilakukan David selanjutnya.


Mobil memasuki halaman rumah megah yang membaut mata Aisyah tak berhenti mengaguminya. Dulu, menurutnya rumah Riski sudah megah, tetapi ini lebih berkalilipat dari itu. Hati gadis itu pun bertanya, inikah rumah David? Sungguh sekaya inikah? Aku pikir hanya bisa bertemu dengan orang seperti itu di dunia novel.


Tapi tunggu, untuk apa dia membawa aku kerumahnya? Bayangan menakutkan tiba-tiba melintas di pikiran Aisyah. Wajah gadis itu seketika berubah warna.


Ketakutan Aisyah semakin menjadi ketika David membawanya menuju sebuah kamar. Tubuhnya dilempar ke atas ranjang berukuran jumbo di tengah ruangan. Jatung pun berdetak tak beraturan, membayangkan apa yang mungkin akan terjadi.


Perlahan wajah David mendekati wajah Aisyah. Terlihat sekali mata pria itu masih dipenuhi amarah. Nafasnya pun sangat jelas terdengar, begitu cepat dan saling susul-menyusul.

__ADS_1


"Ma-maafkan a-aku."


Bersambung.


__ADS_2