
"Ma-maafkan a-aku."
David tidak menghiraukan ucapan Aisyah. Kini wajah pria itu tepat berada di depan wajah sang gadis. Sangat dekat, hanya berjarak beberapa senti. Nafasnya pun terasa menyapu wajah Aisyah, sangat hangat.
"A-apa yang ingin kamu lakukan?" Aisyah sangat ketakutan. Di dalam kamar berdua dengan pintu terkunci, siapa yang tidak takut? Bayangan yang aneh-aneh melintas di dalam benak gadis itu.
"Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan," ucap David dengan senyum menyeringai.
"Aku tidak menginginkan apa pun. Menyingkir dari atasku!" Aisyah mendorong tubuh David. Akan tetapi, dorongannya tidak berarti apa pun bagi pria itu.
"Benarkah? Kamu memakai baju ini agar dapat memperlihatkan leher putihmu itu, 'kan? Agar pria di sana tadi datang menggodamu, 'kan?"
"Tidak! Semua tidak seperti yang kamu lihat!" teriak Aisyah.
"Tapi, sepertinya seperti itu. Aku juga bisa melakukan itu! Dan akan aku kabulkan permintaanmu itu, sekarang!" Seringai David semakin lebar. Dia siap menerkam mangsanya.
Di bawah kungkungan David, Aisyah terus berusaha memberontak. Kemudian, pria itu semakin merapatkan tubuhnya untuk mempersempit pergerakan Aisyah. Kini hanya tangan gadis itu yang membatasi tubuh mereka.
"David, jangan! Aku mohon." Tanpa terasa genangan air mata mulai turun membasahi pipi. Aisyah tidak pernah membayangkan semua ini akan terjadi padanya. Dia kini hanya bisa merutuki kebodohannya.
"Tenang saja, pasti kamu akan menyukainya."
Tiba-tiba kepala David menyelinap di leher Aisyah, lalu menyesapnya dengan kuat. Seperti menyedot daging koeng dalam cangkang. Memberikan sensasi rasa sakit yang teramat.
__ADS_1
"David, hentikan!" Suara Aisyah melemah. Isakan mulai terdengar dari mulut gadis itu. Dia menutup mata tak berdaya, menahan sakit di hatinya.
Beberapa detik kemudian, hisapan David mulai melemah, lalu terlepas. Tekanan terhadap tubuh sang gadis pun meregang. Pria itu mengangkat tubuhnya, kemudian duduk di sisi ranjang.
"Sial!" desisnya seraya mengacak-acak rambut.
David menopang dahi dengan tangan, lalu memejamkan mata untuk menenangkan diri. Dia nampak frustasi dengan apa yang telah dilakukannya. Entah, setan apa yang merasukinya hingga dia hendak melakukan hal senekat itu.
Aisyah perlahan membuka mata. Dia melirik ke arah pria di sampingnya. Walaupun masih terisak, tetapi kini dia sedikit lega. Wanita itu tidak tahu apa yang membuat David menghentikan aksinya.
"Maaf." Suara lirih keluar di antara sela-sela bibir David.
Beberapa saat Aisyah menghentikan suara tangis yang tertahan itu. Dia tak habis pikir, kenapa David bisa berkata maaf setelah ingin melakukan hal itu kepadanya. Hatinya pun semakin sakit. Suara tangis tak bisa ditahan lagi dan air mata semakin deras membanjiri pipi.
David menggenggam lembut tangan Aisyah. "Maafkan aku. Aku terlalu terbakar cemburu tadi."
David membelai pipi Aisyah. Tangannya mengusap cairan bening yang masih mengalir walaupun tidak sederas tadi. "Kamu tahu, 'kan, aku sangat mencintaimu?"
Aisyah menganggukan kepala. Dia sadar betul akan perasaan David terhadapnya.
"Untuk itu, aku sangat tidak suka saat orang lain mendekatimu. Apalagi sampai memeluk pundakmu."
Apa? Pria tadi memeluk pundakku? Aku tidak tahu itu. Pantas sekali dia begitu marah, batin Aisyah. Dia baru mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi."
Suara tangisan Aisyah mulai teredam. Dadanya pun perlahan lega. Dia sekarang mengerti mengapa David semarah itu.
"Aku takut," ucap Aisyah lirih. Suaranya masih kelihatan bergetar.
"Jangan takut lagi! Aku berjanji tidak akan melakukan hal senekat tadi lagi," ujar David sungguh-sungguh. Dia sangat menyesali apa yang telah dilakukannya.
"Ayo! Aku antar kamu pulang sekarang." David membantu Aisyah untuk duduk. Matanya sendu seperti terus mengucapkan permintaan maaf kepada gadis itu.
Setelah berhasil duduk di tepi ranjang, Aisyah mulai merapikan rambutnya dengan jari. Sesekali dia melirik ke arah David yang berada di sampingnya. Dia baru menyadari bahwa tubuh pria itu yang penuh luka.
Mata Aisyah memindai seluruh tubuh David, ada beberapa luka terbuka di tubuh kekar itu. Hati kecilnya pun tergerak. Walaupun dirinya membenci David, tetapi dia tetap tidak tega melihat pria itu yang terluka.
"Lukamu harus segera diobati." Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya tubuh itu saat terkena pukulan. Warna kulit yang awalnya putih, kini menjadi berwarna-warni, hitam, ungu, bahkan merah oleh darah.
"Aku ambilkan air hangat dulu." Aisyah berdiri, lalu segera melangkahkan kaki. Namun, saat berada di depan pintu, dia berhenti, lalu kembali.
"Aku tidak tahu letak dapur di rumahmu ini. Lagi pula, kalau nanti ada orang yang melihatku, bagaimana? Nanti aku dikira maling lagi." Aisyah menghampiri David.
David menepuk dahi. Dasar, wanita ini! Terlalu bersemangat sehingga tak bertanya dulu, batinnya.
Bersambung.
__ADS_1