
Aisyah berjalan menyusuri jalan kampus dengan wajah tertunduk. Dia tidak berani menatap sekitar. Belum siap dengan ekspresi orang-orang di sekitar.
Benar saja, sayup-sayup terdengar mereka membicarakan Aisyah. Walaupun tidak begitu jelas, tetapi gadis sangat yakin. Setelah bersama David, semua orang tahu siapa itu Aisyah. Jadi, tidak heran jika mereka membicarakannya.
Aisyah tahu jika yang dilakukannya tidak benar. Namun, mau bagaimana lagi, keadaan yang meminta. Mungkin dengan kejadian kemarin, Allah meminta dirinya untuk berubah. Tapi, menurutnya tidak buruk juga.
"Aisyah?" tanya seorang wanita. Dia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
"I-iya, Din." Aisyah tersenyum kaku.
"Ini beneran kamu?" tanya orang yang dipanggil 'Din' tadi masih tidak percaya. Dia adalah Dinda, teman satu fakultas Aisyah. Gadis itu lumayan dekat dengan Aisyah sejak pertama masuk kuliah.
"Memang siapa lagi?" Aisyah menundukkan kepala karena malu.
"Kamu cantik banget. Aku sampai pangling."
"Terima kasih. Tidak usah sampai segitunya."
"Beneran, Aisyah. Kamu sangat cantik. Memang, hijab menambah nilai plus pada seseorang."
Kini Aisyah mengenakan hijab. Selain menutupi tanda merah, itu juga karena kewajiban. Dia menyadari betapa pentingnya menutup aurat. Kejadian kemarin merupakan peringatan buat dirinya.
Setelah mendapat semangat dari Dinda, Aisyah kini mulai percaya diri. Gadis itu mulai berani menatap ke depan. Karena berhijab bukan merupakan suatu halangan.
Dua kelas telah selesai, kini waktunya istirahat siang. Untuk pertama kalinya Aisyah menerima ajakan Dinda untuk makan bersama di kantin. Selama dia kuliah di sana, belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di kantin.
Tadi pagi Aisyah kesiangan sehingga tidak sempat memasak. Lagi pula, sesekali merasakan masakan kantin boleh juga. Selain itu, dia juga ingin mentraktir temannya itu. Mumpung kemarin dia mendapat sebuah kartu.
"Kamu pilih saja yang pengen kamu makan. Hari ini aku yang bayar," ucap Aisyah. Dia tersenyum ke arah sang teman.
"Tapi, Ais, nanti uang kamu habis," tolak Dinda halus. Walaupun dia tahu sekarang Aisyah adalah pacar David, tetapi gadis itu mengatakan padanya hanya untuk beasiswa. Jadi dia juga tahu persis bahwa untuk makan, Aisyah masih harus bekerja sendiri.
"Jangan khawatir. Aku baru saja dapat sebuah hadiah yang tak diduga-duga. Jadi, pilih saja makanan yang kamu suka."
__ADS_1
"Baiklah kalau memang begitu. Aku mau pilih dulu."
Mereka memilih beberapa makanan dan juga menuman. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbicang-bincang.
"Aisyah?" Seseorang tiba-tiba menepuk tangan Aisyah.
"Eh, Denok. Ayo, duduk bareng kami!" Aisyah menunjuk pada kursi kosong di hadapannya.
Lelaki yang bersama Denok hanya diam, memandangi perubahan wanita di depannya. Tak menyangka Aisyah begitu cantik jika memakai hijab.
"Baiklah." Denok duduk di hadapan Dinda. "Kamu cantik banget. Alhamdulillah, sekarang kamu pakai hijab."
"Iya, alhamdulillah." Aisyah tersenyum menanggapi sanjungan Denok.
"Heh!" bentak Denok. Gadis itu memukul lengan Ari sedikit kencang. Dia tidak suka karena dilihatnya sejak tadi, Ari terus menatap Aisyah.
"Ma-maaf." Ari menatap Denok. Dia merasa bersalah kepada sang kekasih. Lalu, ditariknya kursi di sebelah gadis itu. Namun, sebelum dia berhasil meletakkan bokokngnya di atas kursi, tiba-tiba Denok menghentikannya.
"Oh, iya. Benar juga." Ari kembali mengangkat bokongnya.
"Kenapa?" tanya Aisyah tak mengerti.
"Nanti kalau ada Kak David, bisa terjadi perkelahian di sini," jelas Denok.
Aisyah tersenyum mendengar penjelasan Denok. Ternyata sebegitu takutnya mereka kepada David. Namun, dirinya memaklumi itu. Dia menyadari bahwa David sangat pencemburu.
"Kalian jangan khawatir. Sekarang hingga wisuda nanti, dia tidak akan kelihatan di kampus," ucap Aisyah.
"Memang dia ke mana?" tanya Dinda yang juga penasaran.
"Dia di kota J. Katanya ada urusan di sana," jelas Aisyah.
"Oh, baguslah. Jadi aku tak perlu khawatir jika ingin bertemu denganmu," sahut Ari.
__ADS_1
Tiba-tiba hawa dingin menyeruak di sekujur tubuh Ari. Bulu roma pun berbaris rapi di permukaan kulit. Padahal cuaca hari itu matahari bersinar terang, tidak hujan. Namun, kenapa bisa sedingin itu.
"He-he-he. Maksudku menemanimu saat menemui Aisyah," kelit Ari saat mengetahui sepasang mata menatapnya dingin.
"Awas kamu!" Denok mencubit lengan Ari.
"Aduh-duh. Sakit," keluh Ari.
Aisyah dan Dinda terkekeh melihat kelakuan sepasang kekasih itu. Tak disangka, kini Ari terlihat takut kepada Denok. Mungkin rasa cintanya sudah mekar sepenuh hati kepada gadis itu.
"Oh ya, Ais. Tumben kamu makan di sini?" tanya Denok.
Ya, semua pasti tahu kalau Aisyah tak pernah makan di kantin. Katanya, gadis itu ingin menyatu dengan alam, makanya selalu makan di taman. Padahal, itu cuma alasan Aisyah. Selain untuk menghemat uang, setidaknya dia tak perlu berjalan jauh untuk ke kantin.
"Aku tidak sempat masak tadi pagi. Sekalian mau traktir Dinda." Aisyah tersenyum. "Kalian juga. Ayo, pesan makan. Nanti aku yang bayar."
"Lagi banyak uang, nih?" tanya Ari seraya melirik ke arah Aisyah. Senyum juga nampak di wajahnya.
"Alhamdulillah." Aisyah tersenyum saat menimpali.
"Apa kamu dikasih uang sama dia?" Ari sangat penasaran.
Aisyah hanya menanggapinya dengan senyum. Dia tidak berani mengiyakan. "Mau tidak? Kalau tidak, ya sudah. Nanti bayar sendiri saja."
"Tentu saja mau," sahut Denok cepat.
"Jawab dong, Aisyah. Kamu juga dikasih uang sama dia, 'kan? Wah, jadi sekarang kamu sudah mau jadi pacarnya beneran, dong," ledek Ari. Pria itu menaik-turunkan alisnya.
"Tidak! Ih, kenapa kamu selalu saja begitu? Suka banget menggoda orang," ucap Aisyah jengkel. Namun, entah kenapa wajahnya menjadi semerah tomat.
Dengan perubahan ekspresi Aisyah, ketiga orang yang di sekitarnya malah tertawa bersama. Mereka sangat puas melihat gadis itu salah tingkat karena godaan Ari. Sungguh mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan Aisyah. Ya, lain di bibir lain di hati.
Bersambung.
__ADS_1