
Bagaikan tikus yang sudah di pojokan, tidak ada tempat lagi untuk berlari. Clara hanya diam dalam kungkungan David. Tak ada penolakan sedikit pun dari tubuhnya. Namun, mulutnya masih saja tidak berhenti bicara.
"Kak! Kenapa kamu jadi semakin begini? Apa yang membuatmu seperti ini? Kakak bisa cerita sama aku."
Clara sudah seperti emak-emak yang memarahi sang anak. Kalau itu di komplek, pasti semua orang sudah dengar dan berkumpul. Untung saja mereka berada di rungan David yang kedap suara. Jadi, tak ada seorang pun yang mendengar.
Ujung bibir David semakin lebar tertarik setelah mendengar celotehan Clara. Siapa pun yang melihatnya pasti akan takut. Sebuah seringai ganas dan siam menerkam mangsa.
"Aku hanya butuh pelampiasan. Kalau wanita tadi tidak bisa memuaskanku maka kamulah yang akan memuaskanku. Aku tidak akan segan walapun sudah menganggapmu adik sendiri."
David mulai menurunkan tangan perlahan. Dari wajah Clara, tangannya menyusuri leher jenjang nan putih milik wanita itu.
Clara memejamkan mata. Dia tidak sanggup menatap wajah David yang semakin mengerikan. Bukan wajah yang penuh b!r@h!, tetapi penuh kemarahan.
Aku rela Kakak melakukan ini padaku. Tapi, bukan dalam keadaan seperti ini, batin Clara.
Clara merasa selama dirinya dekat dengan David, tidak pernah melihat pria tersebut semarah itu. Wanita itu tidak tahu apa yang menyebabkannya. Dia mencoba mengingat kembali.
__ADS_1
"Apa semua ini gara-gara Aisyah?" tanya Clara. Wanita itu menyadari, selama David di Prancis tidak pernah dia lihat sang pria menelepon Aisyah. Padahal, dulu waktu di kota J wanita itu sering melihat pria itu menghubungi wanita yang dimaksudkan tadi.
David seketika menghentikan aksinya. Pria itu memukul tembok di sebelah kepala Clara dengan keras. Pukulan itu membuat sang wanita sedikit berjingkat.
Untung saja tidak roboh. Coba bayangkan jika dinding itu roboh, pasti David akan menindih tubuh Clara.
"Sial!" dengus David. Nafasnya bisa dirasakan hingga di wajah Clara.
Sudah kuduga, pasti gara-gara dia. Apa sih, istimewanya dia, batin Clara. Dia melirik sesaat wajah David. Kini wajah pria itu semakin merah padam karena emosi.
"Memangnya kenapa kalau aku sebut namanya? Memangnya siapa dia? Bukankah dia hanya teman Kakak? Kenapa Kakak semarah itu?"
Clara tidak mengubris perintah David. Dia justru membombardir pria itu dengan deretan pertanyaan. Dirinya hanya ingin menyadarkan sang pria.
David semakin geram dengan Clara. Dia melihat wanita di depannya semakin menyebalkan, padahal dirinya sudah berbaik hati untuk melepaskan wanita itu.
"Kamu sungguh mau aku melakukannya?" tanya David. Nada bicaranya dingin, sedingin bunga es.
__ADS_1
Mendengar nada bicara David yang seperti itu, Clara sudah tahu jika pria itu tidak bisa di ajak kompromi lagi. Dirinya menghentakkan kaki, lalu pergi dengan perasaan jengkel meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggalan Clara, David masih duduk di sana. Kini dia tengah menopang kepala dengan kedua tangan. Dadanya masih kembang-kempis menahan amarah. Perasaan campur aduk di dalam hatinya.
"Wanita itu! Dasar janda tak tahu diri!" David menghempaskan beberapa barang sehingga jatuh ke lantai. "Padahal sudah aku kasih hati malah disia-siain. Apa sih salahnya aku?"
Bukan Clara yang kini ada dipikiran David. Kini di atas kepalanya di penuhi bayang-bayang Aisyah.
Sampai sekarang David juga belum mengerti tentang keputusan Aisyah. Setelah percakapan itu, dia juga tidak pernah menghubungi wanita itu. Dirinya berharap sang wanitalah yang menghubungi, lalu merengek meminta bantuan.
Namun, kenyataan tidak seperti yang dibayangkan. Kini justru dialah yang dibuat kelimpungan kerenanya. Setiap hari selalu manatap layar ponsel, berharap nama yang ditunggu-tunggu muncul di sana.
"Kenapa juga aku masih memikirkannya? Masih banyak wanita di luar sana yang masih bersegel. Lebih cantik lagi," gumam David.
Seperti peribahasa, lain di mulut lain di hati. Begitulah David. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia masih sempat melirik ke arah ponsel di atas meja.
Bersambung.
__ADS_1