Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 172. Balas Dendam


__ADS_3

David berjalan cepat menuju rombongan Aisyah. Hatinya sudah panas ketika melihat Riski memberikan bunga kepada wanita itu. Dia sudah tidak sabar untuk membuang bunga itu dari tangan Aisyah.


"Hei!" teriak David.


Semua orang seketika menoleh ke arah David. Setelah tepat di hadapan Aisyah, pria itu merebut bunga dari tangan wanita itu. Dia melempar bunga itu ke tubuh Riski.


"Kamu, ayo, ikut aku!" David menarik tangan Aisyah menjauh dari kerumunan.


David tidak menghirukan tatapan heran dan bingung orang-orang di sekitar. Dia hanya merasakan sakit hati melihat semua itu. Apalagi Aisyah tidak memberitahunya tentang acara wisuda.


Tidak ada ada yang menghentikan langkah David. Mereka semua hanya terpaku dengan wajah mengerikan sang pria. Mata merah pria itu mengatakan bahwa sang pemilik siap menerkam siapa saja yang berani menghentikannya.


"Apa-apaan, sih kamu, Vid. Tidak lihat apa kalau di sana ada orang tuaku? Seenaknya saja main serobot tangan orang." Aisyah menghentikan langkah, membuat langkah pria itu juga terhenti.


"Aku tidak peduli dengan orang tuamu!" Deru nafas terdengar jelas dari hidung David. "Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang wisudamu?"


Bisanya dia begitu. Tidak menghormati orang tuaku, batin Aisyah. Dia merasa sedih dengan ucapan David.


"Apa karena kamu mengundang pria itu? Jadi, kamu tidak mau nikah sama aku karena mau nikah sama pria itu?" tanya David. Mulutnya mengoceh seperti emak-emak arisan.


"Seenaknya mengambil kesimpulan! Kamu, 'kan, sedang di kota J? Lagi pula kamu juga tidak mengundangku waktu itu!"


"Oh, jadi kamu balas dendam, ya? Kamu tahu tidak, kenapa aku tidak mengundangmu?"


Aisyah tidak menjawab pertanyaan David. Dia hanya menunggu penjelasan dari pria itu.

__ADS_1


"Aku takut orang tuaku tidak berkenan kamu hadir. Aku belum siap jika tiba-tiba mereka mengusirmu. Aku ingin mengenalkanmu secara perlahan saja kepada orang tuaku setelah itu. Eh, kamu malah ngajak pisah," jelas David.


Oh, ternyata begitu, batin Aisyah. Memang saat itu dia pernah mencurigai Clara. Akan tetapi, kecurigaan itu tidak terbukti karena wanita tersebut juga tidak berada di sana saat itu.


"Jadi, kamu benar-benar menolakku karena mantan suamimu itu? Kamu mau kembali kepada dia?" tanya David sekali lagi. Dia masih penasaran tentang alasan Aisyah menolaknya.


"Itu bukan urusanmu!" Aisyah masih kesal karena sikap kasar David di depan orang tuanya. "Kamu saja selalu seenaknya sendiri. Coba kamu pikir, apa pantas sikap seperti itu tadi. Apa lagi di depan orang tuaku!"


Aisyah tidak bisa menahan lagi emosinya. Dia tidak terima jika kedua orang tuanya diperlakukan seperti itu. Sungguh sangat tidak sopan dan tidak menghormati orang tua.


"Eh, kenapa jadi kamu yang marah. Di sini seharusnya aku yang marah karena kamu sudah menghianatiku!"


"Menghianati siapa? Dasar! Pria tak tahu diri. Masih saja mau menang sendiri!" Aisyah menyilangkan tangan di depan dada, lalu mengalihkan pandangan dari David.


"Gimana bapakku mau suka sama dia, kesan pertama saja seperti ini. Tidak bisa mencuri hati mertua," gumam Aisyah.


"Apa?" David membalikkan tubuh Aisyah supaya menghadap ke arahnya. "Coba bilang lebih keras lagi."


Aisyah segera menyadari kebodohannya. Dia benar-benar tidak sadar ketika mengucapkan hal itu. Wanita itu pun segera menutup mulutnya.


"Bukan! Bukan apa-apa, kok." Aisyah menggelengkan kepala. Wajahnya memerah karena malu.


"Cepat, katakan lagi! Aku tidak mendengarnya."


Kenapa aku bisa mengatakan itu? Apakah ...? Aisyah tidak melanjutkan ucapan di dalam hati.

__ADS_1


Sungguh Aisyah tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti ini. Padahal, dia sangat kesal akan sikap David yang selalu memaksakan kehendak. Namun, kenapa dia juga nyaman dengan perhatian pria itu.


Setiap kali Aisyah mengelak tentang perasaannya, selalu saja gagal. Ada saja tentang David yang membuatnya kagum. Apa lagi, setelah perbincangannya dengan Nilam.


Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin. Kenapa pria seperti itu? Mamanya juga tidak bisa dipercaya, nyatanya Clara juga pernah ke sana. Malah sampai menginap pula.


Lagi pula, banyak wanita juga di sisinya dan tentunya Clara. Selama tiga tahun di Prancis, mereka pasti sudah bersenang-senang bersama, batin Aisyah. Dia mengelak perasaannya. Dia mengingat kembali tentang wanita bermanjaan di lengan David.


"Aku hanya bilang bukankah kamu yang yang menghianatiku?" Aisyah mencoba mengelak dengan sebuah pertanyaan.


"Kapan aku menghianatimu? Coba katakan!" David sungguh tidak mengerti dengan pertanyaan Aisyah. Dia merasa tidak pernah menghianati wanita itu selama mereka bersama.


"Sudahlah, jangan mengelak lagi!" Aisyah mengibaskan tangan. "Bukankah sudah ada Clara. Kenapa kamu masih juga menginginkanku?"


"Clara? Apa maksudmu?"


"Iya, Clara. Bukankah kalian sudah bersenang-senang bersama di Prancis?"


David tersenyum masam, memahami apa yang dimaksud Aisyah. "'Kan, sudah aku jelaskan waktu itu? Masih kurang jelas?"


"Kamu pikir aku percaya begitu saja?"


Aisyah mengelak untuk percaya. Memang dia wanita bodoh dalam hal itu. Namun, sebodoh-bodohnya wanita mana ada yang percaya dengan kedekatan mereka yang seperti sepasang kekasih.


David menghembuskan nafas panjang. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan semuanya agar Aisyah percaya. Dia tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap Clara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2