
Hari semakin berlalu dan sudah hampir tiga tahun saat ini, sekarang siapa yang tidak tahu tempat makan 'Mampir Mriki'. Pengunjung selalu sesak setiap hari. Mereka rela antri mendapatkan meja untuk makan atau hanya sekedar di bungkus untuk dimakan di rumah.
Untuk menyiasati hal itu, akhirnya Aisyah membuka cabang baru di pusat kota. Dengan resep yang sama dia buat sendiri, di sana pun tak kalah laris. Dia kewalahan jika harus menanganinya sendiri.
Akhirnya, Aisyah memboyong Fajar untuk membantu. Bersama istrinya—Indah—orang yang dinikahi sang kakak beberapa bulan setelah wisuda, mereka tinggal bersama. Wanita itu sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan sahabat dan kakak tersayang.
"Tidak percaya kalau sekarang aku harus panggil kamu Mbak." Sedikit cekikik terdengar dari mulut Aisyah. Sementara itu, tangannya aktif mengupas bawang.
Aisyah merasa waktu berlalu begitu cepat. Beberapa saat yang lalu, sepertinya dia masih memanggil sahabatnya itu tanpa embel-embel 'Mbak'. Namun sekarang, sang sahabat sudah sah dipinang oleh sang kakak.
"Aku juga tidak menyangka kalau kakakmu itu akan secepat ini nikahi aku." Indah mengangkat kedua bahu, seolah-olah tidak terima jika dinikahi secepat itu.
"Heleh, nyatanya juga mau," timpal Fajar. Dia baru saja datang, lalu tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Lah, mau bagaimana lagi. Kamu maksa sih, Mas. Kalau nolak 'kan tidak baik," elak Indah. Dia menyatukan alis.
"Tapi, 'kan, enak?" Fajar menaik turunkan alis.
"Ih, apaan, sih! Ada anak kecil tuh," ujar Indah pelan. Bola matanya menunjuk pada Aisyah.
"Eh, siapa bilang aku anak kecil? Aku juga pernah nikah." Aisyah memicingkan mata.
Aisyah tidak terima dibilang anak kecil. Dia merasa Indah telah meremehkannya.
"Tapi, 'kan, belum tahu itu-itu?" Indah tidak mau kalah.
Wajah Aisyah memerah. Seketika dia mengingat saat-saat bersama Riski. Kenangan itu melintas dipikirannya.
__ADS_1
Perdebatan mereka masih berlangsung, membuat suasana ramai. Aisyah tak mau kalah juga. Dia tidak terima jika sudah di senggol. Sungguh, mereka seperti anak kecil saja.
Suasana seperti inilah yang sudah lama tidak dirasakan Aisyah. Beberapa tahun di kota orang membuat dia sangat merindukannya. Kehangatan keluarga memang tidak ada duanya.
"Oh, ya. Seminggu lagi kamu wisuda. Apakah semunya sudah siap?" tanya Indah. Dia sudah lelah berdebat.
"Belum, sih." Aisyah memasukkan bumbu yang telah diracik ke dalam wadah.
Kini Aisyah telah lulus kuliah, tinggal menunggu hari wisuda. Dia sudah bersiap dengan langkah selanjutnya. Wanita itu bersiap memperbesar biro jasa arsitektur yang beberapa bulan ini dia dirikan.
Setelah bebas dari sidang dan dinyatakan lulus. Aisyah dengan segera membuka kantor jasa arsitektur rumah kecil-kecilan. Lumayanlah, beberapa orang yang sudah pernah datang untuk menyewa jasanya. Namun, belum sesuai yang diharapkan. Susah memang jika belum mempunyai jaringan kuat.
"Ayo, aku antar kamu untuk mencari perlengkapnnya." Indah menatap Aisyah dengan mata sedikit menyipit. Dia meyakinkan sang adik agar bisa membantu.
"Tidak! Wanita cacingan tidak boleh membantu. Nanti kalau kelelahan, aku yang akan dimarahi Mas Fajar," tolak Aisyah.
Indah kini tengah hamil 4 bulan. Badannya yang kurus memang membuatnya terlihat seperti orang cacingan.
"Apa, Sayang?" tanya Fajar. Pria itu membelai lembut rambut sang istri.
"Kata Aisyah, aku cacingan." Indah menenggelamkan wajahnya di lengan Fajar. Dia pura-pura menangis.
"Wah, mengadu! Mengadu!" Aisyah malah tertawa melihat aksi sang kakak ipar.
Aisyah melihat Indah kini sungguh menjadi wanita yang sangat manja. Padahal, saat sekolah dulu wanita itu sangat mandiri. Kasih sayang sang kakak merubah sikap sang istri.
"Aisyah! Jangan hina Mbakmu! Gini-gini yang membuat dia cacingan adalah masmu." Fajar memperingatkan dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Namun, balasan yang didapat adalah gelak tawa dari Aisyah. Ternyata sang kakak juga menyebut istrinya cacingan. Membuat wanita itu tak dapat menahan tawa lagi.
"Ih, Mas Fajar." Indah mencubit lengan Fajar. "Kok, ngatai aku cacingan juga, sih?"
"Maaf, Sayang," ucap Fajar. Dia cengengesan seraya membelai punggung sang istri.
"Kalau kamu nggak mau aku antar, mau pergi sama siapa?" tanya Indah.
Indah ingin memastikan apakah ada pria yang akan mengantar Aisyah. Selama dia tinggal bersama sang adik ipar, tak pernah ada pria yang datang ke sana. Setahunya hanyalah Riski, dia tidak rela kalau pria itu yang akan mengantar.
"Aku akan pergi dengan Dinda. Kami sudah janjian, besok akan mulai berburu," jelas Aisyah.
Indah bernafas lega karena bukan Riski yang akan mengantarnya. "Baiklah kalau begitu."
"Sudah selesai belum, Mas?" tanya Aisyah kepada Fajar.
"Sebentar lagi." Fajar segera menggiling bumbu yang terakhir.
"Kalau sudah, akan aku antar ke cabang utama. Nanti Mas Fajar bawa ke cabang yang ke dua saja!" pinta Aisyah.
"Biar aku antar semuanya saja. Pakai mobil 'kan cepat," usul Fajar.
Perjuangan tiga tahun Aisyah telah menghasilkan dua mobil, mobil penumpang dan bak terbuka, walaupun mobil bekas. Namun, mobil itu masih sangat layak di pakai. Mobil penumpang dia beli setelah Fajar pindah di sana.
Aisyah tidak membeli mobil itu sebelumnya karena dia tidak bisa mengendarai. Bagaimana bisa mengendarai mobil, jika motor saja dia tidak bisa.
"Tidak usah! Nanti Mas jadi bolak-balik. 'Kan, Mas, harus urus yang di sana setelah itu." tolak Aisyah. "Lagi pula, Kak Aang sebentar lagi juga datang."
__ADS_1
Aang adalah karyawan Aisyah yang biasa mengantar wanita itu belanja di pasar tradisonal. Dengan mobil bak terbuka, mereka membeli kebutuhan warung makan.
Bersambung.