
Seorang wanita dengan penampilan ibu-ibu sosialita berdiri tidak jauh dari Aisyah. Mata wanita itu menyipit dengan alis menurun dan tegang, menandakan dia merasa jijik. Tidak tahu, dia jijik dengan apa. Padahal, tempat makan itu juga dijaga kebersihannya.
"Ayah, Bunda," sapa Aisyah. Dia segera memberikan piring di tangannya kepada Dinda.
Dinda menerimanya, lalu segera pergi. Dia tahu bahwa saat ini tidak tepat dirinya berada di sana. Wanita itu duduk di meja tak jauh dari sana.
Aisyah masih menghargai kedua mantan mertuanya. Untuk itu, dia masih memanggil dengan sebutan ayah dan bunda. Itu juga sebagai tanda hormatnya kepada kedua orang tersebut.
Aisyah mengulurkan tangan, hendak menyalami keduanya. Namun, dia urungkan karena Laela lebih dulu mengeluarkan perkataan dari mulutnya.
"Ih, panggil-panggil bunda! Emang kamu siapa?" tanya Laela. Nada bicaranya sangat ketus. Dia merasa tidak ada hubungan lagi dengan Aisyah. Jadi, dirinya tidak ingin dipanggil seperti itu.
"Bunda!" hardik Doni pelan. Pria itu menggelengkan kepala atas kelakuan sang istri. Tak sepantasnya Laela berkata seperti itu kepada Aisyah di depan orang banyak.
"Maaf." Aisyah menundukkan kepala. Dia merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Dia menyadari, siapalah dirinya. Kenapa juga memanggil Laela dengan sebutan bunda?
"Ris! Kenapa kamu ajak bunda makan di sini? Kamu ingin merusak hari pertama Bunda di kota ini? Kamu sengaja, ya, biar aku ketemu sama dia? Kamu pikir aku akan menyukainya kalau ketemu begini?"
Belum selesai Laela mengatakan protesnya, Riski segera menjelaskan.
"Bukan begitu, Bund. Aku ajak Bunda ke sini karena makanan di sini enak. Bunda coba dulu, deh," bujuk Riski.
Riski tidak memberi tahu kepada bundanya mengenai siapa pemilik rumah makan itu. Alasan utamanya karena dia tidak ingin ibunya menolak makan di sana setelah tahu.
__ADS_1
Laela menarik sebelah ujung bibirnya. Dia menatap Aisyah sejenak, lalu membuang muka ke arah lain.
"Terserah! Tapi, aku tidak mau kalau makanannku yang ambilin dia!" Laela melangkah pergi, mencari tempat duduk sedikit jauh dari Aisyah.
Riski pun merasa tidak enak kepada Aisyah. Dia meminta maaf kepada wanita itu atas ucapan sang bunda.
Aisyah pergi ke meja Dinda setelah mengambil makan untuk dirinya sendiri. Di sana, sang sahabat menunggu dengan tatapan bertanya-tanya. Aisyah akhirnya menjelaskan semuanya ke pada Dinda.
Laela segera menyantap hidangan yang telah dipesannya. Dia terlihat sangat menikmati makanan itu. Dirinya juga tidak percaya, tempat makan sesederhana itu memiliki masakan sekelas restoran mewah.
"Makanan seenak ini, kenapa juga ada dia. Merusak cita rasa saja," gumam Laela.
"Bunda, sudah makan saja. Kita nikmati makanan yang lezat ini," ucap Doni. " Kalau begini, aku bisa sering-sering makan di sini. Iya, 'kan, bund?" tanyanya.
"Hu um." Laela menganggukkan kepala. " Tapi, kalau masih ada dia, malas juga."
"Berapa?" tanya Doni seraya mengeluarkan dompet.
"Anda tidak perlu membayar, Pak," ucap sang kasir.
"Kenapa?" tanya Doni heran.
"Bos yang menyuruh kami."
__ADS_1
"Bos?" Doni penasaran.
Sang kasir menunjuk dengan tangannya. Doni mengikuti ke mana arah tangan orang tersebut. Dilihatnya Aisyah yang ditunjuk oleh si kasir.
"Aisyah?" tanya Doni memperjelas.
Sang kasir hanya menganggukkan kepala sembari tersenyum. Doni pun segera menatap Riski. Sang anak yang melihat kejadian itu sejak awal, tahu apa maksud tatapan sang ayah. Riski pun menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
...****************...
Sementara itu di Prancis, dua orang berlainan jenis sedang berada di dalam satu ruangan. Sebuah kursi dengan senderan tinggi di ruang CEO, diduduki mereka berdua.
Seorang wanita lokal yang memakai dress dengan belahan dada rendah sedang duduk di pangkuan David. Kedua kakinya mengapit paha sang pria. Mereka saling berhadapan sehingga puncak dada wanita itu, tepat di depan wajah David.
David menenggelamkan kepalanya di dada sang wanita. Sesekali pria itu menyesap benda kenyal di depannya. Hal itu membuat si wanita meracau tak karuan.
"Ah, Honey! Terus begitu. Emp." Desisan beberapa kali keluar dari mulut wanita itu.
Tangan David mengusap lembut paha sang wanita. Sesekali juga meremat dua buah bongkahan kenyal itu.
"Kamu seksi sekali," ucap David. Pria itu menyusuri leher sang wanita. Dia mengecup perlahan di tengkuk wanita itu.
Sang wanita pun dibuat blingsatan olehnya. Bagian inti bawah tubuhnya di gesek ke inti David. Sensasi luar biasa dia rasakan.
__ADS_1
Tangan wanita itu perlahan turun ke bawah, mendekati inti tubuh David yang gagah. Dia sudah tidak tahan ingin menyentuh benda itu, lalu dipendam ke dalam miliknya.
Bersambung.