
Sore ini Den Alex menikah dengan Non Sherly," Ucap Bi Mimah ragu saat menyebut nama Sherly. Akan tetapi, mengingat Alea tidak tahu apa-apa soal keluarga majikannya ini, wanita paruh baya itu menebak bahwa gadis dihadapannya ini tentu juga tidak mengetahui soal Sherly.
"Karena itu, semua orang sekarang pergi untuk menghadiri acara pernikahan Den Alex, sekaligus resepsinya yang diadakan malam ini," Lanjut Bi Mimah menjelaskan.
Wajah Alea pias seketika menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang akan memasuki hidup baru menjadi bagian dari keluarga ini, tapi akan ada wanita lain yang sepertinya jauh lebih diterima dalam keluarga ini.
Hatinya mencelos menyadari semua itu. Bahwa ia memang tidak diharapkan menjadi bagian dari keluarga besar suaminya. Saat pernikahannya tadi pagi, tidak seorangpun dari keluarga Ravka yang menghadirinya. Bahkan kedua adik perempuan Ravka juga tidak menunjukkan batang hidungnya. Sementara saat ini mereka semua menghadiri pernikahan Alex.
Apa semua ini hukuman atas kesalahan yang tidak disengaja ini? Atau karena mereka memang tidak menyukaiku? Tapi kenapa mereka memaksaku menikah dengan Ravka, kalau mereka tidak menerima kehadiranku dalam keluarga mereka? - Pikiran Alea berkecamuk. Dia harus mulai menyiapkan hatinya untuk keadaan yang bahkan lebih buruk dari dugaannya.
"Non Alea kenapa?" Tanya Bi Mimah khawatir saat melihat tatapan kosong Alea.
__ADS_1
"Eh tidak Bi, tidak apa-apa," Ucap Alea tersadar dari lamunannya. Ia memaksakan senyum menghiasi bibirnya, berusaha menutupi kegelisahan yang timbul saat menyadari posisinya di rumah ini.
"Non Alea betul tidak apa-apa?" Tanya Bi Mimah prihatin. Ia seperti dapat merasakan kekecawaan Alea yang tergambar jelas di wajah gadis itu yang berusaha ia tutupi.
Ia merasa terpikat dengan gadis yang tampak lugu dan sederhana ini. Bi Mimah bisa menyadari bahwa ia merasa kecewa dan terabaikan, tapi ia berusaha untuk tidak mengeluh dan tetap mengulas senyum yang tampak janggal di bibirnya.
Meski tidak mengetahui permasalahan yang terjadi pada gadis ini dengan keluarga Tuan Dinata, tapi dia merasa terpanggil untuk bisa memberikan dukungan kepada gadis muda dihadapannya.
"Ingatlah Al, selalu lakukan kebaikan dan tanamkan kebaikan itu dalah hatimu. Karena kebaikan itu akan kembali kepadamu"
Kata-kata dari Ibunya itu yang menjadi pegangan Alea dalam menjalani kehidupannya setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Dan selama ini ia baik-baik saja melewati hidupnya berpegang pada nasihat Ibunya.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan kepadamu. Lakukanlah apapun dengan ikhlas sebagai wujud rasa syukurmu," Ucap Ayahnya sebelum meninggalkannya untuk selamanya.
Kali inipun itulah yang akan ia lakukan di rumah ini. Bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupnya. Masih banyak yang jauh lebih tidak beruntung daripada dirinya. Dia harus mensyukuri dan ikhlas menjalani semua yang Maha Kuasa sudah gariskan untuk hidupnya.
"Sepertinya Koki sudah selesai menyiapkan makan malam. Non Alea mau makan sekarang? Biar saya siapkan," Tanya Bi Mimah kemudian.
"Boleh Bi. Kita makan bareng yah. Bi Mimah temani saya makan," Ucap Alea. Ia menolehkan wajahnya sekali lagi pada wajah-wajah di dalam pigura. Wajah-wajah yang akan menjadi bagian hidupnya setelah ini. Meski tidak terpikirkan olehnya kehidupan yang seperti apa yang akan ia jalani.
Alea kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur beriringan bersama Bi Mimah di sampinya. Menikamti makan malam di tempat tinggalnya yang baru dalam balutan kemewahan, namun kesepian. Disini bahkan lebih membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari pada saat pertama kali Paman dan Bibi membawanya pulang ke rumah mereka, untuk tinggal disana setelah pemakaman kedua orang tuanya.
Di hirupnya nafas dalam-dalam. Sekali lagi dia harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dari awal kembali.
__ADS_1