
Pagi ini, Aisyah kembali membuka dagangan sayur matangnya. Gadis itu melihat sekeliling, tetapi tak ada seorangpun yang mendekat. Padahal, sudah hampir satu jam dia menggelar dagangannya.
"Kenapa semakin hari semakin sepi? Dari tadi baru tiga orang yang. Ya Allah, tolong datangkanlah pembeli padaku. "Aisyah yang menengadahkan tangan segera mengusap ke wajah setelah doa itu selesai.
Aisyah mengipas-ngipas masakan dengan plastik untuk mengusir lalat. "Malah lalat yang pada mendekat," keluhnya.
Beberapa menit kemudian, ada pembeli yang datang. Aisyah begitu senang melayaninya, walaupun hanya satu. Dia tetap bersyukur karena Allah telah mendengar doanya.
Hari pun mulai siang, dagangan Aisyah baru terjual setengahnya. Namun, dirinya tetap harus membereskan dagangan itu. Tempat yang Aisyah tempati itu tak ada atap, sehingga membuat tempat itu panas pada siang hari.
Setelah semua beres dan sisa degangan dibagikan kepada tetangga kos, Aisyah kini duduk di kasur kamar kosnya. Gadis itu kembali meraih kertas di samping bantal, lalu dibacanya sejenak.
"Kalau gini terus, tidak ada peningkatan, bagaimana aku harus membayar uang kuliah."
Aisyah meremat kertas pemberitahuan dari kampus. Sudah berulang kali dia membaca kertas itu. Kertas yang memberi tahukan bahwa beasiswa gadis itu telah dicabut dan besar anggaran yang harus dibayar pada semester berikutnya.
"Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus mencari jalan keluar lainnya," ucap Aisyah penuh semangat.
Namun, seketika itu pula semangatnya hilang. Tubuhnya meringsut bersandarkan tembok. "Tapi, apa?"
__ADS_1
Aisyah memegangi kepala, sedikit rasa sakit di dalamnya. Beberapa bulan lagi, semester baru akan dimulai. Akan tetapi, uang semester belum terkumpul.
"Tidak mungkin juga aku pakai uang Kak Riski. Bisa besar kepala dia nantinya. Huft." Aisyah menghembus nafas kasar. "Sungguh menyebalkan."
"Kenapa juga dia kirim uang ke rekening itu? Aku, 'kan, baru sedikit gunain uang itu." Aisyah melempar asal kertas di tangannya.
Aisyah merebahkan tubuh untuk menghilangkan keletihanannya. Gadis itu menatap langit-langit kamar, menerawang jauh nasib yang dia alami, hingga akhirnya terlelap ke alam mimpi.
Sebuah mimpi telah mengejutkan Aisyah, sehingva dia terbangun dengan sedikit terengah. Gadis itu segera meraih ponsel yang geletak dilantai kamar.
"Baru setengah jam ternyata. Kenapa mimpi itu seperti lama sekali." Aisyah kembali mengingat mimpi yang masih tercetak jelas di ingatannya.
"Tidak!" Aisyah menggelengkan kepala. Pada saat itu pula, azan berkumandang, dirinya segera menjalankan kewajiban sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Sampai sore hari, Aisyah menyudahi kegitannya di dunia maya. Gadis itu segera bersiap, lalu berangkat bekerja.
Di tempat kerja, semua berjalan sebagai mana mestinya. Namun, saat malam hari, Aisyah merasa sedikit canggung. Pasalnya, David datang, lalu duduk di tempat biasanya.
Sesungguhnya, bukan itu yang membuat canggung. Akan tetapi, sikap David yang tak seperti biasanya. Pria itu hanya diam setelam memesan makanan. Walaupun, sang pemilik warung sudah menyapa, dia hanya menjawab dengan satu atau dua kata saja, bahkan hanya senyuman kecil.
__ADS_1
Semua ini gara-gara kamu sehingga aku harus bekerja lebih keras, batin Aisyah.
David sesekali melirik ke arah Aisyah. Dia tahu bahwa gadis itu masih marah kepadanya. Namun, pria itu sungguh senang karena sekian lama tak melihat wajah Aisyah dari dekat, akhirnya kini dia dapat melihatnya.
Memang, setelah kejadian itu, David tak pernah datang untuk membeli makanan di sana. Inilah pertama kalinya, tetapi dia tidak disambut ramah oleh Aisyah.
"Ini pesanan Anda!" ucap Aisyah ketus seraya menaruh sepiring mie goreng ke ata meja David.
David tak menjawab ucapan Aisyah. Pria itu hanya tersenyum dan mengerling ke arah sang gadis. Batinnya berkata, "Tunggu pembalasanku! Kamu akan bertekuk lutut kepadaku!"
"Ih, menjijikan!" batin Aisyah menarik sebelah ujun bibirnya.
Aisyah yang mendapat tatapan itu segera membalikkan tubuh, kembali ke meja pesanan. Dia tidak ingin berlama menatap pria itu karena bayangan saat sang pria bermesraan dengan seorang wanita, muncul di benaknya.
Semua orang yang bekerja di sana, menyadari keadaan itu. Mereka semua tak ingin ikut campur dalam urusan David dan Aisyah. Jadi, teman kerja sang gadis hanya memilih diam.
David telah selesai makan, lalu pergi dari tempat itu. Akan tetapi, Aisyah masih saja diam hingga tempat makan tutup.
"Ih, jengkelin banget! Sudah bagus dia tidak datang ke tempat kerjaku. Kenapa juga tadi dia datang?" Aisyah melempar kasar tas ke atas kasur.
__ADS_1
Aisyah segera membersihkan diri dan membersihkan pikirannya dari David. Gadis itu mengguyur seluruh badan. Sekarang, pikirannya merasa sedikit terlepas dari David.
Bersambung.