
"Sepertinya sudah cukup."
Beberapa kali Aisyah melihat wajahnya di cermin. Wanita itu ingin berpenampilan terbaik untuk malam ini, walaupun hatinya masih sedikit marah. Dia tahu bahwa David melakukan ini untuk menyenangkan hatinya, jadi dirinya juga bertekat untuk menyenangkan pria itu malam ini.
Aisyah melangkahkan kaki keluar kamar. Dari balik pagar kos terlihat mobil merah terparkir di sana. Entah sudah berapa lama mobil itu di sana.
"Sudah lama?" tanya Aisyah ketika sudah di samping mobil itu.
"Lumayan," jawab pria yang berdiri di hadapannya.
David tak bergeming. Matanya terus menatap tajam Aisyah. Beberapa detik yang lalu, dia kagum pada sang gadis. Namun, beberapa detik kemudian dia menunjukkan ekspresi tidak suka. Aisyah bisa menangkap itu.
"Ada apa? Jelek, ya?"
Aisyah melihat dirinya sendiri. Menurut gadis itu tidak ada hal aneh pada penampilannya. Baju yang dia pakai pun tidak jelek. Apa yang membuat pria itu tidak suka? Sungguh Aisyah tak mengerti.
"Kenapa kamu pakai ini?"
"Gaun ini cukup bagus, kok."
"Kamu mau pamer lehermu itu, ya? Biar cowo-cowok di sana nanti memperhatikanmu?"
David merasa gaun yang dikenakan Aisyah terlalu terbuka. Gaun hijau daun muda, panjang semata kaki, lengan sesikut dengan potongan leher berbentuk persegi. Gaun itu menampilkan dada Aisyah sebatas lima centimeter di bawah tulang selangka, menurut pria itu sangat menggoda. Mungkin juga karena potongannya.
"Ini tidak terlalu terbuka." Aisyah meraba-raba bagian itu.
Apa yang dilakukan Aisyah membuat David hampir saja mengeluarkan air liur. Pergerakan sang gadis menurutnya adalah gerakan menggoda. Seperti memberikan lehernya untuk dikecup.
"Hei!" Teriakan Aisyah menyadarkan David. "Jangan-jangan kamu sendiri yang berpikiran macam-macam sama aku."
"Tidak!" elak David. "Ya sudahlah, kita berangkat saja."
David tidak mau berdebat lebih lanjut dengan Aisyah. Berdebatan kemarin sudah sangat melelahkan menurutnya. Jadi, kali ini dia lebih memilih untuk mengalah.
Setengah jam telah berlalu, kini mereka telah sampai di tujuan. Sebuah Cafe alam dihiasi lampu kuning yang tergantung di atas tempat makan. Letaknya yang lebih tinggi, juga membuat pengunjung dapat menikmati pemandangan lampu kota.
__ADS_1
Aisyah sangat senang menikmati keindahan itu. Beberapa kali dia mengambil foto dengan kamera ponselnya. Gadis itu sungguh puas dengan hasil jepretannya.
"Kita duduk di sana."
David menunjuk sebuah tempat kosong di pojok Cafe. Mereka harus melewati beberapa maja yang penuh dengan orang untuk sampai di meja itu. Pria itu menyadari kalau orang-orang menatap Aisyah, sehingga dia merangkul pinggang sang gadis supaya lebih mendekat. Tak lupa, tatapan dingin dia berikan pada orang-orang itu.
"Apaan, sih, kamu?" Aisyah menyingkirkan tangan David saat mereka sampai.
"Kamu suka, ya, digoda sama mereka?" David menunjuk dengan dagu ke arah kerumunan tadi.
"Mana ada menggoda. Mereka diam, kok," dengus Aisyah kesal. Dia pikir bahwa David mencari kesempatan.
"Kamu ...." David menghentikan ucapannya ketika pelayan datang.
"Mau pesan apa? Ini menunya." Sang pelayan menyodorkan buku menu ke arah David.
Beberapa olahan makan laut David pesan. Tak lupa sayuran untuk penyeimbang. Aisyah memilih jus alpukat, sedangkan David jus mangga sebagai minumannya. Air putih juga mereka pesan.
"Enak sekali jusnya. Dikasih apa, sih?" Aisyah mengaduk sambil terkagum mencari tahu kandungan jus itu.
Aisyah tersadar, tindakan itu tak seharusnya dilakukan. Sungguh gadis kampung yang baru pertama kali merasakan minuman seperti itu. Biasanya dia minum teh manis, paling banter es jeruk.
"Maaf." Aisyah tersenyum, sungguh terlihat manis di mata David. " Ayo, kita makan."
Mereka akhirnya menikmati makanan di sana dengan sesekali bercakap. Lama-kelamaan, tawa juga terselip di antara percakapan mereka. Semua itu membuat David lega.
"Kamu sudah tidak marah, 'kan?"
Oh, iya. Tadi, 'kan, aku lagi marah sama dia. Kenapa sekarang aku malah sebahagia ini? pikir Aisyah dalam diam.
Ah, sudahlah. Aisyah tersenyum ke arah David. "Karena kamu begitu memanjakannku, jadi aku maafkan kamu."
Memang Aisyah bukan tipe pendendam, jadi begitu saja dia melupakan apa yang sebelumnya terjadi karena pria itu kini telah menghibur dan memanjakannya.
"Kenapa jadi sepertinya aku yang salah?" David tak terima.
__ADS_1
"Memang kamu yang salah," gumam Aisyah dengan bibir bagaikan bunga terompet.
David membuang pandang ke bawah, lalu menghela nafas. " Bibir kamu dikondisikan, dong. Minta dimakan, ya?"
"Memangnya kenapa?" tanya Aisyah. Gadis itu merasa tidak bersalah bahwa sesungguhnya David sangat tergoda bila melihat dirinya seperti itu.
"Sudahlah. Kita makan lagi."
Terlalu menikmati makanan, di sudut bibir Aisyah masih tertinggal potongan kecil lobster. David menyadari itu. Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
"Diam sebentar," ucap David ketika tangannya sudah mendekat di bibir Aisyah.
"Ada apa?" tanya Aisyah tak mengerti.
"Ada ini, nih." David menunjukkan apa yang telah dia ambil. "Makan kok belepotan. Kayak anak kecil."
Tanpa Aisyah sangka, David memakan apa yang diambilnya tadi. Gadis itu pun terperangah akan tindakan pria di hadapannya. Matanya tak berkedip.
"Kenapa?" tanya David tak peduli.
"Kamu tidak jijik memakan itu tadi?"
"Kenapa harus jijik. Makan dari mulutmu, aku juga mau," jelas David dengan senyum menggoda.
"Ih, apaan, sih!" Aisyah segera menutup mulutnya.
Tawa meledak dari mulut David. Sungguh senang hatinya kali ini karena bisa menggoda Aisyah.
Akhirnya, makanan di meja pun habis. Mereka bersiap untuk pulang. Namun, David kebelet untuk buang air kecil. Dia berpamitan dengan Aisyah untuk pergi ke kamar mandi.
Sambil menunggu David kembali, Aisyah menyibukkan diri dengan memainkan ponsel. Tiba-tiba deheman berat di samping telinga mengagetkannya. Seketika gadis itu menoleh ke arah sumber suara.
"Hai, Cantik."
Aisyah membuka mata lebar. "Mau apa kamu?"
__ADS_1
Bersambung.