Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 171. Wisuda Aisyah


__ADS_3

Aisyah menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi kerja. Perasaannya sedang bergemuruh sekarang. Dia tidak menyangka bahwa David tiba-tiba melamarnya.


"Apa-apaan, sih? Dasar, cowok aneh!" Aisyah memijat-mijat keningnya yang sedikit berdenyut.


Dinda terkejut karena tidak menyadari kehadiran Aisyah. Dia seketika menoleh ke arah sumber suara. Dahinya mengerut karena melihat tingkah aneh sang sahabat.


"Kamu kenapa? Datang-datang emosi kayak gitu. David ngapain kamu?" tanya Dinda. Dia berjalan menghampiri Aisyah.


"Tidak! Aku cuma jengkel saja sama David. Aku lagi sibuk malah seenaknya ngajak pergi. Aku tidak enak sama kamu," kilah Aisyah.


Semua kejadian tadi, Aisyah simpan sendiri. Dia merasa bahwa sang sahabat tidak perlu mengetahuinya. Lagi pula, ini tentang perasaannya, jadi dia akan tentukan sendiri.


Aisyah belum menerima lamaran David. Dia merasa semua itu terlalu mendadak dan terburu-buru. Bayangkan, berpisah dan tidak ada kabar selama tiga tahun, tiba-tiba melamar. Bagaimana Aisyah bisa menerima semua itu.


Aisyah merasa David semaunya sendiri, tidak pernah mengerti perasaannya. Mana ada wanita yang mau dilamar secara tiba-tiba seperti itu. Seharusnya acara lamaran didahului dengan makan malam romantis. Setidaknya itu yang ada dipikiran Aisyah sekarang.


Menimbang lagi sikap David yang suka gonta-ganti wanita. Apakah Aisyah sanggup ketika sudah menikah, melihat suaminya bersama wanita lain? Dia merasa watak seperti itu tidak akan bisa berubah.


"Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. Aku di sini tidak apa-apa, kok. Semampuku mengerjakan permintaan klien."


Mendengar Dinda mengatakan 'klien', Aisyah teringat tawaran David kembali. Sebenarnya juga menguntungkan tawaran itu bagi karirnya. Dia mencoba meminta saran dari Dinda.


"Oh, ya. Bagaimana jika suatu saat ada proyek besar. Misalkan meminta model apartemen? Apa kita sanggup?"


"Proyek darimana? Kantor kita saja kecil, mana ada yang lihat dan percaya kemampuan kita? Segini saja aku sudah bersyukur."

__ADS_1


"Kita harus optimis dengan kemampuan kita, Din. Kalau kita pesimis, kapan kita akan maju. Kerja di perusahaan orang paling juga stuck di situ-situ saja."


Aisyah mencoba memberi semangat. Kalau Dinda sudah setuju, mungkin dia akan mencari jalan untuk menawar untuk sebuah kesepakatan. Setidaknya tidak menikahlah.


Namun, Aisyah kembali terbayang ketika bercakap dengan mamanya David. Mereka duduk bersebelahan di sofa ruang tamu saat itu. Sang mama menatap Aisyah dengan ramah, walaupun sang papa terlihat begitu dingin kepadanya sesaat sebelum meninggalkan mereka.


"Oh, Aisyah. Kamu pacar David?" tanya Nilam, mamanya David.


"Bu-bukan, Tante. Aku hanya temannya." Aisyah meringis karena mamanya David salah paham kepadanya.


"*Maaf, tante salah. Belum pernah tante melihat dia dekat dengan wanita, apa lagi bawa teman wanitanya pulang ke rumah. Kemarin dia di*suruh papanya nikah. Jadi, tante kira sekarang dia bawa calonnya." Nilam tertawa kecil seraya menutup mulutnya.


Kata-kata itu selalu berdengung di telinga Aisyah. Ingin tidak percaya, tetapi yang mengatakan itu mamanya David sendiri. Tidak mungkin sang mama bersekongkol dengan sang anak untuk membohonginya.


...****************...


Hari yang ditunggu-tunggu Aisyah telah tiba. Dengan pakaian kebaya, wanita itu terlihat anggun. Dia berjalan menuruni podium. Bahagia sudah kini dirinya mengangkat nama kedua orang tuanya.


"Selamat, ya, Nak." Sukiman memeluk sang anak.


Aisyah melepaskan pelukan sang ayah, lalu segera memeluk ibunya. Derai air mata mengalir ketika dirinya mendengar isakan sang ibu. Air mata kebahagiaan tak dapat dibendung, mengalir begitu saja tanpa aba-aba.


Prosesi wisuda telah selesai. Aisyah dan kedua orang tuanya berjalan menuju gerbang kampus. Di sana sudah menunggu Fajar beserta istri dan juga Bagas, sang adik.


Indah segera memeluk sang sahabat yang juga adik iparnya itu. "Selamat, ya, Ais."

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak." Aisyah melepas pelukannya.


Suasana haru terlihat lagi di sana. Fajar begitu bangga melihat Aisyah sedang memakai toga. Dengan jerih payah dan tekat kuat, akhirnya sang adik bisa membanggakan keluarga.


"Mas Fajar jangan nangis dong! Aku ikutan nangis, nih." Aisyah mengusap Air matanya.


Fajar dengan cepat mengusap air matanya juga. "Aku sangat bangga melihatmu seperti ini, Ais."


"Selamat, Ai." Suara berat terdengar dari arah belakang Aisyah.


semua orang pun menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sukiman dan Siti melebarkan bola matanya. Mereka tidak menyangka kehadiran pria itu. Riski datang dengan seikat bunga di tangannya.


"Terima kasih, Kak." Aisyah menerima bunga pemberian Riski.


Hal itu membuat kedua orang Aisyah semakin tidak percaya. Dalam benak mereka ada sebuah tanda tanya besar. Apakah Aisyah sudah kembali kepada Riski?


"Pak, Bu." Riski mengulurkan tangan.


Meskipun ada rasa jengkel di hati kepada Riski, Sukiman dan Siti masih menghargai pria itu. Mereka mengulurkan tangan untuk menyambut tangan sang mantan menantu.


"Kenapa kamu masih menemui Aisyah? Tidakkah cukup kamu menyakiti hati anakku. Sekarang, kamu mau apa lagi?" tanya Sukiman. Dia ingin tahu apa tujuan Riski.


"Maaf, Pak. Aku ti ...." Riski tidak sempat menyelesaikan penjelasannya karena suara menggelegar terdengar dari suatu arah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2