
Kini orang itu telah duduk di samping Aisyah. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya meminta penjelasan. Sungguh tatapan mata yang sangat mengintimidasi. Ya, dialah David.
"Apaan sih kamu? Di sini tadi bukan hanya Ari. Tadi ada Denok juga."
David masih saja diam. Dia tidak puas dengan penjelasan Aisyah.
"Denok ke kemar mandi, jadi Ari menunggu di sini. Tuh, mereka berdua." Aisyah menunjuk ke arah Denok dan Ari yang terburu-buru menjauh.
Devid mengikuti ke mana telujun Aisyah mengarah. Ya, benar saja. Dia melihat Denok dan Ari.
"Lalu, kenapa tadi kamu seperti itu?"
"Seperti itu apa?" tanya Aisyah tak mengerti.
"Kamu memeluk dia hanya untuk mengambil kotak makan ini!" David melempar kotak makan itu ke bawah kaki Aisyah.
Aisyah terkejut akan tindakan David. Tak terasa air mata sidah menggenang di pelupuk mata. Perlakuan kasar pria itu sungguh menusuk hatinya.
"A-aku tidak memeluknya. Aku hanya berpegangan saja. Kenapa kamu seperti itu, sih?"
"Oh, berpegangan kepada seorang laki-laki yang penah suka sama kamu. Kamu ingin aku mencabut beasiswamu?" Lagi-lagi David mengancam Aisyah.
Selalu itu yang kamu katakan. Hal itu yang kamu gunakan untuk menindasku. Apa tidak ada hal lain?
Awal perjanjian itu begitu manis kepadaku. Kenapa sekarang semakin menindasku? Inikah sifat aslimu? batin Aisyah dengan menahan sakit di dada.
Kini bukan genangan lagi, sungai air mata mengalir dari pelupuk menuruni pipi Aisyah yang terlihat bergetar. Dia merasa Rizki lebih baik terhadapnya dari pada David. Tak pernah sekalipun Riski melakukan tindakan kasar kepadanya, memang ucapannya yang begitu. David juga demikian.
__ADS_1
"Dasar cengeng!"
Deasar wanita tak tahu berterima kasih. Masih saja tidak mendengarkan perkataanku, batin David.
David begitu saja meninggalkan Aisyah sendiri di sana. Dengan hati bergemuruh dia mencoba mencari Ari. Bayangan ketika Aisyah mencoba merebut kotak makan di tangan Ari sambil memegang pinggang, menari-nari di pelupuk matanya.
David menemukan Ari tengah duduk bersama Denok di depan gedung fakultasnya. Dia berjalan cepat menghampiri mereka. Akhirnya, sebuah bogeman dia daratkan tepat di pipi kiri Ari.
Akibat pukulan itu, Ari terjatuh dari duduknya. Pria itu mengelus pipinya yang terasa perih. Dia tak berani berkata apa pun, bahkan menatap mata pria yang telah memukulnya.
"Ari!" Denok berlari menghampiri Ari. "Kamu tidak apa-apa?"
Ari hanya menggeleng pelan. Dia sadar mengapa David begitu marah padanya.
"Ma-maafkan a-aku. Aku ...."
"Aku tidak ingin melihatmu dengan Aisyah lagi! Kalau sampai aku melibatnya, kamu akan tahu sendiri akibatnya!" Peringatan David itu begitu terdengar dingin.
...****************...
Mata kuliah Aisyah telah selesai, kini dirinya berjalan keluar dari kelas. Sungguh terkejut ketika melihat mobil David telah terparkir di depan gedung. Biasanya dia harus berjalan sampai ke tempat parkir menghampiri David. Namun, kali ini David yang menghampirinya lebih dulu.
Aisyah berjalan gontai menuju mobil itu. Ada perasaan enggan dalam hatinya untuk pulang bersama David. Apalagi, setelah dia mendengar bahwa David telah memukul Ari. Akan tetapi, dia tidak ingin membuat pria itu marah lagi.
David segera memacu mobilnya meninggalkan area kampus. Hening menghiasi sepanjang perjalanan. Sesekali pria itu melirik ke arah Aisyah. Didapatinya wajah murung gadis itu. Dia menghembuskan nafas panjang.
"Masih marah?" tanya David dengan nada datar.
__ADS_1
Aisyah tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya melirik ke arah David seraya berkata dalam hati, tahu masih marah. Kenapa masih tanya juga?
"Kenapa diam?" David meninggikan suara. " Seharusnya aku yang marah. Kenapa sekarang kamu yang marah?"
"Sungguh wanita susah dimengerti dan tak mau mengerti," gumam David.
Beberapa saat dalam keheningan, akhirnya Aisyah membuka suara.
"Kenapa kamu masih memukul Ari? Belumkah puas kamu memarahiku dan menghacurkan makan siangku?" tanya Aisyah lirih. Gadis itu menundukan kepala.
"Kamu masih saja membelanya." David memukul stir mobil, membuat Aisyah sedikit berjingkat.
"Dia menggodamu. Salahkah aku yang marah saat wanitaku digoda? Seharusnya kamu juga mengerti perasaanku! Memeluk pria sembarangan!"
"Sudah aku bilang, aku tidak memeluknya. Aku hanya memegang bajunya agar tidak jatuh. Kenapa kamu tidak mengerti sedikit pun?"
"Alasan!" David menghentikan mobil karena sudah sampai di tempat kerja Aisyah.
Aisyah memegang hendel pintu untuk keluar. Namun, sebelum dia keluar, David menahan lengan kanannya.
"Ingat, statusmu saat ini. Kamu tidak boleh mencintai orang lain kecuali aku."
"Statu pacar di perjanjian, bukan memberikan hati. Jadi, aku tidak harus memberikan hatiku padamu."
Aisyah menghempaskan tangan David. Dengan sepenuh tenaga, dia membanting pintu mobil.
David menarik sebelah ujung bibirnya. Dia tidak menyangka ada wanita yang begitu berani menentangnya.
__ADS_1
"Suatu saat, kamu pasti akan memberikan hatimu dengan tulus."
Bersambung.