Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Elisa


__ADS_3

"Mengapa kamu mengatakan jika kita sudah menikah? dan mengapa kamu bicara tanpa bertanya dulu padaku?"


"Aku tidak butuh itu"


"Apaa?! Lex kamu sudah membohongi keluargamu"


"Tidak, aku tidak membohongi mereka"


"Maksudmu??"


"Aku akan segera menikahimu"


"Kamu serius?"


"Tentu saja"


"Akan tetapi aku.. ,aku belum sepenuhnya siap, maaf" Renata bicara dengan sangat lembut.


Alex termangu mendengarnya, dan pergi masuk kedalam mobil lebih dulu.


Keesokan hari, pertemuan di ruang rapat, Bob tampak bengis menatap Alex .Alex pun tidak ingin kalah, iapun membalas menatapnya .


"Baiklah rapat sampai disini" Rapat ditutup oleh Bob.


Sepeninggal dari ruangan rapat, Tampak Alex, ia mengatakan pada orang-orang dikantor, jika dia sudah menikah dan memiliki putra . Bob mendengarnya juga Al .


"Benarkah, beruntung sekali dia, saya pikir anda masih lajang". Alex sengaja bersikap ramah pagi itu pada beberapa karyawan ,termasuk karyawan wanita yang menyukainya.


Dikantor Alex tidak kalah disukai , para wanita terus memperhatikannya .


Bob berlalu jalan mengacuhkan Alex , ia hanya ingin fokus pada pekerjaannya.


"Kita berhasil mendapat proyek baru" ucap Al.


"Bagus" Bob melihat pada Alex dari kaca jendela ruangannya.


Bob berpikir dan bertanya-tanya "Benarkah mereka telah menikah? dan benarkah anak itu milik mereka"


, mata Bob berkaca-kaca memikirkannya .


Tak .. tak , suara langkah Dila , ia hendak menemui Bob. Dila mengetuk pintunya .


"Masuk" suara Bob dari dalam, Dila pun masuk keruangannya, nampak bernafas lega.


"Ahhhh, akhirnya aku dapat menghirup udara disini lagi"


Dila tersenyum pada Bob. Namun Bob tidak memandangnya sama sekali.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dila, menghampirinya,


"Aku sedang bekerja"


"Lihat kemari, aku membawa beberapa undangan"


Dila menyodorkannya , tepat kehadapannya.


"Ini bagikan pada teman dan klien terdekatmu"


Bob nampak kesal , "Kamu memintaku membagikannya?" menatap Dila.


Dila terdiam , tiba-tiba ketakutan.


"Ya , emm tapi jika kamu tidak mau, biar aku saja atau ini aku berikan pada Al, biar Al saja yang membagikannya"


Bob menatapnya dengan sorotan yang tajam. Dila menyimpan kartu undangannya di meja.

__ADS_1


"Baiklah hanya itu, aku pamit, maaf sudah mengganggu" Dila cengengesan, cepat-cepat ia pergi dari hadapan Bob.


Bob mematahkan pensilnya ,pelampiasan kemarahannya.


Tak lama menatapnya, Bob mengambil undangan itu dan membuangnya ke tempat sampah.


*****


Keesokannya Alex berencana mengajak Renata ke kantor urusan nikah.


"Kenapa kamu diam?" tanya Alex, pada Renata,


"Terserah kamu mau anggap aku apa, pembohong atau apalah itu , tapi maaf, saat ini aku masih belum (terhenti) bisa!?" ,Renata bicara terbata-bata, kepalanya tertunduk, tak sanggup menatap Alex.


Alex menatapnyaa dengan kasihan,


"Renata ia terlihat gugup" gumamnya dalam hati.


"Baiklah , aku akan menunggu sampai kamu bersedia" jawab Alex dengan sabar.


Renata sangat takut jika Alex akan marah dan memaksanya, namun ternyata Alex begitu baik, Renata pun menghela nafas, bernafas lega.


"Aku sudah berjanji akan menikah dengannya, akan tetapi mengapa hati ini masih begitu berat" Renata mengeluh dalam hati.


"Nanti malam Ayah akan mengadakan pesta untuk kita, aku akan menjemputmu setelah pulang dari kantor"


"Baik" Renata mengangguk.


Renata tahu jika dia salah, telah menginkari ucapannya sendiri, dia pernah berjanji bersedia menikah dan telah menerima lamarannya.


"Apa yang dapat kuharapkan dari Bob lagi" , Renata terus berceloteh dalam hati, sembari mengantarkan Alex, berjalan pergi hingga masuk kedalam mobilnya. Renata ia tersenyum menghantar kepergiannya.


Renata mengingat kata-kata yang ia lontarkan setelah Alex melamarnya, Renata berpikir keras ,


"Mengapa aku mengatakan itu?!" ada penyesalan.


"Dia masih menolakku" Alex tampak kacau , dia mengemudikan mobilnya sendiri, tanpa Alex sadari saat ia tertunduk sebuah mobil sudah berada dihadapannya, hampir saja mereka bertabrakan . Alex sangat terkejut , beruntung dirinya masih dapat menghindar, dan mengendalikan mobilnya . Jalanan sekilas menjadi macet karena kejadian itu.


Alex sangat kecewa , iapun memukul setir .


"Sial, hampir saja" , jantungnya berdetak cepat, dan tubuhnya terasa lemas.


"Nata, betapa aku memikirkanmu, mengapa kamu begitu menyakitiku" Alex tak dapat menahan rasa kecewa dihatinya , meneteskan air matanya.


Alex melanjutkan perjalanannya, kini ia pergi menuju kantor perusahaan miliknya.


"Tuan seperti nya keadaan anda sedang tidak baik" Boy bicara pada Alex.


"Nanti malam akan ada pesta, jangan lupa hadir" Alex bicara sembari menandatangani beberapa dokumen diatas mejanya.


"Baik"


Boy terus memikirkan sikap Alex akhir-akhir ini. Dia merasa iba dengan Alex. Boy pergi keluar dari ruangannya .


Malampun tiba , dirumah mewah dan besar itu pesta digelar, betapa antusiasnya Ayah Alex , ia menyambut para tamu dengan suka cita .


Semua orang tampak senang dengan adanya pesta tersebut, tidak sabar kabar bahagia apa yang menanti mereka.


Semua kalangan diundang , orang-orang ternama dikota ,satu negara bahkan di negara lainpun turut hadir.


Dan tiba lah sebuah mobil , dia adalah Bob bersama Al , tak lama kemudian disusul iring-iringan mobil Alex. Renata tampak gugup, begitu ramai dan istimewa acara tersebut .


"Kenapa?" tanya Alex,


"Aku takut melakukan kesalahan"

__ADS_1


"Jangan takut, kamu cukup tetap berada didekatku" Alex menenangkannya.


Raka yang terkesima sangat senang, ia berjingkrak-jingkrak dari tempat duduknya .Renata dan Alex tertawa melihatnya .


"Ayo" Alex mengajaknya turun.


"Cih" Bob menatap nya dengan sinis .


Al terkejut melihat Nata ,"Bos , itu seperti Nyonya"


Bob tidak ingin menjawabnya . Mereka pun masuk lebih dulu .


Semua tamu menyambutnya ,


"Putraku telah datang" seru Ayahnya , para tamu pun bertepuk tangan .


Dita yang berada disana, turut dalam acara pesta sangat terkejut " Tidak, tidak mungkin?! benarkah yang aku lihat ? , dia ,dia seperti Kak Nata" bisiknya dalam hati .


Ayah Alex memeluk putranya ,


"Nah hadirin semua , kalian tahu ini adalah putraku ?"


"Ya.. ya" semua tamu tampak ricuh dan bersuara berisik.


"Sekarang adalah hari istimewa penyambutannya , dan ada yang lebih istimewa lagi yaitu kini putraku sudah menikah dan aku sudah jadi kakek" Tawanya bangga.


"Selamat Pak Ketua"


"Selamat Tuan" Semua orang menyelamatinya . Dan serentak merekapun bertepuk tangan .


"Sayang menantuku kemarilah"


Renata pun menghampiri Ayah ,


"Cucuku kamu juga sini" , Raka pun berjalan mengikuti Mamanya , Renata menuntunnya . Alex tersenyum bahagia.


Di situasi lain , perasaan Bob sangat terbakar , matanya memerah ,Aldi pun merasa cemas.


Renata berdiri dihadapan para tamu, memberi salam dan hormat pada mereka .


"Perkenalkan nama saya adalah Elisa dan ini adalah Raka" .


Renata ia terlihat sungguh cantik ,saat tersenyum. Para tamupun bersorak padanya , mereka sungguh terpukau dengan penampilan Elisa yang begitu cantik dan elegant, semua tamu memujinya.


Para tamu tidak perduli pada latar belakang Renata, bahkan mereka tidak mengetahui kebenaran tentang Renata, tidak banyak yang mengetahuinya , apalagi kini Renata tampak berubah. Kini ia tampak sangat dewasa .


*******


"Dimana dia?" tanya Dila sangat kesal .


"Beliau sedang menghadiri sebuah pesta"


"Brengsek , berani sekali dia tidak mengajakku, dimana pestanya?" tanya Dila. Bawahanya pun memberikan alamatnya .


"Baiklah, aku akan pergi menyusulnya" Dila segera beranjak dari tempatnya .


*******


Bob sangat ingin sekali bicara lebih dekat dengan Nata, ia terus memperhatikannya , namun saat ini sangat sulit mendekatinya .


"Bos, bukankah dia nyonya? wanita itu sangat mirip sekali, meskipun penampilannya sungguh berbeda"


Bob hanya menyeringai .


"Tapi dia bernama Elisa , sungguh tidak dipercaya ada dua orang wanita yang begitu identik mirip,apakah Nyonya memiliki saudari kembar?"

__ADS_1


Aldi bertanya penasaran.


__ADS_2