
Pagi yang cerah, Aisyah sudah kelihatan siap untuk berangkat kuliah. Dia menutup pintu, lalu menguncinya. Wanita itu berjalan keluar tempat kos menuju jalan raya untuk naik bus.
Setiap harinya, Aisyah memang masih naik bus untuk sampai di kampus. Dia tidak berangkat bersama David bukan karena pria itu tidak mau mengantar, tetapi dirinya yang menolak. Gadis itu tahu betul bahwa sang pria selalu datang terlambat ke kampus, jadi dia tidak mau itu.
Lima menit setelah Aisyah naik bus, sebuah mobil sport mewah masuk gang. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang kos. Seorang pria tampan turun, lalu segera masuk ke lingkungan kos.
Pria itu mengetuk pintu kamar Aisyah, tentu saja sang penghuni tidak keluar. Dirinya tidak tahu jika orang yang ingin ditemui telah pergi beberapa menit yang lalu. Dia tidak memberi kabar karena ingin membuat kejutan.
"Cari Aisyah?" tanya seorang ibu dengan menggedong anak kecil.
Pria itu menoleh, lalu mengangguk pelan. "Iya."
"Dia sudah berangkat."
"Sudah lama, Bu?"
"Baru saja."
"Terima kasih." Pria itu membungkukkan badan sedikit. Dia segera meninggalkan tempat itu untuk menyusul Aisyah menuju kampus.
Bus yang ditumpangi Aisyah kini telah sampai di depan kampus. Gadis itu turun dengan peluh membanjiri tubuhnya. Sungguh perjuangan pagi yang sangat melelahkan karena harus berdesakan di dalam bus.
"Aisyah!" Seorang pria melambai ke arah Aisyah. Pria itu berlari kecil ke arah sang gadis.
"Hai!" Aisyah melambaikan tangan juga.
"Bagaimana dengan tugas analisismu? Apakah sudah selesai?"
"Aku sedang memikirkannya. Aku kurang tahu tempat-tempat di kota ini, jadi aku sedikit kebingungan." Aisyah menampakkan sedikit senyumnya.
__ADS_1
"Benar juga. Kamu, 'kan, orang baru di kota ini. Maklum jika belum tahu banyak tempat ini." Pria itu membalas senyum Aisyah.
"Bagaimana jika kita buat analisis bersama?" usul sang pria.
"Boleh. Kapan kira-kira kita akan pergi?" tanya Aisyah antusias.
Aisyah dan pria itu masih bercakap-cakap sambil menyusuri jalan utama kampus. Mereka terlihat begitu akrab. Tentu saja karena mereka teman sekelas.
Dari kejauhan, seseorang di dalam mobil sprot telah mengamati mereka sejak tadi. Nafasnya memburu ketika melihat kedua orang iru tertawa bersama. Sungguh pemandangan yang menyakitkan matanya.
"Aku terlalu baik padamu selama ini, sehingga kamu bisa sesuka hati seperti itu." Pria itu menggenggam erat stir mobil.
"Untuk selanjutnya, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Kamu harus mengikuti semua perkataanku!"
Pria itu turun dari mobil. Dia membanting pintu mobil sekencang mungkin, hingga rang-orang di sekitar menoleh ke arahnya. Tidak terkecuali Aisyah.
"Ayo, ikut denganku!"
Tangan Aisyah ditarik kasar, membuatnya meringis menahan sakit. Dia sedikit berlari untuk mengimbangi langkah pria itu.
"Masuk!"
Aisyah duduk di kursi depan samping sopir dengan memainkan tangan, mencoba mengurangi ketakutannya. Matanya terus mengikuti kemana sang pria pergi, hingga kini pria itu telah duduk di belakang kemudi.
"Kamu kenap, sih, Vid?" tanya Aisyah sedikit meninggikan nada suaranya, walaupun takut. Dia tidak ingin terlihat takut agar si pria tidak menindasnya.
"Kamu sudah menyalah gunakan kebaikan hatiku!" Suara David terdengar dingin.
Aisyah semakin ketakutan mendengar ucapan David barusan. Tidak pernah dia mendengar pria di sampingnya semarah itu. Aisyah tak mau manatap pria itu karena takut.
__ADS_1
"Ma-maksud kamu?" Suara Aisyah terdengar sedikit bergetar dan tidak setinggi tadi.
"Kamu sudah lupa dengan perjanjian itu?"
"Perjanjian mengatakan jika aku hanya jadi pacar kamu, bukannya melarangku untuk berteman dengan siapapun. Benar begitu, 'kan?" Aisyah mencoba membela diri.
"Memang perjanjian mengatakan bahwa kamu itu pacarku. Tapi, Apa menurutmu seorang pacar berani bermain di belakangnya?" Tatapan mata David sangat mengintimidasi.
"Tapi, dia hanya teman kelasku. Kami hanya ...."
"Hanya tertawa bersama sangat bahagia. Apakah begitu pertemanan?" David memotong begitu saja penjelasan Aisyah.
"Apaan sih kamu?" Aisyah menoleh ke arah David. "Kamu jangan keterlaluan! Kecemburuanmu tidak beralasan. Masa hanya tertawa bersama kamu cemburu."
"Biarin! Aku tidak suka itu! Kamu mau memprotesnya? Atau aku akan cabut lagi beasiswamu!" ancam David.
Kedua mata pasang bertemu. Tatapan saling tidak suka mereka saling beradu. Akhirnya, Aisyah menarik wajahnya lebih dulu. Gadis itu melipat tangan seraya menatap ke depan. Dia tidak bisa berkata apa pun lagi.
"Mulai sekarang, aku tidak mau melihat kamu jalan atau pun berbicara dengan laki-laki. Satu lagi, kita akan pulang pergi bersama ke kampus!"
"Tapi, kamu berangkatnya siang. Aku tidak mau terlambat sampai di sini."
"Nyatanya sekarang aku sudah sampai di sini. Tidak telat, 'kan?"
Aisyah mengangguk pelan, menyadari bahwa David memang tidak telat.
David mulai melajukan mobil menuju gedung fakultas Aisyah, lalu menurunkan gadis itu di sana. David masih saja di sana hingga sang gadis masuk ke dalam kelas.
Bersambung.
__ADS_1