
"A-apa yang kamu lakukan?"
Aisyah mencoba memberontak, tetapi cengkraman tangan David terlalu kuat. Akibatnya, rahang gadis itu jadi terasa sakit. Dia pun pasrah, lalu menutup mata, menerima apa pun yang akan dilakukan pria itu.
Hembusan nafas hangat semakin terasa di wajah Aisyah. Tanpa terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Dia tahu apa yang akan David lakukan kepadanya. Akan tetapi, tiba-tiba tangan pria itu terlepas.
"Sial! Kenapa aku tidak bisa melakukan itu padanya?"
David mengacak-acak rambut kasar, lalu kembali ke tempat duduknya. Pria itu nampak frustasi atas kegagalannya. Padahal, dia begitu mudah melakukan itu dengan wanita lain.
Aisyah membuka mata ketika mendengar gerutuan David. Wanita itu heran, kenapa David tidak melanjutkan aksinya? Sesungguhnya, dia sudah tak berdaya tadi.
"Cepat! Habiskan makananmu!" perintah David tanpa melihat Aisyah.
Aisyah tak menggubris perintah David. Dia masih saja makan dengan pelan. Hingga makanan di piring David habis, makanan di piring Aisyah masih tersisa setengahnya.
"Kenapa belum habis juga?" tanya David tegas.
"Kalau makan itu tak boleh cepat-cepat, kalau terlalu cepat berarti setan ikut andil dalam makanmu," jawab Aisyah. Wanita itu meneruskan makan lagi.
"Terserah! Tapi, jangan lama-lama!" David mengalihkan pandangan dari Aisyah. "Lama-lama aku tidak tahan," gerutunya.
Aisyah masih saja dengan perlahan menikmati hidangan di hadapannya. Beberapa menit berlalu, hingga wanita itu menyelesaikan makan malamnya.
David segera berdiri, setelah Aiysah menghabiskan jus lemon di dalam gelas. "Ayo! Aku antar pulang sekarang."
"Tapi, aku kan baru saja selesai makan. Tidakkah kita duduk di sini untuk beberapa saat," protes Aisyah.
"Kenapa?" David menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kalau habis makan langsung jalan, nanti perutku suduk'en."
"Apa itu?" David menjeda petanyaannya untuk berfikir apa yang dikatakan Aisyah tadi. "Su-su ...."
"Suduk'en?"
David menganggukan kepala.
"Itu loh, perut akan terasa sakit dan penuh jika setelah makan, perut langsung mendapat goncangan," jelas Aisyah.
"O," ucap David singkat, lalu duduk kembali. Dia pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, berusaha tidak menatap Aisyah. Namun, ujung matanya tak bisa lari dari gadis itu.
Aisyah juga sedang menikmati suasana yang begitu romantis menurutnya. Bunga terpasang di berbagai sudut ruangan. Lilin-lilin kecil di atas meja dan tergeletak di lantai sekitar, membuat cahaya temaram yang semakin memperindah suasana.
Susungguhnya, ingin rasa hati Aisyah untuk mengambil gambar diri di sana. Akan tetapi, dia terlalu gengsi untuk melakukan itu. Wanita itu takut jika David segera berbangga hati jika dia menikmati susana yang diciptakan sang pria. Jadi, Aisyah menikmati dengan melihatnya saja dan sesekali tersenyum tipis.
Aisyah pun segera mengerucutkan bibir karena ketahuan oleh David. Dalam hati wanita itu, dia merasa malu, sehingga membuat pipinya merah.
Melihat perubahan wajah Aisyah, David semakin gemas. Pria itu menghembuskan nafas panjang dan pelan. Dia mencoba mengurangi perasaan itu, tetapi sia-sia.
"Ayo, kita pulang!" David menarik tangan Aisyah, hingga mereka berdua beranjak dari kursi.
"Padahal aku masih mau di sini, loh," gumam Aisyah pelan. Akan tetapi, masih terdengar oleh telinga David.
David menghentikan langkah, lalu menatap ke arah Aisyah. "Apa? Kamu menyukainya?"
"Ti-tidak!"
"Jujurlah! Aku sangat senang jika kamu jujur." David membelai lembut pipi Aisyah.
__ADS_1
Aisyah segera menghempaskan tangan David dari pipinya. "A-aku bilang tidak! Ayo, kita pulang."
Kini, Aisyah menarik tangan David, membawanya meninggalkan ruangan itu. Akan tetapi, David tahu jika wanita itu memang mengaggumi dekorasi di sana. Semua nampak dari ekspresi wajah dan juga kegugupan Aisyah ketika kepergok oleh pria itu.
"Kalau kamu suka, nanti ketika kita sudah menikah, aku akan buat kamar kita jadi seperti itu."
Aisyah seketika mematung, tak dapat berpikir sedikit pun. Entah, apa yang baru saja didengarnya membuat jantung seperti ingin lepas. Dia tidak menyukainya, tetapi kata-kata itu cukup membuat kaget.
"A-apa kamu bilang? Me-menikah?"
"Jangan gugup begitu, dong, Sayang. Tenang saja. Aku akan memperlakukanmu halus saat malam pertama."
Aisyah semakin syok. Kenapa ada malam pertama segala? Kelanjutan hubungan mereka saja belum dipikirkan olehnya.
Aisyah melirik sinis ke arah David. Dirinya melihat pria itu senyum-senyum genit, membuat merinding tubuhnya. Terlintas di atas kepala saat dia dan David berada di dalam kamar berdua.
"Tidak! Tidak! Tidak! Dasar otak mes-- kamu!" Aisyah menyilangkan tangan di atas dada seraya menatap ke depan.
"Mes-- maksud kamu?" Sekian detik David berpikir, saat itu pula dia tersenyum kembali. "Aku tidak memikirkan itu. Kamu pasti mikirin itu, ya? Atau, jangan-jangan kamu mau itu?"
"Eh! Kok jadi aku?" Aisyah menatap David tak suka. Namun, pria itu malah tersenyum ke arahnya terus. Dia segera menatap ke depan kembali.
"Sudah! Ayo kita pulang!"
"Baiklah, Tuan Putri."
David melajukan mobil meninggalkan tempat itu. Dia masih terbayang senyum Aisyah saat mengagumi suasana ruangan yang dibuat olehnya. Sungguh, senyum itu membuat dirinya bagaikan terbang malayang.
Bersambung.
__ADS_1