Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Novel Baru --> Sekadar Pelindung


__ADS_3

Sudah ada karya baru lagi, nih. Yuk, Teman-Teman, silahkan mampir. 😊



Olokan warga memang menyakitkan, hampir setiap saat Silvi Anastasya menerimanya, baik secara langsung maupun gunjingan di belakang. Mereka menganggap gadis itu sebagai perawan tua karena belum menikah di usia 21 tahun, di luar kebiasaan wanita di sana yang menikah muda. Sedih memang, tetapi dia tetap setia menanti dalam diam seseorang yang dipercaya akan datang dan berusaha ceria untuk melupakan ucapan tajam tetangga.


Saat ini Silvi tengah melangkahkan kaki dengan lincah di atas jalan setapak penuh semak belukar di kanan dan kiri. Dirinya masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar, selain untuk menghilangkan rasa sedih, juga sebagai baktinya kepada kedua orang tua. Dia berhenti tepat di bawah pohon besar dengan kayu berserakan di sekitarnya.


"Apa itu?" Silvi menyipitkan mata, memperhatikan benda di antara semak belukar.

__ADS_1


Mata Silvi seketika melebar, tubuh terasa bergetar saat melihatnya dengan jelas. Tanpa mengucapkan satu patah kata, dia segera berlari meninggalkan tempat itu.


Sosok pria berbalut jas hitam dan celana senada tercetak jelas dalam ingatan. Warna merah melumuri beberapa bagian tubuh. Hujan semalam menyamarkan corak itu, membawanya meresap ke perut bumi. Sungguh terlihat sangat tragis keadaan sosok tersebut.


"Kamu kenapa, Silvi?" tanya Ayu.


Guratan sejajar tampak di kening wanita paruh baya itu. Kecemasan secara alami terpancar dari pemilik wajah sawo matang. Seorang ibu yang khawatir melihat sang anak berlari tergopoh-gopoh.


"Duduk dulu." Ayu merangkul Silvi.

__ADS_1


Ibu dan anak itu menuju belahan bambu kering yang ditata sejajar. Suara decitan terdengar ketika kedua orang itu menimpakan semua berat tubuh ke atasnya. Usia memang tak dapat ditipu walau terlihat kokoh dengan empat buah potongan utuh menopang.


Budi yang tengah membersihkan pekarangan belakang segera melepaskan helaian rumput yang terpisah dari akarnya. Dia segera menghampiri mereka setelah melihat sang anak yang panik. Tubuh renta itu duduk bersanding dengan belahan jiwa itu.


"Kenapa, Nak? Ngomong aja," tanya Budi lirih. Tangan tua itu mengusap lembut punggung yang tertutup rambut wanita di sampingnya.


Silvi mencoba mengatur udara yang keluar-masuk melalui hidung, tetapi masih terlihat jelas ketakutan di wajahnya. Tubuh terus saja bergetar, tak dapat menyembunyikan perasaan. Pikiran tak dapat fokus, terbang bersama kengerian di mata.


"Pa-pak, ada mayat di hutan," jawab Silvi dengan suara bergetar. Suaranya tersengal, tertahan udara yang terkadang enggan masuk ke paru-paru.

__ADS_1


Yuk, langsung lanjut baca lanjutan ceritanya. 😊


__ADS_2