
Al "Tuan, ayo kita pulang"
Bob larut dalam kesedihan, hati yang teramat sakit, dia tidak mengetahui kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga Renata menjadi menolaknya, dia tidak tahu dengan alasan apalagi, agar Renata tetap disampingnya .
Bob sudah minum banyak, namun dia masih dalam keadaan stabil . dia hanya diam tidak bereaksi pada apapun . Al yang kesal , tidak perduli jika dia akan dimaki Bob, dia segera memapahnya ,keluar dari klub, masuk kedalam mobil .
Ini belum pernah terjadi, dalam pikiran Al, jika kali ini Bob benar-benar serius , dia pun sungguh heran, untuk mengikat wanita mengapa Bob harus sampai melibatkan uang dan hutang dalam halnya , padahal uang itu tidaklah seberapa bagi Bob.
"Bos kamu bermain-main dengan hatimu sendiri"
"Emmm" Bob menyadari apa yang dikatakan Aldi.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan"
"Maaf jika aku lancang, jika kamu benar-benar menyukainya ,mengapa tidak bilang saja, tanpa mengaitkan dengan hutang"
Bob berpikir, jika diapun tidak menyangka, jika ia akan semakin dalam mencintai Renata, rasa penasaran akan karakter Renata, menuntunnya pada keseriusan cinta. Hasrat ingin memiliki dirinya jadi sepenuhnya.
"Dimana dia sekarang, kamu tanya dimana dia sekarang" teriak Bob.
Al tak dapat menolak, segera mengeluarkan handphone dari sakunya.
Namun Renata tidak menjawab panggilannya,
"Nyonya, tuan dalam kondisi tidak sadarkan diri, bagaimana pun anda masih istrinya, aku tak bisa menemani tuan, segera lah kembali untuk mengurusnya" Al tidak perduli apakah Renata akan membaca atau pun tidak, ia tetap harus datang.
Al mangambil gambarnya, dan mengirimkannya pada Renata.
Renata membaca pesannya, dia masih terjaga ditengah malam, melihat kiriman pesan tersebut,melihat Bob yang tertidur dalam mobil.
"Kalian dimana?"
"Nyonya sebutkan saja alamat mu"
__ADS_1
"Apa?"
"Cepat"
"Baik" ,reflek Renata menyebutkan alamat kosnya , Al pun bergerak ke alamat tersebut.
"Nyonya keluarlah"
Renata keluar dari kamarnya, "Aku akan ikut denganmu, aku tidak bisa mengurusnya disini"
Al mengerti, tanpa berbicara, Al membukakan pintu mobilnya.
Bob yang tertidur karena mabuk, dia tidak menyadari jika dia berjalan dipapah Al juga Renata masuk kedalam kamarnya, Renata menjaga Bob tidur disofa kamarnya.
Waktu berlalu sudah hampir pagi, Bob bangun lebih awal tanpa disadari Renata. Bob menciumnya dengan perlahan, dan Renata pun membuka matanya, terkejut Bob sudah dihadapannya, Bob memegang kedua pergelangan tangannya, memaksa ingin menciumnya, Renata berontak , "Hentikan, jangan paksa aku berbuat kasar" , Bob pun beranjak dari atas tubuhnya melepaskan tangannya.
"Apa arti diriku dimatamu?" lanjut Bob,
"Bob dia bertanya padaku dalam keadaan mabuk?" Renata bergeming dalam hati,
"Aku tidak tahu" dengan datar dan was-was Renata hanya menjawabnya begitu.
Bob mendekat kearahnya lagi, menjatuhkan dirinya dalam pelukan Renata, "Jangan pergi dariku, jangan"
Renata sangat tercengang , dengan memahami sikap Bob selama ini, tidak mungkin jika benar dia telah mengatakan itu . "Apa yang Bob maksud?"
Dengan rasa tidak percaya, Bob pun tidak sadarkan diri dipelukannya , Tubuh Renata tidak cukup menopang beban berat badannya Bob yang terlalu lama , Renata bergerak menjatuhkannya diatas ranjang, namun "Brug" Renata tertarik jatuh juga menimpa Bob dibawahnya.
Renata kaget jika tubuhnya menekan tubuh Bob, segera bangkit , namun Bob membuka kedua matanya menatap dan menahannya, Bob memeluknya dengan keras, "Tetap seperti itu , jangan bergerak"
Renata tidak mendengar, berusaha untuk keluar, Bob menahannya "Kamu tidak dengar , kamu telah membangunkannya"
Renata tercengang , seolah tidak mengerti apa yang Bob katakan, namun dia merasakan sesuatu dibawah tubuhnya yang rapat, " Ini, ini adalah"
__ADS_1
Renata terkejut dengan itu , mendorong keras dari Bob segera untuk bangun namun malah, "Ahh" terpental jatuh lagi keatas Bob .
"Aa" Bob kesakitan tertindih sangat keras oleh Renata, Renata segera bangun , dan pergi dari kamar Bob.
"Celaka, apa yang baru saja terjadi"Renata tidak ingin membayangkannya.
Waktu menunjukkan telah siang, Bob terbangun dari tidurnya, seluruh tubuhnya sedikit kaku dan sakit. Bob mengambil air minum dimeja kamarnya . Terdiam sebentar dengan menahan kepala yang sakit karena pusing , Bob menyadari jika dia seperti baru saja bersama Renata, namun dia berpikir kembali jika itu pasti hanyalah mimpi.
Mandi dengan shower , membasahi seluruh tubuhnya, semua pikirannya seperti segar kembali, "Renata kamu tidak bisa pergi dariku" Bob tersenyum dalam hatinya, dia memiliki rencana, dengan buku nikah ditangannya.
Jam waktu istirahat, beberapa orang berbisik "Semua orang sedang meributkan apa?"
"Nat , ayo kita juga lihat" rasa penasaran Unge.
Roy hanya menatap dari jendela kampus.
Renata dan Unge berjalan diantara keramaian, melangkah lebih dekat kearahnya, seorang pria yang tidak asing tersenyum ,melambaikan tangan padanya, Unge tercengang melihat nya, berteriak kagum "Waaah" segera Renata menutup mulutnya, Bob berjalan menghampiri Renata diantara keramaian, menghampirinya, dia membawa ditangannya,tersembunyi dibelakang, semua orang menyingkir memberi jalan, bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan, Bob mendekat tepat dihadapan Renata, Renata mencoba menghindari nya pergi , namun Bob mencegahnya ia meraih lengan Renata, membisikkan sesuatu padanya, semua orang berteriak , berseru dan juga ada yang bertepuk tangan , "Apa kamu???!!" Renata terkejut setelah mendengar apa yang Bob bisikkan, Bob memberinya sekuntum bunga yang sangat cantik, tersenyum memberi isyarat , "Baik,ayo" Renata mengikuti nya, Bob tersenyum , "Unge aku ada urusan"Renata berjalan bersama Bob meninggalkan Unge , yang berteriak dengan beberapa orang lainnya . "Nat, semoga berhasil" , begitu sumringah, meskipun setelahnya ia bertanya-tanya, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Nat ,apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan dia" ,Roy bicara dalam hatinya, melihat Renata pergi menaiki mobil bersama Bob.
"Stop, berhenti didepan"
Bob mengacuhkan perintah Renata, "Aku bilang berhenti, kita bicara disini saja" , Bob pun menurut dia memarkirkan mobilnya kepinggir, segera membuka safety belt, menghampiri Renata, sebuah tatapan yang begitu dekat ,Bob menahan safety Belt Renata, mencengkramnya, seolah tidak akan melepaskan buruannya, Renata menghela nafas yang begitu panjang, dia tidak tahu apa lagi yang Bob inginkan darinya, Bob mendekat, was-was yang Renata rasakan, Renata tidak bisa melihatnya lebih dekat lagi, jarak yang begitu dekat, jantungnya berdebar, Renata menutup matanya, Bob ingin menciumnya, namun mengurungkan niatnya, dia hanya tersenyum,
"Lihatlah"
Renata membuka matanya perlahan,"Kamu pikir kamu bisa dengan mudah pergi, mempermainkan ku begitu saja?, ini sah (menunjukkan sebuah amplop),semua yang kita buat disahkan, kamu tidak bisa membuat aturan mu sendiri, kamu tahu jika kamu melanggar perjanjian ini?, tidakkah kamu memikirkan keluargamu , keluargaku, bertahanlah beberapa lama untuk ini, bisakah?"
"Apa?? jadi kamu mengancamku dengan ini?"
Bob tersenyum , melajukan mobilnya kembali, hendak membawa Renata kesuatu tempat.
"Ini adalah kantor, apa yang dia rencanakan?" Renata menatap tingginya bangunan gedung itu, seraya berpikir apa yang akan ia lakukan dengan mengajaknya kemari .
__ADS_1
Bob keluar dari mobilnya , berjalan kearahnya , membukakan pintu ,Renata keluar dari mobil , Bob memegang lengannya, berjalan menuntunnya, semua pegawai yang melihatnya, memberi salam , menundukkan kepala dengan rasa hormatnya , Renata merasa canggung dia tidak ingin melihat terlalu lama, berjalan sesekali menundukkan kepala.
Al yang berada ditempatnya, segera beranjak setelah melihat pertunjukkan itu tepat dihadapannya.