Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 132. Nasehat Nenek.


__ADS_3

David menbanting apa saja yang ada di dalam kamarnya, hingga laptop gaming berlogo apel yang tak utuh pun menjadi sasarannya. Pria itu berteriak, mengeluarkan emosinya. Akhirnya, dia terduduk di pinggiran ranjang.


"Kenapa aku begini? Tidak pernah aku seperti ini sebelumnya. Hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini."


"Aisyah, kenapa juga kamu mengabaikanku? Aku tidak bisa menerima itu!" David menggenggam erat rambutnya.


Ketukan pintu beberapa kali terdengar, tetapi tidak dapat mengalihkan David dari lamunan. Pintu pun akhirnya terbuka perlahan. Seorang wanita tua masuk dengan kursi roda.


Perlahan kursi roda mendekati David. Tanpa pria itu sadari sebuah tangan keriput membelai lembut rambut sang jujur.


"Kamu, kenapa, Sayang? Kenapa kamarmu berantakan sekali?" tanya sang nenek sembari memindai setiap sudut kamar yang sudah seperti kapal pecah.


David tak kunjung menjawab. Matanya masih terlihat kosong. Bahkan, pria itu juga tidak menoleh ke arah sang nenek.


"Sayang." Nenek menggoyang lembut tubuh David.


" Nenek," panggil David lirih seraya menoleh ke arah sang nenek.


Mata David sudah tampak berkaca-kaca. Pria itu segera menjatuhkan kepalanya ke pangkuan sang nenek. kali ini, dia membutuhkan tempat untuk bersandar.


Nenek membelai lembut kepala David. "Apa yang membuat cucu nenek seperti ini? Coba cerita sama nenek."


"Nek, apakah salah jika memaksa sebuah cinta?"


"Tidak salah, tapi ...." Nenek menghentikan ucapannya karena David memotong.


"Tapi, kenapa Aisyah bilang kalau itu salah?" tanya David sedikit meninggikan nada suaranya. namun, dia masih dalam posisi sebelumnya.


"Ternyata Aisyah, gadis yang telah membuat cucuku seperti ini." Nenek terkekeh pelan.


Tapi segera menegakkan kepalanya setelah mendengar sang nenek terkekeh. Nibirnya pun seketika tertekuk. Mata pria itu menatap nenek sedikit menyipit dengan alis menyatu.

__ADS_1


"Nenek, kok, malah ngetawain, sih! Tidak menghibur hati cucunya yang lagi sedih ini."


"Mau bagaimana lagi? Tadi nenek mau menghibur kamu, kamu main potongnya aja."


David menundukkan kepala seraya tersenyum. Dia malu mendengar ucapan sang nenek. Kemudian, pria itu menegakkan kepalanya kembali.


"Maaf, Nek. Tadi, hatiku dipenuhi dengan amarah. Aku lagi marah sama cewek itu. Sungguh menyebalkan!" sungut David.


"Menyebalkan bagaimana?" Tanya nenek penasaran.


"Tadi siang aku coba membuat dia marah dengan bermesraan sama wanita di depan matanya. Tapi hasilnya, dia tidak merespon sama sekali. Huh, sangat menyebalkan, 'kan?"


Nenek menutup mulut untuk menyembunyikan tawanya. Wanita tua itu geli melihat ekspresi wajah sang cucu yang ngambek seperti anak kecil minta coklat.


"Tumben ada gadis yang bisa bikin cucuku sebal. padahal, biasanya kamu yang menyebalkan. Sekarang hanya dia cuekin kamu, kamunya udah sebel. sungguh hebat gadis itu."


"Ih, Nenek, malah ledekin aku!"


"Tidak tidak. Kamu itu kan Cucu nenek yang paling ganteng dan baik hati. Mana mungkin nenek ledekin kamu," kata nenek seraya mencubit pipi kanan David.


"Kamu mau panasin hati cewek itu? emang dia suka sama kamu? Sampai kamu mau panasin hatinya," Tanya nenek.


"Dia itu pacarku, Nek. Aku juga udah bilang sama dia, walaupun dia tidak mau," jelas David.


"Oh, jadi ini maksud dari pertanyaanmu tadi?" Nenek sekarang mengerti apa yang dimaksud dengan cucunya tadi.


David menganggukkan kepala. "Nenek, yang lebih berpengalaman, pasti tahu, dong," ujar David.


Sang nenek menutup mulut lagi, menahan tawanya. "Kalau nenek lihat tentang memaksa cinta, apalagi yang memaksa itu adalah kamu, sudah pasti itu salah."


"Kenapa, Nenek, bisa bilang begitu?" David membuat lipatan di antara dua alisnya.

__ADS_1


"Nenek tahu bagaimana sifatmu. Cara memaksanya pasti seenakmu sendiri. Tidak peduli dengan perasaannya. Satu lagi, kamu pasti banyak membuat peraturan buat dia."


"Tidak, aku tidak membuat banyak peraturan untuknya. Bahkan aku baru beberapa minggu menjadikannya pacar. Aku cuma mau dia jauh-jauh dengan pria lain. Sudah hanya itu saja," jelas David.


"Hanya itu?" Tanya nenek seakan tak percaya. David menganggukkan kepala untuk mengingatkan.


"Kalau cuma itu saja, wajar, sih." Nenek berpikir sejenak. "Pasti ada yang lain?"


"Ya, pria yang aku suruh jauhi adalah sahabatnya," ucap David sembari menampakkan gigi-giginya.


"Kamu itu." nenek menggelengkan kepala. "Pantas saja dia tidak mau. Jangan suka memaksakan kehendak seperti itu! Lebih baik, kamu buat dia terkesima akan sifatmu."


"Seperti apa itu, Nek?" tanya David yang tidak mengerti akan maksud neneknya.


"Ya, kamu manjain dia, berbuat baik di depannya. bukan malah bermesraan seperti itu. hal itu akan membuatnya semakin tidak suka sama kamu."


"Aku kan kadung jengkel sama dia." David teringat lagi akan kejadian saat itu. Wajahnya pun seketika masam kembali.


"Sebelum terlambat, bersikap Baiklah dan perhatian padanya agar kamu bisa mencuri hatinya!" perintah nenek.


"Tapi, wanita lain tidak aku perhatiin juga mau sama aku," ujar David sombong.


"Ingat, sayang! Tidak semua wanita sama. Mungkin wanita lain suka sama kamu karena hartamu dan tidak dengan gadis itu."


David memikirkan kata-kata sang nenek. Dia merasa bahwa perkataan sang nenek ada benarnya juga. Akan tetapi, pria itu teringat dengan sesuatu.


"Nek, aku udah cabut beasiswanya. Bagaimana dong Nek? Tidak mungkin aku kembaliin lagi. Gengsi lah Nek."


Nenek sedikit melebarkan mata, tak percaya dengan apa yang telah dilakukan sang cucu. "Pikirkan sendiri! Aku mau kembali ke kamar. udah capek."


Nenek meninggalkan David yang masih dengan wajah bingung. Pria itu tidak tahu harus berbuat apa lagi. Terlalu memalukan baginya untuk mengembalikan beasiswa Aisyah begitu saja. Dia harus mencari cara agar gadis itu mau meminta beasiswa lagi.

__ADS_1


Beberapa saat berpikir, akhirnya David menemukan satu cara yang menurutnya ampuh. Pria itu berdiri, lalu memanggil pelayan agar membersihkan kamarnya yang kacau.


Bersambung.


__ADS_2