
Satu bulan setelah kejadian itu, David sama sekali tidak menghubungi Aisyah. Wanita itu pun tersenyum getir. Dia sedikit kecewa, hal ini sangat berbeda dengan harapannya.
Ternyata dia seperti ini. Ucapan cintanya waktu itu, aku rasa palsu. Nyatanya, setelah pisah saja tidak pernah menghubungiku lagi, batin Aisyah.
Tidak tahu kenapa, dalam hati kecil Aisyah masih berharap David menghubunginya, lalu memohon. Dia sering membayangkan pria itu memaksanya lagi. Seperti saat ini, ketika dirinya duduk di kantin bersama Dinda, dia juga membayangkan hal yang sama.
"Aisyah, kamu kenapa melamun terus?" tanya Dinda.
Aisyah segera menggelengkan kepala, lamunannya seketika hilang. Dia tersenyum kepada Dinda, mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Apa kamu memikirkan Kak David?"
"Ti-tidak! Untuk apa aku memikirkan pria itu? Aku hanya memikirkan tempat makan yang baru saja aku buka," kilah Aisyah. Wajahnya menampakkan senyum yang dipaksa.
Untuk menghilang pikiran tentang David, Aisyah mencari kesibukan. Sudah satu minggu ini dirinya membuka sebuah warung makan yang diberinama 'Mampir Mriki'. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'Singgah di sini'. Walaupun belum terlalu ramai, setidaknya dapat mengalihkan pikirannya.
Aisyah tidak memiliki target yang muluk-muluk di awal pembukaan. Dia hanya ingin berkembang warung makan itu untuk kedepannya. Itu pun nampak nyata dalam seminggu ini, pelanggan semakin meningkat setiap harinya.
Aisyah menargetkan warung makannya untuk warga menengah kebawah, namun memiliki kulitas tidak kalah dengan kafe. Dengan masakan khas nusantara, pengunjung dapat menikmati berbagai macam menu di sana walaupun tempat itu memiliki nama jawa. Menu andalannya adalah masakan yang termasuk masuk ke dalam makanan terenak di dunia, yaitu rendang.
Rendang masakan Aisyah memang tidak perlu ditanya lagi. Ari saja sampai ketagihan memakannya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, warung makanmu pasti akan maju. Masakanmu sangat enak, sih." Dinda mencoba menghibur Aisyah. "Pulang nanti, bolehkah aku mampir?"
"Tentu saja. Kamu boleh pilih makanan sesukamu." Senyum tulus akhirnya nampak di wajah Aisyah.
"Ah, tidak, ah. Sudah mau akhir bulan. Aku harus berhemat," ucap Dinda. Namun, ada niat terselubung dalam ucapannya tersebut.
"Tenang saja, aku yang traktir kali ini."
"Ih ... terima kasih, Aisyah." Dinda menggenggam tangan Aisyah.
"Tapi, lain kali tetap bayar, loh!" Aisyah melirik ke arah Dinda.
"Iya-iya, jangan khawatir."
...****************...
Dinda dan Aisyah kini sudah memasuki sebuah tempat makan sederhana. Tempatnya pun tidak begitu luas, hanya tujuh kali lima meter saja untuk meja pengunjung. Dibatasi oleh dinding, di belakang adalah dapur dan tempat istirahat karyawan.
Aisyah menyewa tempat itu untuk warung makan miliknya. Terletak dekat dengan tempat kos Aisyah sehingga memudahkan dia untuk memantau setelah pulang kuliah.
Aisyah baru menempatkan empat karyawan di sana. Pagi-pagi, mereka harus memasak bersama. Setelah semua selesai, mereka bersama-sama melayani pelanggan yang datang. Dua orang di depan, mengambilkan lauk pengunjung. Dua lagi mengurus piring-piring kotor setelah pengunjung selesai makan.
__ADS_1
Bumbu-bumbu Aisyah buat sendiri. Pada malam hari, wanita itu sibuk dengan berbagai rempah-rempah. Keesokan paginya, sebelum berangkat kuliah Aisyah akan mampir untuk memberikan bumbu yang telah diraciknya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aisyah. Dia sudah membawa sepiring nasi di tangan kirinya.
Kini Aisyah berdiri di depan menu hidangan di sana. Seperti pelayan, dia mengambilkan apa saja yang diinginkan Dinda. Dia melakukan itu karena ingin memberi porsi ekstra kepada sahabatnya.
"Tentu saja rendang." Dinda tersenyum lebar, menampakkan gigi-giginya.
"Sudah kuduga." Aisyah menaruh beberapa irisan daging ke dalam piring. "Lalu apa lagi?"
"Yang itu sama yang itu." Dinda menunjuk pada udang dan sate usus. " Kuahnya agak dilebihin."
Aisyah hanya menggelengkan kepala mendengar permintaan Dinda.
"Jangan lupa daun singkong dan sambalnya, ya."
"Ini, kecil-kecil makannya banyak juga." Aisyah segera mengambilkan apa yang diminta Dinda.
Dinda hanya senyum-senyum. Dia tidak mau melewatkan kesempatan ini.
"Aisyah, ternyata kamu sekarang bekerja di sini."
__ADS_1
Bersambung.