Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 120. Adu jambak


__ADS_3

Setelah kejadian membonceng David, kini cerita itu menyebar ke seluruh kampus. Setiap Aisyah berjalan selalu saja menjadi pusat perhatian orang. Ada yang menatap Aisyah dengan tatapan sinis, ada juga yang kagum.


Aisyah pun tak luput dari gunjingan mereka. Banyak orang yang menganggap Aisyah itu wanita gampangan karena mau berpacaran dengan David. Akan tetapi, ada pula orang yang mengatakan Aisyah hebat karena bisa meluluhkan.


Namun, Aisyah tak menghiraukan itu semua. Baginya yang terpenting adalah Ari mempercayainya. Aisyah telah menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Ari. Pria itu menyadari situasi Aisyah saat itu.


Kini Aisyah tengah duduk di taman seperti biasa. Gadis itu menikmati makan siangnya sendiri. Ditemani suasana Asri pepohonan di sana.


"Oh, jadi ini wanita murahan itu," ucapin mengagetkan Aisyah.


Aisyah seketika menghentikan makannya, lalu menatap ke arah Denok. Tatapan tajam dia tujukan pada wanita di hadapannya. Wanita itu begitu tidak suka dengan apa yang dikatakan Denok.


"Kamu jangan bicara sembarangan, ya. Apa maumu?" tanya Aisyah dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Aku tidak berbicara sembarangan. Memang semua itu kenyataan, 'kan? kamu itu wanita murahan," ujar Denok dengan menekankan kata murahan.


"Kamu ..." ucap Aisyah terpotong saat dirinya hendak berdiri untuk menampar Denok.


Namun, tindakan Aisyah terhenti ketika teman Dino memegangi tangannya. Wanita itu kembali duduk karena didorong oleh teman Denok. Dia mengibaskan tangannya untuk melepaskan cengkraman itu.


"Kenapa kamu marah? Bukankah itu kenyataannya? Kalau tidak, kenapa kamu masih mendekati Aris setelah berpacaran dengan David?" Denok menjejali Aisyah dengan berbagai pertanyaan.


"Percuma saja menjelaskan seperti yang sebenarnya kepadamu. Kamu pasti tidak akan mempercayai semuanya," ucap Aisyah malas.


"Tentu saja aku tidak akan mempercayaimu yang seorang wanita murahan. Wanita yang gampang sekali dirayu oleh pria." Denok menatap Aisyah dengan sinis.


"Terserah," ujar Aisyah tanpa melihat ke arah Denok.


Aisyah kembali memakan makan siangnya. Dia kini tidak menghiraukan Denok lagi, membiarkan wanita itu berkata semaunya. Baginya yang terpenting adalah dia masih bisa kuliah di sana.

__ADS_1


"Oh! Ternyata seperti ini ya sifat asli kamu. Aku tak mau berlama-lama lagi di sini. Cuma satu yang kuinginkan, kamu jangan pernah mendekati Ari lagi," tegas Denok.


"Suka-suka aku." Aisyah tak peduli dengan ucapan Denok. Dia memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Denok pun makin marah karena ketidak pedulian Aisyah. Hatinya pun semakin bergemuruh. Sebuah tamparan mendarat di pipi mungil Aisyah.


Aisyah segera memegangi pipi sembari menelan nasi yang masih ada di dalam mulutnya. Begitu panas dan perih yang dirasakannya saat ini. Hingga tak terasa air mata menggenang di kelopak matanya.


Di sudut lain taman, David kini sedang berjalan dengan kekasihnya. pria itu telah menyaksikan apa yang terjadi dengan Aisyah. Saat dia akan melangkah menuju, wanita di sebelah menahannya.


"Ada apa sih kamu, sayang?" tanya wanita itu.


"Itu di sana, ada wanita yang sedang dirundung." David menunjuk ke arah Aisyah.


"Bukankah wanita itu yang dibicarakan banyak orang? Apa kamu benar-benar menyukainya?" tanya wanita itu dengan nada kesal.


"Aku tidak menyukainya sayang. Hanya kamulah seorang, wanita yang aku sukai." David memegang pipi wanita itu.


"Bukankah kewajiban seseorang untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesulitan. jadi, boleh kan aku menolongnya?" tanya David pada sang kekasih.


Wanita itu berpikir sejenak. Sesungguhnya dia tidak rela. Akan tetapi, demi kemanusiaan, akhirnya wanita itu mengizinkan David untuk menolong Aisyah.


"Baiklah. tapi ingat, kamu jangan sampai jatuh cinta padanya," pesan sang kekasih.


"Tidak akan, sayang. Kamulah cintaku satu-satunya," ucap David meyakinkan. "Sekarang Kamu pergi saja dulu, aku mau ke sana," lanjutnya.


Wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia pergi meninggalkan David.


Setelah sang kekasih pergi, David berjalan menuju tempat Aisyah. Kini dilihatnya Aisyah sedang menjambak rambut Denok. Sedangkan rambut Aisyah di Jambak oleh dua orang yang merundungnya. Di bawah mereka, makanan Aisyah telah tersebar.

__ADS_1


"Ehm!" Sebuah deheman terdengar.


Para wanita itu menghentikan aksi mereka. Semua mata melihat ke arah sumber suara. Seketika mereka melepaskan tangan masing-masing setelah melihat siapa yang mengeluarkan suara itu.


Tanpa banyak bicara, Denok menarik tangan temannya untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, sebelum dia benar-benar melangkah, wanita itu memberikan tatapan tajam kepada Aisyah.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya David.


"Tidak," jawab Aisyah singkat saya mengambil kotak makan dan sendoknya yang telah persyaratan di tanah.


S**udah melihat aku dikeroyok oleh dua orang. Dia masih bertanya aku tidak apa-apa? gerutu Aisyah di dalam hati.


"Baguslah kalau begitu," ucap David, lalu duduk di bangku taman itu.


"Kok, Cuma begitu saja sih," protes Aisyah Seraya duduk di samping David.


Aisyah menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan. Wanita itu tak pernah menaruh sisir di dalam tasnya. Dia bukan tipe wanita yang suka berdandan di mana saja.


"Lalu, aku harus bagaimana? Gendong kamu, begitu? Atau, peluk kamu? Kalau kamu mau, boleh. Ayo sini." David membuka lebar tangannya bersiap untuk memeluk Aisyah.


"Ih, apaan sih. Dasar tidak jelas," gerutu Aisyah.


"Mau yang jelas? Kalau yang jelas itu aku suka kamu," ucap David dengan senyum lebar.


"Tambah tidak jelas." Aisyah segera bangun, lalu meninggalkan David.


"Loh! Kok, malah pergi," teriak David yang masih duduk di tempat. Pria itu tersenyum dengan sebelah bibir terangkat.


Aisyah, aku tak tahu, mulai sejak kapan aku begitu ingin memilikimu. Kamu berbeda dari gadis yang selama ini bersamaku. Akan kupastikan bahwa kamu akan segera menjadi milikku, batin David.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2