
"Kamu pulang cepat hari ini?"
"Iya, tidak ada acara kampus. Aku ingin menemani nenek malam ini."
David menghampiri sang nenek yang sedang membaca koran di ruang tamu. Perlahan dia mendorong kursi roda di mana sang nenek duduk. Pria itu membawanya menuju meja makan.
"Nenek belum makan, 'kan?"
Sang nenek hanya tersenyum manis menanggapi ucapan sang cucu.
"Kali ini, aku akan menyuapi Nenek. Tunggu sebentar, aku mau cuci tangan dulu."
David berjalan menuju wastafel di dapur. Sang nenek teruh mengamati ke mana dia melangkah. Ada perasaan bangga di hati nenek itu.
David, kamu cucu yang baik. Semoga, kelak kamu mendapat istri yang baik pula, harap sang nenek.
"Nenek, ini minumnya. Ayo, minum dulu." David menyodorkan segelas air putih.
Sang nenek meraih gelas itu, lalu meminum air di dalamnya. Diberikan kembali kepada David gelas itu dengan tangan yang bergetar. Usia senja membuat wanita itu selalu kacau ketika makan.
Sang nenek mulai membuka mulut ketika David mulai menyuapinya. Sungguh telaten pria itu menyuapi neneknya. Setiap ada kesempatan, dia pasti melakukan hal itu.
"Sudah selesai. Nenek istirahat di kamar dulu, ya? Aku mau ganti baju," pinta David sembari mengelap mulut nenek.
"Mbak, tolong bawa nenek ke kamar."
Pengasuh yang ditugaskan merawat sang nenek segera mendekat. Dia mendorong kursi roda nenek menuju kamar.
David tak segera mandi setelah sampai di dalam kamar. Pria itu menjatuhkan dirinya di atas ranjang berukuran besar. Dia memijat kening karena pusing memikirkan kejadian tadi.
...****************...
Aisyah kini sedang mencoba menghubungi Ari. Dirinya sedikit gusar karena sudah dua panggilannya tak terjawab. Dia merasa pasti Ari marah padanya.
"Halo, assalamualaikum." Wajah Aisyah berbinar, akhirnya Ari menerima panggilannya.
"Halo, waalaikum salam. Ada apa, Ais?"
"Ari, apakah kamu marah sama aku?"
"Kenapa juga aku marah sama kamu? Memangnya kamu salah apa?"
"Aku dengar tadi David memukulmu. Maafkan aku."
__ADS_1
"Itu bukan salahmu. Aku sendiri yang tidak bisa menjaga sikap. Sudah tahu kalau kamu sudah punya Kak David, aku masih saja jahili kamu. He-he-he. Maaf, ya?"
Aisyah sungguh senang karena Ari tidak marah kepadanya. Akan tetapi, dia juga merasa bersalah atas insiden itu. Dirinya juga bingung harus menebus kesalahan itu dengan apa.
"Sudah dulu, ya, Ri. Selamat istirahat. Assalamualaikum."
"Kamu juga. Waalaikumsalam."
Aisyah segera memencet nomor lain untuk dihubungi. Tidak menunggu lama, panggilan itu sudah terhubung.
"Assalamualaikum, Mas Fajar."
"Waalaikumsalam. Ais, bagaimana kabarmu?" tanya Fajar dengan nada gembira.
"Baik, Mas. Kalau, Mas, bagaimana?"
"Mas juga baik. Kami di sini baik-baik saja. Oh, ya, ibu nanyain kamu terus, nih."
"Mana? Tolong kasih ke ibu."
"Halo, Ais. Kamu baik-baik saja, 'kan, di sana?" Kini ponsel di seberang sana sudah berada di tangan Bu Siti.
"Iya, Bu. Ais baik-baik saja. Maaf, ya, Bu. Ais belum pernah pulang. Kemarin-kemarin Ais belum punya uang."
"Iya, Bu. Aku berjanji pasti akan segera pulang. Sekarang aku sudah punya uang."
Aisyah tersenyum mengingat-ingat bahwa uangnya sudah terkumpul, lalu bisa untuk biaya pulang. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman.
...****************...
"Sebenarnya aku masih malas ketemu dia. Hatiku masih sakit karena kejadian kemarin. Sungguh pria kasar."
Klik! Klik!
Dua kali terdengar suara pintu terkunci, itu tandanya pintu sudah terkunci dengan benar. Aisyah memasukkan kunci itu ke dalam tas, lalu berjalan keluar. Dia menghampiri mobil sport yang sudah menunggunya.
Bisa pagi juga dia, batin Aisyah.
Aisyah memasuki mobil tanpa melihat ke arah David. Dia masih benci dengan orang itu.
"Semalat pagi, Tuan Putri," sapa David. Pria itu tersenyum ke arah Aisyah.
Kenapa dia bisa tersenyum seperti itu? Seperti tidak merasa bersalah. Begitu mudahnya dia melupakan kejadian kemarin. Dasar laki-laki egois, batin Aisyah. Dia tidak mempunyai niatan untuk membalas sapaan David.
__ADS_1
"Masih marah?" David mengintip wajah Aisyah.
Aisyah tidak memberikan respon apa pun membuat suasana pagi David berubah. Semula dia sudah bahagia, kini hawa dingin menyeruak.
"Baiklah kalau itu keinginanmu."
Hanya karena pria itu dia berani marah padaku sampai sekarang? David mendengus kesal.
David mulai melajukan mobilnya di jalan menuju kampus. Tak ada percakapan apa pun sepanjang perjalanan itu, hingga mereka sampai di depan kampus.
Aisyah belum keluar karena dia tahu David belum membuka kunci mobil. Dia menunggu apa yang pria itu inginkan. Dia sudah siap dengan konsekuensi jika harus dicabut beasiswanya. Dirinya sudah bersiap untuk pulang kampung.
"Nanti malam, aku mau mengajakmu makan malam. Jadi, kamu harus sudah siap saat aku jemput," ucap David tanpa melihat ke arah Aisyah.
Dia mengajakku makan malam? Aisyah sudah membayangkan makan malam kali ini seperti makan malam waktu itu. Dia berpikir bahwa kini David sedang membujuknya.
"Jangan berpikir aku sedang merayumu!" ujar David karena melihat sekilas bibir Aisyah melengkung ke atas.
Hati Aisyah seketika merasa tidak senang mendengar ucapan David tadi. Semangat untuk makan malam lenyap. Rencana pun ingin mengambil libur kerja jadi hilang.
"Nanti malam aku kerja. Jadi, aku tidak bisa makan malam sama kamu!" tolak Aisyah.
Kerja yang dibuat alasan, batin David tak suka.
"Mulai sekarang, kamu berhenti bekerja!"
Sebelum Aisyah membuka mulut, David lebih dulu menghentikannya. "Jangan protes untuk cara makanmu!"
David mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompet. Dia menyodorkannya kepada Aisyah.
"Ini buat kamu. Kamu bisa memakainya. Walaupun isinya tak banyak, tapi cukup buat kamu bertahan hidup di sini."
*Bertahan hidup. Tapi tunggu, d*ia tidak menyopot beasiswaku, malah memberiku kartu. Baiklah, aku akan memanfaatkannya, batin Aisyah.
"Baiklah. Terima kasih." Aisyah menerima karti itu, lalu dimasukkan ke dalam tas.
"Aku harap kamu tidak membuatku marah lagi. Sebentar lagi aku mulai kerja, aku akan mengisi kartu itu lebih. Jadi, kamu bisa menggunakan untuk yang lain."
Ya, memang David telah lulus dengan nilai memuaskan. Dia tinggal menunggu wisuda, lalu mulai membantu sang ayah mengurus perusahaan keluarga.
Aisyah mengangguk mengerti. Dia akan berusaha agar tidak membuat David marah. Sebisa mungkin dirinya akan menjaga sikap di depan pria itu karena dia tahu sang pria begitu mencintainya.
"Aku keluar dulu."
__ADS_1
Bersambung.