Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 125. Sakit hati


__ADS_3

Aisyah berjalan menyusuri lorong kampus. Dia ingin mencari tempat untuk menghabiskan sisa makannya. Makan siangnya terganggu gara-gara David.


Selama perjalanan itu, dia mengumpati David. Gadis itu tak menyangka bahwa David akan melakukan hal senekat itu. Walaupun begitu, ada perasaan senang di hati Aisyah. Namun, dengan segera Aisyah menepis perasaan itu.


"Aisyah!" teriak Ari memanggil Aisyah.


Aisyah membalikkan tubuhnya, mencari keberadaan Ari dengan senyum mengembang. Gadis itu segera menghampiri Ari setelah melihat pria itu yang sedikit berlari ke arahnya. Senyumnya menghilang ketika telah di hadapan pria itu.


"Kenapa kamu tadi tidak menemuiku?" tanya Aisyah sedikit kesal.


"Bagaimana aku mau menghampirimu, kamu saja sudah ditemani Kak David," keluh Ari.


Saat itu, Ari yang hendak menghampiri Aisyah di taman, melihat gadis itu telah bersama David. Sesungguhnya, hati Ari sangat marah melihat mereka sangat dekat, tetapi dia tak mampu melakukan apa-apa. Dia tidak mungkin melawan pria itu. Ari akhirnya meninggalkan taman dengan hati terluka.


"Kamu datang saja menghampiriku, nanti aku akan mengusir David pergi."


"Aku tidak berani mengambil konsekuensinya. Bisa-bisa aku didepak dari kampus ini." Wajah Ari terlihat murung.


"Ayo kita cari tempat duduk! Aku belum selesai makan." Aisyah mulai beranjak dari tempat itu, diikuti Ari di belakangnya.


Mereka berhenti di depan gedung fakultas di mana Aisyah belajar. Terdapat sebuah bangku dari semen untuk mereka duduk. Aisyah duduk, lalu membuka kembali kotak makan yang sudah berkurang isinya. Ari pun duduk di samping Aisyah.


"Aisyah, sepertinya kamu semakin dekat saja dengan Kak David," ucap Ari membuka pembicaraan kembali.


Sebenarnya di sini Aisyah yang ingin bercerita pada Ari. Akan tetapi, Ari sudah membuka pembicaraan yang serius baginya. Dia ingin segera mengatakan hal itu karena sudah tidak kuasa untuk menahannya. Pria itu takut jika Aisyah terkena perangkap David.


"Semakin dekat? Tidak," elak Aisyah.


"Sekarang dia lebih sering menemuimu. Kenapa juga kamu sepertinya juga tidak menghindari dia?" Ari terlihat serius menatap Aisyah.

__ADS_1


Aisyah yang mendapat tatapan, susah payah menelan makanan di mulutnya. Rasanya mekanan tak mau turun ke lambung, sehingga membuat dada Aisyah sedikit sesak.


"Maksud kamu?"


"Atau jangan-jangan kamu telah jatuh hati padanya?" tanya Ari semakin mempertajam tatapannya.


Aisyah terpaku akan ucapan Ari. Memang ada benarnya juga yang dikatakan Ari. Akhir-akhir ini Aisyah tak menolak kedatangan David. Bahkan, tadi saat David mengatakan keseriusannya, dia merasakan ada sesuatu yang salah.


"Eh, Ti-tidak! Ma-mana mungkin aku suka dengan pria seperti itu," jawab Aisyah terbata.


"Benarkah? Sepertinya aku tidak yakin." Ari menatap lurus ke dapan.


Aisyah menundukan kepalanya, dia juga tidak yakin akan dirinya sendiri. Entahlah, apa yang membuatnya seperti ini. Aisyah hanya merasa simpati kepada David setelah pria itu menceritakan semua tentang kehidupannya.


Ari tersenyum kecut melihat Aisyah hanya menundukan kepala, tak menanggapi ucapannya. Getir rasa hatinya karena sikap Aisyah yang seperti itu.


"Ari, kenapa kamu mengatakan hal itu? Aku, 'kan, sudah mengatakan bahwa aku tidak menyukai dia." Aisyah menatap Ari, dia merasa bersalah pada pria itu. Memang dia belum bisa mencintai Ari, walaupun mereka sudah dekat sejak lama.


"Aku melihat keraguan dalam ucapanmu itu. Kamu tidak bisa menutupinya. Aku kira sainganku hanya Kak Riski, ternyata sekarang sainganku lebih berat. Mampukah aku menghadapi semua ini?" Ari menundukan kepalanya, lalu bangkit dari duduknya.


"Ari," panggil Aisyah lirih.


Ari mulai melangkahkan kaki meninggalkan Aisyah. Dia tak menghiraukan panggilan gadis itu. Tak terasa air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dadanya pun mulai sesak oleh bayang-bayang Aisyah yang sedang digoda David.


Aisyah masih duduk termenung di sana, pikirannya semakin kalut. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sehingga, makanannya pun tak dia habiskan. Aisyah menutup kotak makannya, lalu segera kembali ke dalam kelas karena sebentar lagi kelas dimulai.


...****************...


Aisyah masih saja termenung hingga pulang bekerja. Lina pun merasa iba saat mengantarnya pulang karena tak biasanya Aisyah seperti itu. Lina akhirnya membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Kamu kenapa Aisyah? Sejak tadi kok murung sih?" tanya Lina sedikit mengencangkan suaranya karena mereka sedang dalam perjalanan pulang naik motor.


"Eh! Tidak, Kak. Aku baik-baik saja." Aisyah mencoba tersenyum.


"Kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aku tahu itu. Katakanlah padaku, aku sudah menganggapku sebagai adikku sendiri. Jadi, jangan sungkan padaku," ucap Lina membujuk Aisyah.


Dalam perjalanan pulang itu, akhirnya Aisyah menceritakan semua kegundahannya pada Lina. Lina pun terkejut saat mengetahui bahwa David menyatakan cintanya pada Aisyah.


"Hmm ... bukankah kamu sudah berteman lama dengan Ari, kamu pasti lebih tahu banyak dia dibanding David?" tanya Lina.


"Iya. Memang aku sudah berteman lama dengan Ari. Namun, entahlah, aku belum mempunyai perasaan padanya. Aku hanya menganggap dia sebagai teman saja," jelas Aisyah.


"Lalu, bagaimana dengan David? Apa kamu menyukainya?"


"Aku hanya merasa simpati akan kehidupannya. Dia kekurangan kasih sayang dalam keluarga. Hanya sang neneklah uang selalu menemaninya. Namun, sekarang enenknya sakit."


"Jadi, kamu lebih simpati pada David dari pada Ari, teman sejak lamamu?" tanya Lina dengan nada pelan. Dia sebenarnya lasihan dengan Ari yang selalu setia pada Aisyah.


Keheningan terjadi diantara mereka, hingga akhirnya sampai di depan kos Aisyah. Aisyah turun dari motor Lina, lalu berdiri di depan pintu gerbang seraya menatap temannya.


"Terima kasih," ucap Aisyah dengan senyum tak semanis biasanya.


"Sama-sama." Lina terus memandangi Aisyah.


"Aisyah, aku tidak bisa berkata banyak. Aku hanya berharap kamu mampu memikirkannya matang-matang. Siapa yang terbaik untukmu,"ucap Lina sebelum memutar motornya. Aisyah hanya menganggukkan kepalanya.


Lina segera meninggalkan tempat itu. Aisyah pun masuk ke dalam kos setelah memastikan Lina belok ke jalan raya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2