Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 129. Bayang-bayang


__ADS_3

Dering ponsel hingga puluhan kali sangat mengganggu Aisyah. Akhirnya, ia terpaksa mengangkat panggilan itu. Gadis itu diam, menunggu yang di seberang sana untuk angkat bicara.


Setelah hampir 1 menit tak ada suara dari sana, Aisyah akhirnya memutuskan sambungan itu. Dia kesal karena si penelepon cuma main-main. Namun, beberapa detik kemudian benda pipih itu kembali berdering.


"Kenapa kamu tutup panggilannya?" tanya yang di seberang sana dengan lembut setelah Aisyah mengangkat panggilan itu.


"Tak ada suara, jadi aku kira cuma main-main." Nada suara Aisyah terdengar Ketus.


"Aku senang banget kamu mau angkat teleponku, sampai aku tak bisa ngomong. Aisyah, Aku kangen banget sama kamu."


"Sudahlah, Kak Riski. sekarang katakan, Apa tujuanmu meneleponku?"


Aisyah sudah lelah dengan yang namanya lelaki. Gadis itu ingin menenangkan diri dengan tidak dekat dengan lelaki manapun. kini hanya Rizki yang masih saja mengganggu. Dia ingin segera terlepas dari gangguan Riski, tetapi Aisyah belum menemukan caranya.


Riski menghembuskan nafas panjang. Ternyata, Aisyah masih belum bisa ditaklukannya. Dia akan berpikir lebih keras untuk mendapatkan hati Aisyah lagi.


"Kenapa kamu belum juga memakai kartu itu? Kamu bahkan hanya memakainya sekali saja. Pakailah untuk berbelanja, membeli barang-barang yang kamu suka. Nanti kalau habis, aku bisa kirimi kamu uang lagi."


"Awalnya aku mau pakai kartu ini untuk kebutuhan kuliah. Tapi, setelah Kak Riski mengirimi aku uang, aku jadi malas pakai kartu ini."


"Kenapa?" pekik Riski. "Bagaimana caramu memenuhi kebutuhanmu di sana? Itu bukan kotamu, tak 'kan ada orang yang membantumu kecuali dirimu sendiri."


Riski semakin khawatir dengan Aisyah. Dia takut jika gadis itu akan kesusahan di kota itu. Apalagi, si gadis baru saja mengatakan tak ingin menggunakan kartu pemberiannya lagi.

__ADS_1


"Kak Riski, tak perlu khawatir padaku. Aku bisa, kok, jaga diri sendiri. Dalam keluargaku, aku sudah dididik menjadi wanita mandiri," jelas Aisyah.


"Tapi ...." Riski tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Aisyah telah memotong perkataan pria itu.


"Sudah dulu. Aku mau segera pulang." Aisyah mematikan sambungan telepon itu.


Aisyah berjalan menuju halte bus terdekat dari pasar tradisional di kota itu. Dengan beberapa kantong plastik belanjaan di tangannya Aisyah berjalan dengan cepat. Dia ingin segera mengolah bahan-bahan itu untuk dijajakan di depan kosnya.


Hari ini hari Kamis, waktunya libur kerja bagi Aisyah. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Gadis itu meminta izin kepada pemilik kos untuk berjualan lauk pauk di depan kos, dan sang pemilik mengizinkannya. Jadi, sepulang kuliah dia langsung pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja.


Aisyah duduk di halte menunggu bus datang. Dengan hati senang dia membayangkan apa saja yang akan dimasaknya. Hari pertama berjualan, dia berharap akan habis.


"Udah tak sabar, nih, untuk jualan. Semoga laris," harap Aisyah dengan senyum mengembang.


...****************...


Aisyah telah selesai mempersiapkan dagangnya di depan kos. Sekarang dia hanya menunggu para pembeli untuk datang. Karena baru saja buka dan ini adalah hari pertama dia jualan, jadi pembeli belum ada untuk saat ini.


Aisyah masih bersabar dan terus menunggu. Akhirnya setengah jam kemudian, ada satu orang datang untuk membeli. Gadis itu sungguh senang dan melayani pembeli itu dengan sangat ramah.


Beberapa jam kemudian, pembeli pun semakin meningkat karena saat itu jam pulang kerja. Para wanita karir yang tidak sempat memasak untuk keluarganya, mampir untuk membeli sayur. Di sela-sela kesibukan itu, Aisyah melihat sebuah motor yang tidak asing baginya melintas.


Aku kayaknya mengenal motor itu. itu kayak motor David, batin Aisyah.

__ADS_1


"Mbak, aku mau sayur yang itu, ya," pinta seorang pembeli yang membuyarkan lamunan Aisyah.


"Oh, iya! Yang ini, ya?" Aisyah kembali melayani para pembeli.


Karena hari pertama jualan, pembeli pun tak begitu ramai. Waktu sudah menunjukan pukul 09.00, Aisyah memberesi semua dagangannya. Walaupun, masakannya masih tersisa lumayan.


Pukul 10.00 malam, Aisyah telah membaringkan tubuhnya di dalam kamar. Walaupun letih, Aisyah sungguh menikmatinya. Gadis itu bangkit dari tidurnya kembali karena ingin menghitung uang yang di dapatnya.


Pada saat menghitung itu, Aisyah teringat sesuatu. Gadis itu mengingat kembali sebuah sepeda motor yang lewat di depan kos tadi.


"Apa aku tadi tidak salah lihat? Tadi itu David, 'kan? Tapi, untuk apa juga dia lewat di depan kosku?" gumam Aisyah penasaran.


"Ah, mungkin aku salah lihat. Lupakan sajalah." Aisyah kembali fokus pada uang yang ada di tangannya.


Aisyah sedikit kecewa karena belum mendapatkan untung. Akan tetapi, uang yang didapatnya sudah menutup modal usaha. Lagipula, masih ada sayur untuk dibawa ke kampus besok.


Aisyah kembali merebahkan tubuhnya. Mencoba menghilangkan penat setelah seharian beraktivitas. Namun, matanya sulit untuk terpejam karena bayang-bayang David yang selalu berada di pelupuk mata.


Entah mengapa hanya David yang hinggap di benak Aisyah saat itu, bukannya Ari. Padahal, pria yang paling dibencinya saat ini adalah David. Gadis itu pun heran pada dirinya sendiri.


Aisyah menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayang-bayang David dari pikirannya. Akan tetapi, wajah David saat mereka bercerita di taman tak kunjung hilang. Akhirnya, Aisyah menyibukkan diri dengan membaca novel online agar terbebas dari bayang-bayang itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2