
"Nat, bisakah kamu memikirkan kembali keputusanmu?" tanya Alex
"Kamu tinggallah disini, biar aku saja yang pergi" lanjutnya.
"Lex , ada apa dengan dirimu? Please, tolong hargailah keputusanku"
"Apakah ini ,yang selama ini kamu cita-citakan, yaitu pergi meninggalkanku?!"
"Lex , apalagi? Bukankah kita sudah membicarakannya semalam"
"Tapi aku tidak ingin berpisah dengamu Nat"
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada Unge?"
"Unge? Apa hubungannya dengan Unge "
"Lex , kau .."
"Sudahlah, aku tahu jika aku memang tidaklah pantas"
"Lex, mungkin emang kita itu tidak ditakdirkan bersama"
"Lalu kamu berharap akan bersama siapa?"
"Untuk saat ini aku tidak berpikir kesana"
"Maksudmu, kamu akan menjalani hidupmu seorang diri?"
"Ya"
"Lalu bagaimana dengan keluarga dan anak-anakmu"
"Aku akan menanggungnya, dan Daniel pun kini sudah dewasa dan bekerja , jadi aku tidak punya masalah"
"Nat, aku akan tetap membiayai hidup kalian"
"Jangan Lex , biarkan aku menjalani hidupku sendiri"
"Jadi kamu sungguh akan pergi, apakah kamu terluka karena Unge?"
"Tidak, sama sekali"
"Jika Unge tahu, mungkin dia tidak akan terima"
"Stop Alex, ini tidak ada hubungannya dengan Unge dan kalian"
"Lalu? Bukankah kamu tadi yang memulainya"
"Sudah berapa kali aku katakan, aku ingin menata hidupku sendiri , maaf jika aku belum bisa membalas kebaikanmu"
Alex pun terdiam , melihat dan hanya mendengar .
"Baiklah, pergilah sekarang , aku tidak ingin melihatmu, saat aku kembali kamu sudah pergi dari rumah ini" Alex pun pergi keluar, hendak pergi ke kantor . Boy menatapnya begitu tajam, mungkin diapun menyimpan amarah pada Nata.
Drrttt ... Drtttt , panggilan telpon dari Raka.
"Mama , mama akan menjemputku?" tanya Raka.
"Hmm, sepertinya tidak sayang, Mama sedang ada urusan "
"Urusan??" tanya nya ,.
"Tanyakan Urusan apa?" terdengar suara bisikan Bob.
"Urusan apa?"
"Ada sayang" Nata tersenyum menjawabnya.
"Cepat desak Mama agar bicara" Bob masih terdengar . Dan Nata cukup kesal mendengar bisikannya .
"Apa" terdengar gumam Raka pada Papanya.
"Raka sayang berikan telponnya pada Papa" , Sahut Nata.
"Hmmm" Bob menjawabnya.
"Jika ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja langsung padaku"
"Tidak, tidak ada"
"Baiklah, berikan lagi telponnya pada Raka"
"Cih, beraninya dia memerintahku" bergumam, namun nurut memberikannya pada Raka.
"Halo" sahut Raka.
"Sayang sudah dulu ya, nanti kita bertemu lagi"
"Ok, bye bye Mama , muah" Raka senang dan mengecup telponnya.
.
__ADS_1
"Nat kita akan pindah kemana?"
"Aku dapat apartemen , tempatnya dekat dengan kantor tempatku bekerja, hari ini aku minta izin dulu untuk pindah, dan syukur mereka mengizinkan"
"Baik sekali"
"Ya" , Nata cepat-cepat mengemas barangnya.
"Nat, apa sebaiknya kita pilih tinggal saja?" ucap Ibu
"Maksud Ibu"
"Bukankah Alex tadi bicara, jika dia saja yang memilih pergi"
"Ibu menguping?"
"Tidak , Ibu tidak sengaja mendengarnya"
"Tidak Bu, jika aku masih bertahan hidup dengan mengandalkan Alex , aku kapan lepasnya"
"Nat, mengapa kamu kekeh ingin meninggalkan alex? , apakah karena cinta? , kamu tidak mencintainya?"tanya Ibu, Nata tertegun .
"Mungkin!" jawabnya tegas.
"Lalu bagaimana dengan biaya hidup kita sehari-hari , juga mereka" , menatap pada para pengasuh.
"Ibu jangan khawatir selama ini aku punya tabungan , meski itu asal sumbernya dari Alex"
"Suatu waktu, aku akan mengembalikannya padamu" , gumam Nata memikirkan Alex.
Pengasuh mata-mata itupun, segera mencari tempat bersembunyi dan aman, ia segera mengirim pesan pada Bob.Dan Bob meminta pengasuhnya terus mengawasi Nata.
Pengasuh mata-mata, memberi alamat rumah baru Nata pada Bob .
Dan ia pun menyampaikan rumah itu dipilih karena dekat dengan tempatnya Nata bekerja.
Bob meminta , jika ia memperjelas , dan menanyakan dimana Nata bekerja.
Pengasuh mata-mata itu pun nurut. Kini Bob merasa yakin akan status si bayi kembar. "Tidak mungkin Alex menelantarkan , membiarkan mereka yang masih bayi pergi begitu saja bersama Nata , terkecuali mereka bukan anaknya ".
Bob pun berpesan pada pengasuh , untuk mengabari dirinya saat akan membawa sikembar imunisasi.
"Rani" panggilnya pada pengasuh baru itu.
Rani terkejut namanya dipanggil Nata.
"Ya nyonya"
"Maaf, tadi saya menerima telpon dari keluarga "
"Cepat , bantu saya"
"Baik".
Bob terus berpikir, bagaimana dia dapat membantu Nata. Iapun berpikir jika dirinya pun tidak dapat membawanya tinggal bersamanya, memikirkan Claire. Namun ada yang dia lupakan, yaitu apartemen, dia ingat memiliki apartemen didaerah sana juga.
"Al kemarilah" Bob segera memanggilnya. Al pun masuk keruangan Bob.
"Ya, ada apa kamu memanggilku?"
"Siapkan apartemen , karena Nata akan tinggal disana , dan ini , hubungi tempat ini "
"Untuk apa tempat ini?"
Bob pun memintanya untuk lebih dekat, dan Bob membisikkannya.
"Cepat laksanakan segera"
"Baik"
.
.
Menjelang sore hari,
"Nat, apakah sudah selesai semuanya?"
"Ya sepertinya sudah"
Nata membawa barang pentingnya kedalam truk.
Ada panggilan masuk dari pemilik rumah.
"Halo" Nata segera bicara padanya.
"Nona , maaf saya ada kabar buruk mendadak mengenai rumah anda . Tapi anda jangan khawatir saya akan mengembalikan semua uang sewa anda dengan kerugiannya"
"Nyonya, tunggu, bisakah anda ceritakan dulu, ini sebenarnya ada apa nyonya?"
"Ya saya baru mau menyampaikan ,jika urusan rumah itu dengan penyewa lama belum selesai .Ternyata mereka pindah dari rumah itu karena ada sesuatu yang akan diperbaiki dirumah itu"
__ADS_1
"Oh , begitu?! Tapi kemarin saya lihat semua baik-baik saja"
"Ya, kelihatannya begitu, tapi itu yang mereka bicarakan padaku, maaf sekali Nona saya tidak bisa menyewakan rumah itu padamu"
"Ya, tidak apa-apa"
"Maaf"
Sambungan telpon pun terputus. Nata begitu lemas memikirkannya.
"Nat ada apa?" tanya Ibu.
"Bu , kita tidak jadi pindah kerumah itu"
"Ada apa??"
"Kemana aku harus mencari mendadak seperti ini?" , Nata merasa bingung , Ibupun tidak memahami Nata.
"Nyonya bagaimana apakah jadi berangkat?" tanya supir truk
"Tidak, tunggu dulu pa"
"Baik"
"Bagaimana ini" Nata resah ,
"Kak ada apa?" tanya Daniel.
Tiba- tiba sebuah pesan masuk dari Bob , Daniel terkejut dan membukanya.
"Kak"
"Ada apa?"
"Aku baru ingat, jika temanku beberapa waktu lalu menawarkan apartemennya kepadaku"
"Hmm , lalu?"
"Dia memintaku menjaga dan mengurusnya"
"Mengapa dia memintamu?"
"Mungkin karena kami sangat dekat"
"Dan dimana temanmu sekarang?"
"Dia.. Dia , dia pindah keluar negeri"
"Pindah?? Lalu apartemennya dia tinggalkan begitu saja?"
"Ya"
"Apa ada rencana dijual?"
"Hmm , tidak sepertinya dia tidak menjualnya , Ahh sudahlah kakak jangan banyak tanya lagi, ayo kita pindah kesana saja"
"Tapi, bagaimana dengan temanmu, Kakak harus bicara dulu"
"Bicara apa Kak?"
"Tentu saja masalah sewa , dan bagaimana jika rumahnya nanti dijual ,jadi kita menempatinya untuk sementara, Kakak janji Kaka akan mencari segera tempat lain untuk kita tinggali"
"Kak, percayalah padaku, kami itu berteman, dan dia sudah mempercayakan rumahnya padaku, ayolah"
"Jadi kita tidak perlu permisi dulu pada temanmu??"
"Ya" Daniel menarik lengannya , agar Nata segera berangkat.
"Tapi tetap Kaka tidak mau jika nanti ada salah paham "
"Baiklah , jika itu yang Kakak cemaskan , biar aku yang bicara saja padanya ok"
"Ok, telpon lah dia sekarang"
"Ok" Daniel menarik nafas yang panjang dan membuangnya ,lalu segera mengeluarkan Hpnya dari saku.
"Hai kawan " bicara pura-pura,
Nata mendengarkan , "Apa perlu Kaka bicara?"
"..........."
"Ah ya baik, terimakasih" Daniel terkekeh sendiri,
"Ka dia bilang tidak apa, gunakanlah sesuka kita, ayo!"
"Benarkah?"
"Ya, gratis"
"Baik sekali"
__ADS_1
"Sudahlah, ayo", Daniel berhasil meyakinkan Nata.