
Malam ini begitu sunyi, tak ada satu pun hewan malam memamerkan suara merdunya. Orang-orang pun sudah tenggelam dalam mimpi. Namun, Aisyah masih terjaga. Pikirannya masih terbayang ketika bersama Riski.
"Pria itu, apa tidak ada wanita lain? Masih saja ingin aku kembali."
Aisyah menarik sebelah ujung bibir. Wanita itu tidak tahu yang sebenarnya tentang Riski. Tentang kelainan pria itu. Seandainya dia tahu, entah apa yang akan dilakukannya.
"Apa yang harus aku lakukan dengan dua kartu ini?"
Aisyah semakin bingung karena dua buah kartu ATM berada di tangannya. Riski menolak dengan lembut saat kartu itu dikembalikan. Jadi, wanita itu akhirnya menyimpan kartu itu kembali.
Aisyah sedikit membenarkan perkataan Riski. Uang yang ada di dalam kartu itu memang haknya. Uang gono gini saat perceraian itu sebenarnya sudah miliknya karena uang itu adalah nafkah dari pria tersebut yang dia simpan.
Saat Riski memberi Aisyah uang lagi, pria itu menganggap bahwa uang itu merupakan kompensasi untuk Aisyah. Jadi, wanita itu tak perlu risau saat menggunakannya.
"Tapi, masuk akal juga penjelasan Kak Riski. Apakah baiknya aku gunakan kartu ini saja, ya?" tanya Aisyah pada diri sendiri. Tangan kanannya mengibas-ngibaskan kartu warna emas.
"Kalau aku gunain kartu ini, aku bisa ngembaliin kartu David. Aku juga bisa bayar uang kuliah sendiri seperti rencanaku yang dulu. Kak Riski juga sudah menambahkan saldonya, jadi bisa aku buat modal usaha kecil-kecilan."
Aisyah tersenyum senang. Bayangan tentang usaha sudah ada di benaknya.
"Aku tak perlu pinjam modal David. Lagipula, kalau pinjam pasti nanti akan ditambah lagi syaratnya. Menyulitkanku saja."
Beberapa saat kemudian, Aisyah terdiam.
"Tapi, kalau aku kembalikan kartunya, apa dia mau. Bagaimana kalau dia marah, lalu melakukan apapun kepadaku?" Aisyah menghembuskan nafas panjang. "Duh, cintanya sangat merepotkaku."
__ADS_1
Di atas kepala Aisyah tiba-tiba terlintas wajah David. Tubuh kekar pria itu saat bertarung, membuat wajah Aisyah merah padam. Malu-malu tapi ingin sekali menyentuhnya lagi.
"Oh, ya," pekik Aisyah. Dia teringat akan sesuatu.
"Saat wisuda David nanti, aku harus pakai apa, nih? Tentunya harus cantik karena nanti mau foto bareng saat wisuda."
Aisyah membayangkan saat David memakai atribut wisuda, pasti sangat gagah. Untuk itu, dia ingin berpenampilan secantik mungkin agar seimbang dengan David.
Sebuah nada pemberitahuan dari ponsel membuyarkan semua bayangan di atas kepala Aisyah. Wanita itu meraih benda pipih di samping bantal. Pesan dari David terlihat di layar.
'Aku mau telepon. Angkat cepat!' Begitulah isi pesan itu.
"Apaan! Pemak ...."
Nada dering ponsel segera terdengar sebelum Aisyah menyelesaikan ucapannya. "Ish!" Dia pun memutar bola mata, lalu sedetik kemudian mengangkat telepon.
"Walaikumsalam." David menyambut salam Aisyah dengan bahagia.
Obrolan bagai anak SMP pun dimulai. Selalu saja itu yang mereka obrolkan. David selalu bertanya seperti, sedang apa? Sudah makan? Ataupun apa yang dilakukan hari ini.
Padahal, setiap harinya hal sama yang dilakukan Aisyah. Bangun tidur berangkat kuliah, ikut kelas, lalu pulang ke rumah. Tidak ada yang berbeda, tetapi David selalu saja bertanya.
Sedangkan Aisyah tidak perlu bertanya lagi. David akan senantiasa menceritakan apa yang dilakukannya sepanjang hari. Namun, ada satu hal yang tidak pernah David singgung, yaitu tentang Clara. Entah sekarang Clara masih bersama pria itu atau tidak.
Adakalanya Aisyah ingin bertanya tentang wanita itu, tetapi diurungkannya. Dia merasa tidak perlu mengusik terlalu dalam tentang David. Dia merasa pria itu bukan siapa-siapanya.
__ADS_1
"Ai, sepertinya ada yang kamu pikirkan?" tanya David.
"Tahu dari mana kamu?" Aisyah tersentak dengan pertanyaan David.
Semenjak David bertanya tentang pria lain di dekat Aisyah selama kepergiannya, dia teringat kembali dengan Riski. Wanita itu ingin menceritakan hal itu, tetapi pasti David akan marah. Pria tersebut tidak ingin dirinya dekat-dekat dengan yang lain, bukan?
"Berati benar, kamu ceritakan saja. Apa masalahmu? Aku pacarmu, Ai. Aku akan selalu siap membantu. Bahkan nyawa pun aku pertaruhkan."
Aisyah mematung setelah mendengar ucapan pria itu. Wanita tersebut merasa David sangat bersungguh-sungguh dalam perkataannya. Dia berharap pria itu tidak terjatuh terlalu dalam ke dalam cintanya. Dirinya hanya berharap beasiswa darinya, lalu berpisah ketika telah lulus nanti.
Namun, seketika Aisyah menggelengkan kepala ketika mengingat Clara. Dia menyadari bahwa ada wanita lain selain dirinya di sisi David. Jadi, mungkin itu adalah siasat pria itu untuk meluluhkan hatinya.
"Ti-tidak ada apa-apa, kok. Sudah malam, sudah dulu, ya. Besok harus kuliah."
Akhirnya sambungan telepon terputus setelah David menyetujuinya. Sebenarnya pria itu masih penasaran dengan Aisyah. Dia merasa wanita itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kenapa kamu, Ai?" gumam David.
Tiba-tiba dua buah tangan melingkar di perut David. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu siapa pemilik tangan itu. Tentu saja Clara. Dia membiarkan tangan itu yang memeluk dari belakang.
"Kak David, Aisyah itu wanita yang bertemu kita di bioskop waktu itu, ya?" tanya Clara. Dia menyenderkan kepala pada punggung David.
"Iya." David menganggukkan kepala.
"Siapa dia? Aku lihat, Kakak sering menghubunginya."
__ADS_1
"Dia." David menjeda ucapannya. Dia seperti memikirkan sesuatu. "Temanku," lanjutnya.
Bersambung.