Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 150. Tanda Merah


__ADS_3

David beranjak dari duduknya. Ujung-ujung bibirnya terangkat ke atas, tetapi kelihatan sekali bahwa dia menahan sakit. "Ayo, ikuti aku!" perintahnya.


"Tapi ...."


"Tidak apa-apa. Di rumah ini hanya ada aku, nenek, beberapa penjaga di luar dan seorang lagi yang merawat nenek. Kalau jam segini mereka sudah tidur. Tenang saja." David berjalan keluar kamar.


Aisyah akhirnya mengikuti langkah David. Dengan sedikit ragu, dia mengayunkan kaki. Benar saja, rumah itu sepi. Dirinya ingat kembali pria itu pernah bercerita bahwa orang tuanya selalu sibuk dengan urusan bisnis. Jadi, tentulah sepi.


"Apa tidak ada pembantu yang tinggal di sini?" tanya Aisyah berbisik di samping David. Dia begitu heran, apakah rumah sebesar itu tidak pembantu.


"Tentu saja ada. Mereka pulang di sore hari, lalu akan datang lagi besok pagi-pagi," jelas David. "Itu dapurnya," lanjutnya ketika hampir sampai di dapur.


Aisyah segera memanaskan air. Sembari menunggu air hangat, gadis itu mengedarkan pandangan. Dia memindai setiap sudut rumah itu, sungguh menakjubkan.


Rumah dengan arsitektur kontemporer yang menandakan bahwa sang pemilik sangat mencintai alam. Dindingnya didominasi dengan kaca membuat sinar matahari bebas masuk ke dalamnya saat siang hari. Terdapat tanaman di beberapa sudut rumah, bahkan taman kecil.


"Airnya sudah panas belum?" tanya David sedikit berteriak.


Aisyah tersadar dari kekagumannya. Garis itu segera mematikan kompor, lalu menambahkan air biasa ke dalam panci. Air itu terlalu panas karena dirinya terlalu lama mengagumi bangunan setiap inci bangunan itu.


Aisyah membawa air beserta kain kecil yang telah di siapkan David sebelumnya. Dia berjalan menuju pria yang duduk di dekat taman yang ada di dalam rumah. Terdapat kolam kecil dengan air terjun kecil di sisi kolam. Ikan-ikan berenang dengan bebas di dalamnya.

__ADS_1


Kini tubuh bagian atas David sudah polos, memperlihatkan enambuah persegi dan dada bidangnya. Terlihat kokoh, melebihi tubuh Riski. Beberapa memar di beberapa bagian tidak mengurangi kekokohannya.


Aisyah mulai mengusap darah kering di pelipis David. Terdapat luka goresan di sana akibat di tinju oleh salah seorang di antara preman itu. Dengan lembut gadis itu membersihkannya, takut menyakiti David.


David memandangi paras mungil yang terpampang di hadapannya. Tidak dapat terbayang olehnya jika suatu saat nanti gadis itu pergi dari sisinya, dia tidak akan rela. Dirinya begitu mencintai makhluk ciptaan Tuhan ini. Kelembutan hati sang gadis mampu menakhlukkan hati sang singa.


"Kenapa?" tanya Aisyah. Matanya begitu tajam menyorot David.


"Tidak." Pria itu sedikit menggerakkan kepala untuk menghilangkan angan. Pada saat itu pula, mata David terfokus di leher Aisyah. Tangannya bergerak mendekati leher sang gadis, teringat akan kejadian tadi.


Sontak Aisyah menjauhkan tubuhnya. "Mau apa lagi kamu?" tanyanya dengan dahi mengerut.


Sudah berapa kali David mengucap maaf kepada Aisyah. Namun, dihatinya masih saja belum tenang. Merasa berdosa kepasa gadis itu. Tadi, dia sungguh kalap hingga ingin melakukan hal itu pada Aisyah.


Aisyah menggelengkan kepala. "Tidak perlu minta maaf terus. Seharusnya, aku yang berteima kasih. Aku sungguh tidak tahu kalau pria tadi melingkarkan tangan di belakangku."


"Aku juga tidak bermaksud menggodanya. Jadi, aku harap kamu tidak salah sangka terhadapku," harap Aisyah. Tangan gadis itu masih menyeka sisa-sisa darah di tubuh David.


"Aku percaya padamu. Aku tahu kamu tidak seperti itu." David tersenyum ke arah Aisyah. Dia sangat lega ketika tahu bahwa Aisyah tidak marah kepadanya. Mulai sekarang, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memeprlakukan gadis lembut itu dengan baik.


...****************...

__ADS_1


Tengah malam, mobil sport berhenti di depan gerbang tempat kos Aisyah. Setelah menurunkan seorang gadis, mobil mulai meningglkan tempat itu. Sang gadis pun segera memasuki gerbang, lalu menghilang di balik pintu kamar.


"Segar sekali. Mandi air hangat setelah ketegangan tadi sangat menenangkan."


Aisyah berjalan menuju tempat meletakkan lelah. Dia duduk di sisi kasur dengan tangan masih membelai lembut rambut basahnya. Diraih sebuah kotak kecil wadah bedak yang sudah habis. Terdapat sebuah kaca di dalamnya yang biasa dia gunakan saat berdandan.


"Apa ini?" tanya Aisyah kaget. Pasalnya, selama dia hidup dua puluh tahun lamanya, tak pernah dia melihat itu di lehernya. Ya, sebuah tanda merah kini tercetak jelas di leher Aisyah.


"Kenapa tiba-tiba muncul merah-merah seperti ini?" Aisyah memiringkan kepala supaya dia bisa melihat jelas lehernya. "Sepertinya tadi leherku tidak membentur apa pun."


Aisyah diam sejenak, lalu terbayang kejadian tadi. Saat di mana bibir David menyentuh lehernya. Memang di sebelah situ, tepat di bawah telinga.


"Aaa!" teriak Aisyah. "Bagaimana ini? Besok pas kuliah aku harus bagai mana?"


Aisyah sangat panik. Tangan gadis itu mengusap kasar lehernya. Berharap dapat menghilangkan tanda cinta dari David.


"Aku harus mencari cara untuk menghilangkannya. Kalau tidak ... ini sangat memalukan!"


Aisyah segera berselancar ke dalam dunia maya. Mencari berbagai cara untuk menghilangkannya. Lalu, gadis itu mengaplikasikannya dan berharap berhasil.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2