
Semua yang dibutuhkan telah dinaikkan ke atas bak mobil. Aisyah sudah bersiap untuk berangkat. Tak lupa, masker dikenakannya untuk menghindari debu jalanan di musim kemarau.
"Kak Aang, ayo kita berangkat!" ajak Aisyah. Wanita itu sudah duduk di samping sopir.
"Baik, Mbak." Aang menginjak gas, lalu meninggalkan tempat itu.
Ya, Aisyah meminta semua karyawan memanggilnya mbak. Dia merasa lebih enak mendengar seperti itu. Mungkin juga karena sudah kebiasaan dari kecil di lingkungannya dulu.
Mobil bak terbuka tanpa pendingin ruangan, membuat Aisyah harus membuka jendela saat perjalanan. Hal itu membuat debu dan polusi udara dengan bebas menerpa wajahnya. Masker sangat bermanfaat dalam situasi ini.
Mereka hampir sampai pada tujuan.Akan tetapi, dekat gang tempat kos Aisyah yang dulu, terparkir mobil yang sangat dia kenal. Wanita itu terpaku sejenak, lalu segera memalingkan wajah supaya pengemudi mobil tersebut tidak melihatnya.
Ya, Aisyah telah pindah tempat kos beberapa saat sebelum Fajar ikut ke sana. Dia mengontrak sebuah rumah dengan tipe 36 agar bisa mereka bertiga tempati. Berlokasi di antara kedua tempat makan miliknya supaya mudah mengakses kedua tempat tersebut.
Alasan Aisyah tidak membeli rumah karena ya, tahu sendirilah. Rumah sekarang mahal, dia lebih mementingkan sarana transportasi untuk mempermudah urusan bisnis. Dirinya juga sedang mengumpulkan uang supaya bisa membeli warung yang disewanya pertama kali untuk usaha karena statusnya masih kontrak.
__ADS_1
"Kak, bawa semua masuk sendiri, ya? Aku tunggu di sini. Setelah itu, antar aku," perintah Aisyah. Dia enggan keluar karena mobil yang dilihatnya tadi masih berada di sana, beberapa meter di belakangnya.
"Baik, Mbak," sahut Aang. Dia sedikit heran, tetapi mau bagaimana lagi. Dirinya tetap harus melaksanakan perintah Aisyah.
Aang segera mengangkuti semua bahan sendiri masuk ke dalam warung. Di dalam semua karyawan segera mengolah bumbu itu seperti biasa. Tanpa aba-aba Aisyah, mereka pun mengerti apa yang harus dilakukan karena sudah terbiasa.
Aisyah masih saja memperhatikan mobil di belakangnya. Dia takut sang pengemudi keluar, lalu menghampiri dirinya.
"Ke kantor, 'kan?" tanya Aang setelah duduk di belakang kemudi.
Aisyah begitu kelihatan gelisah. Duduknya pun tak nyaman. Setelah beberapa saat meninggalkan tempat itu, dia baru bisa bernafas lega karena mobil itu tidak mengikutinya.
Sampailah kini Aisyah di sebuah ruko sewaan berukuran lima kali 7 meter, tempat di mana dia dan Dinda membuka sebuah jasa arsitek. Dengan modal berdua, mereka berbagi hasil jika ada yang meminta jasa mereka.
Aisyah masuk ke dalam dengan spanduk bertulisakan DAN kepanjangan dari Duta Arsitek Nasional. Kalau mereka berdua sendiri yang mengartikan singkatan itu menjadi Dinda Aisyah Narsis.
__ADS_1
"Pagi, Din," sapa Aisyah. "Sudah sampai sini saja."
"Iya, tapi pagi ada yang meneleponku, katanya mau renovasi rumah. Dia dapat saran dari temannya untuk menggunakan jasa kita. Makanya aku sudah di sini," jelas Dinda. Tangannya tak lepas dari ponsel, masih mengotak-atik benda pipih itu.
"Benarkah? Lalu, bagaimana yang dia inginkan." Aisyah segera duduk di samping Dinda. Dirinya sungguh bahagia mendengar kabar itu. Setelah satu minggu sepi, akhirnya ada lagi yang meminta bantuan mereka.
"Dia ingin rumah berlantaikan dua, tapi lahannya tidak begitu luas. Mereka ingin nantinya rumah mereka terlihat luas dan nyaman. Dia bilangnya begitu saja," jelas Dindan.
"Ini bentuk tanahnya." Dinda memberikan ponsenya kepada Aisyah untuk memperlihatkan bentuh tanah yang akan dikerjakan mereka.
Dengan semangat mereka berdua membuat desain rumah seperti yang diharapkan klien. Akan tetapi, saat mereka sedang konsentrasi, seseorang tiba-tiba membuka pintu kantor.
"Selamat da ...." Suara Aisyah tercekat, tak mampu menyelesaikan ucapannya.
Bersambung.
__ADS_1