Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 175. Perjodohan


__ADS_3

Dua hari yang lalu, malam itu Nilam memasuki kamar David. Wajahnya tampak serius sekali. Tak pernah sang anak melihat wajah ibunya seserius itu.


"Dav, papa memintamu untuk turun menemuinya."


Tanpa bertanya lagi, David segera seninggalkan ranjang empuk miliknya. Dia berjalan di belakang sang ibu. Dengan langkah lebar, mereka menuju ruang kerja sang ayah.


"Duduk!" perintah Wildan.


David segera duduk di sofa depan ayahnya. Keadaan sejenak hening ketika Nilam duduk di sebelah sang suami. Wajah dingin diperlihatkan kedua pria di sana.


"Sudah 6 bulan sejak papa memintamu untuk menikah. Kapan kamu mau menuruti permintaan papa ini?" Wildan menatap tajam sang anak.


"Pa, kenapa Papa begitu ingin aku segera menikah? Umurku saja belum genap dua puluh enam tahun," kelit David.


David sebenarnya setuju saja jika disuruh menikah. Akan tetapi, yang membuat dia menolak adalah belum siapnya sang calon istri. Dia juga tidak mungkin memaksa wanita itu.


"Maka dari itu papa menyuruhmu nikah. Papa tidak ingin kamu nikahnya ketuaan."


"Bukannya Papa juga dulu nikahnya di umur tiga puluhan?" tanya David. Dia tidak terima atas keputusan sepihak sang ayah. Menurutnya, semua ini tidak adil.


"Memang. Sekarang papa menyesal karena nikah di usia setua itu. Papa tidak ingin menggendong cucu terlalu tua atau bahkan tidak bisa melihatnya." Wildan menundukkan kepala. Wajahnya terlihat sedih.


Nilam ikut merasakan kesedihan sang suami. Wanita itu membelai lembut punggung suaminya. Dia merasa juga begitu saat ini. Usianya sudah terlalu tua, dia takut juga tidak bisa menimang cucu.

__ADS_1


David menghembuskan nafas panjang. "Aku mau saja nikah, tapi calonnya ...."


Belum sempat David menyelesaikan ucapannya, Wildan memotong dengan segera.


"Kalau kamu belum ada calon, maka papa akan meminta Clara untuk menikah denganmu. Papa tahu, dia pasti setuju," ucap Wildan sungguh-sungguh.


"Tapi, Pa!" tolak David.


David tidak memiliki perasaan terhadap Clara. Dirinya sudah menganggap wanita itu sebagai adik sendiri. Sejak kecil mereka bermain bersama. Berbagi semuanya berdua. Tidak mungkin dia menikahinya.


"Tidak ada tapi-tapian! Minggu depan Clara akan datang ke negara ini bersama orang tuanya untuk bisnis. Saat itu pula aku akan melamarnya untukmu." Wildan sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi. Usianya tak lagi muda, dia berharap segera mendapatkan cucu.


"Pa ...."


"Kalau kamu menolaknya, papa beri waktu sampai Clara datang. Kamu harus mengenalkan papa dengan wanita pilihanmu! Jika tidak, kamu tahu sendiri!"


Bagai angin segar, David masih punya kesempatan. Akan tetapi, dengan waktu sesingkat itu, dirinya merasa ragu. Dia takut jika wanita pilihannya belum mau di ajak menikah.


Tahu sendirilah siapa yang ingin David ajak nikah. Ya, tentu saja Aisyah. Bahkan hati wanita itu saja dia belum mendapatkannya. Bagaimana mau mengajaknya wanita menikah.


"Pa, beri aku waktu lebih banyak lagi. Seminggu sungguh sangat singkat," rengek David. Dia mencoba merayu sang papa agar menambah waktu.


"Kamu butuh waktu berapa lama lagi? Mau sampai papamu ini sakit-sakitan?" tanya Wildan. Dia sangat geram mendengar permintaan David.

__ADS_1


"Bukan begitu, Pa. Tapi, wanita itu sepertinya belum siap," jelas David.


"Kamu sudah ada wanita? Bagus kalau begitu. Segera tunjukkan kepada papa. Kalau tidak, terpaksa papa akan menikahkanmu dengan Clara."


Wildan sedikit lega karena David sudah memiliki wanita sendiri. Dia tidak masalah jika sang anak menikah dengan siapa saja. Mau kaya atau miskin, tidak mengapa karena harta bukan tujuan utamanya. Dia hanya ingin cucu.


"Pa, tapi aku butuh waktu untuk membujuknya." David masih saja menolak.


"Membujuknya? Dia belum menyukaimu? Kalau dia tidak menyukaimu, kenapa kamu ingin menikah dengannya. Merepotkan saja! Pasti butuh waktu lama untuk membujuknya." Wildan merasa kecewa. Dia kira sang anak benar-benar sudah memiliki wanita yang siap untuk dinikahi.


"Kalau kamu tidak bisa membujuk wanita itu seminggu lagi, papa terpaksa menikahkanmu dengan Clara!" Wildan membulatkan mata. Dia tidak bisa ditawar lagi.


David berpikir sejenak, mencari cara meluluhkan hati Wildan. Semua ini sulit baginya, waktu yang begitu singkat harus mendapatkan hati Aisyah.


"Sudahlah, Dav! Turuti saja Papa kamu," bujuk Nilam. Dia tahu jika sang anak sedang mencari cara untuk menolak.


David semakin galau. Kini ibunya sudah berbicara, dia paling tidak bisa menolak permintaan sang ibu. Dirinya pun menghembuskan nafas panjang.


"Baiklah, aku akan bawa wanita itu dan melamarnya di hadapan Papa."


David bangkit dari duduknya. Pria itu pergi meninggalkan orang tuanya tanpa menoleh kebelakang. Dia sudah bertekat dan akan merencanakan sesuatu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2