
Aisyah duduk di bangku semen depan fakultasnya. Gadis itu masih terbayang, bagaimana David dan seorang wanita bermesraan. Sungguh hatinya sesak karena benci.
"Sungguh tepat keputusanku saat itu."
Aisyah kembali terbayang pasca insiden pemukulan Ari oleh David. Gadis yang di seret David, behenti seketika setelah berada cukup jauh dari lokasi kejadian. Pria itu pun menatapnya dengan wajah bertanya.
"David, aku udah lelah dengan sikapmu! Udah cukup, jangan masuk ke kehidupanku lagi!" perintah Aisyah.
David membelalakkan matanya karena mendengar ucapan Aisyah. Gadis itu menyadari bahwa pria di hadapannya tidak terima akan apa yang dia ucapkan. Selama ini dirinya hanya diam yang membuat pria itu merasa menang.
"Kenapa begitu? Sudah kukatakan padamu, jika kamu menolakku, kamu akan menerima konsekuensinya!" David sungguh marah akan apa yang dikatakan Aisyah.
"Tidak masalah karena a**ku tidak mau kamu atur lagi. Kamu sangat membatasiku. Bahkan, hanya berteman dengan Ari saja tidak boleh. Kamu sungguh keterlaluan!" Aisyah sedikit meninggikan nada suaranya.
"Semua itu aku lakukan karena aku tak suka melihatmu dengan pria lain. Kamu tahu itu, 'kan?"
"Aku masih tak habis pikir, kenapa seperti itu. 'Kan udah aku bilang, aku bukan siapa-siapamu. Kamu jangan seenaknya gitu, dong!"
"Kamu itu pacarku. Wajar, 'kan, kalau aku tidak suka." David melototi Aisyah.
Aisyah menggeleng cepat. Dirinya tidak menyetujui ucapan David.
__ADS_1
"Itu, 'kan, keputusan sepihak darimu. Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu!" Aisyah sungguh kesal dengan sikap David.
"Kamu tidak boleh memaksakan cinta karena hanya akan menyakiti seseorang," lanjutnya lirih.
Aisyah menundukkan kepala karena melihat kengerian di wajah David. Dia tahu bahwa pria itu semakin marah akan ucapannya. Namun, gadis iti sudah bulat pada tekatnya.
"Jadi, kamu menolak tawaranku, hah? Kamu mau, beasiswamu aku cabut?" ancam David.
"Aku tidak takut. Silahkan saja!" tantang Aisyah.
Dengusan David terdengar, hingga ke telinga Aisyah. Ia tahu bahwa pria itu semakin kesal kepadanya. Tubuh gadis itu gemetar ketika melihat tangan pria berbadan tegap itu mengepal erat, seketika dia memejamkan mata.
Dentuman itu masih menggema di telinga Aisyah hingga kini. Jantung gadis itu berdetak kencang kala mengingat suaranya. Dia masih merasa takut, jika David tak terima, lalu melakukan hal buruk kepada Aisyah. Namun, Aisyah bersyukur karena hingga kini dirinya belum mengalami hal apapun.
Sedangkan di taman itu, David telah melepaskan tubuh wanita di sampingnya. Pria itu berada dalam lamunannya setelah Aisyah tak terlihat. Akan tetapi, wanita disampingnya masih saja bergelayut manja di tubuh David.
"Sayang, kamu kenapa, sih?" tanya wanita itu yang menarik wajah David ke arahnya. Sang wanita ingin meraup bibir pria itu.
Namun, dengan segera David mendorong tubuh sang wanita agar menjauh darinya. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet.
"Nih, buat kamu. Sekarang pergi!" usir David tanpa menoleh ke arah wanita itu.
__ADS_1
"Apaan, nih? Kenapa kamu memberiku uang, lalu mengusirku. Kamu tidak boleh seenaknya begitu, dong. Tadi kamu bilang mau jadi pacarku! Jadi, kamu ..." ucapannya terhenti seketika karena David memotongnya.
"Mana nomor rekeningmu?"
David memasukkan kembali uang ke dalam dompet, lalu mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celana. Sejenak pria itu mengotak atik ponsel di tangannya.
"Ini." David menyerahkan ponsel ke arah wanita itu. "Ketik sendiri nomor rekeningmu, lalu isi berapa saja yang kamu mau."
Wanita itu menerima ponsel David dengan senang hati. Senyumnya pun mengembang seketika. Kekesalan yang tadi, seketika hilang. Dia memasukkan dua digit sebagai nominalnya.
"Ini. Aku mau segitu." Wanita itu mengembalikan ponsel kepada David.
David melihat sekilas tanpa mengucapkan satu kata pun. Pria itu segera menekan tombol untuk mengirim pada layar ponselnya.
"Sudah aku transfer. Sekarang, pergi dari sini!"
"Baiklah. Terima kasih, Honey." Wanita itu mempertemukan bibir mereka dan sedikit menyesapnya sesaat. Namun, David sama sekali tidak menghiraukannya.
"Bye, Honey. Lain kali kalau butuh bantuan lagi, tidak usah sungkan. Aku siap membantumu." Wanita itu berlalu meninggalkan David.
Kini tinggal David sendiri di taman itu, merenungi semua yang telah terjadi padanya.
__ADS_1
Bersambung.