Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 154. Kangen


__ADS_3

Pukul 06.00 pagi hari, David berlari menuruni tangga. Pria itu sangat terburu-buru karena takut terlambat. Karena semalaman ngobrol dengan Clara, alhasil sekarang bangun kesiangan. Dia pun melewatkan sarapannya.


"Mau ke mana, Kak?" tanya Clara. Dia berjalan dari arah dapur.


"Mau pergi," jawab David. Pria itu berjalan lagi menuju pintu keluar.


"Aku ikut." Clara mengikuti langkah David.


Tahu jika diikuti, David menghentikan langkah. Dia membalikkan badan untuk melihat ke arah Clara.


"Jangan ikut! Aku hanya mau ke kampus. Mau urus untuk wisuda dua bulan lagi," jelas David.


"Aku ikut. Sekalian aku mau lihat kampus kakak." Clara tersenyum semanis mungkin untuk mendapatkan hati David.


"Clara," panggil David dengan nada panjang. "Jangan ikut. Aku tidak lama, kok. Lagi pula, nanti siang kita akan kembali ke kota J. Kamu harus siap-siap."


David mencoba mengingatkan Clara untuk mengemasi barang-barang. Dia harus segera kembali ke kota J untuk mengurus pekerjaan yang sudah menanti. Memang, sekarang pria itu sudah diberi tanggung jawab mengurus perusahaan di sana.


"Baiklah. Aku akan siap-siap dulu." Clara membalikkan badan menuju kamarnya.


David segera menuju mobil, lalu mengendarainya menembus jalanan. Sungguh padat ramai hari ini. Pria itu tidak sabar dengan kemacetan yang terjadi. Dia ingin segera sampai di tempat tujuan.


"Itu dia! Untung masih keburu."


David menepikan mobil, menunggu wanita yang berjalan menunduk keluar dari gang. Seorang wanita yang sekarang mengenakan hijab, menambah aura kecantikannya. Pria itu hingga tak berkedip memandang sang bidadari.


Wanita itu belum menyadari jika di ujung gang ada sebuah mobil yang menunggunya. Dia masih asyik menundukan kepala, membaca novel di sebuah platform ternama. Sudah sejak lama dia mempunyai aplikasi platform tersebut.


Nampak di atas mata Aisyah sebuah bayangan biru langit. Gadis itu seperti paham dengan warna itu, seketika dia mengangkat kepala. Benar saja, itu mobil David.


Untuk apa dia ke sini? Bukannya dia sudah ada wanita itu. Hm ... siapa namanya kemarin? Aku lupa. Ah, pura-pura tidak tahu saja, batin Aisyah.


Setelah dekat dengan mobil David, Aisyah melewatinya saja. Dia hendak berjalan menuju halte bus.

__ADS_1


"Hey, kenapa jalan terus?" tanya David. Dia sudah keluar dari mobil ketika Aisyah melewatinya tadi.


Merasa David tidak berbicara dengannya, Aisyah terus saja melangkah. Dia berpura-pura tidak mendengar.


"Aisyah." David meraih pergelangan tangan Aisyah.


"0h, David," ucap Aisyah santai.


"Apa kamu tidak mengenali mobilku?" tanya David.


"Itu mobilmu? Maaf, tidak tahu." Aisyah tersenyum palsu karena hatinya belum baik-baik saja.


"Sudah berapa kali kamu naik mobil itu, kenapa masih belum hafal juga?" David meninggikan suaranya. Dia merasa jengkel kepada wanita itu.


"Maaf, aku bukan pengingat yang baik," ucap Aisyah dengan senyum yang sama.


"Aku tidak ingin berdebat. Aku mau berangkat kuliah dulu." Aisyah melepaskan genggaman tangan David.


Seketika itu pula, David meraih tangan Aisyah kembali. "Ayo, aku antar!"


"Kenapa duduk di belakang?" tanya David. Dia melihat Aisyah hendak duduk di belakang.


"Maaf, dengan berubahnya penampilanku sekarang, sepertinya aku tidak cocok duduk di depan."


"Tapi, 'kan, kita tidak saling berdekatan. Jadi, duduk di depan juga tidak apa-apa. Enak saja mau duduk di belakang. Emangnya aku sopirmu!" protes David.


Aisyah menghembuskan nafas panjang. Dia akhirnya duduk di kursi depan karena tidak ingin memperpanjang masalah.


"Besok aku akan kembai ke kota J," ucap David ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Em." Aisyah menganggukkan kepala.


"Itu saja? Dua bulan lagi baru datang ke sini, loh." David mengerutkan dahi. Dia mengharapkan ada yang lain. Seperti kangen, lalu minta dipeluk atau ingin mengantarnya ke bandara.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," ucap Aisyah datar.


"Huft ... ya, sudahlah." David menatap Aisyah, dia kecewa. Dengan melihat ekspresi Aisyah, sepertinya tidak ada yang lain lagi.


Namun, rasa rindu yang menggebu karena satu bulan tidak bertemu, David tidak bisa melepas pandangannya kepada Aisyah. Tangannya terangkat, mendekati pipi kenyal milik sang gadis.


"Eh!" Aisyah kaget, lalu reflek menjauhkan kepala. "Kenapa?"


"Aku kangen banget sama kamu. Aku pengen banget peluk kamu," ujar David. Tangannya sudah bersiap untuk memeluk Aisyah.


"Eh, jangan sembrono kamu!" Aisyah mendekap kedua tangannya. Dia menjauh dari David. "Kenapa tidak peluk wanita yang kemarin itu. Hm ... siapa namanya? Aku lupa."


"Clara?" David menurunkan tangannya. Dia mencoba memastikan yang dimaksud Aisyah adalah Clara.


"Iya. Peluk saja dia!" sungut Aisyah.


"Aku kangennya sama kamu. Kenapa kamu malah suruh aku peluk Clara?" tanya David. Dia sungguh tak mengerti apa yang dimaksud Aisyah.


"Dia, 'kan, wanitamu? Jadi, kamu peluknya, ya, dia." Aisyah meluruskan posisi menghadap ke depan. Dia malas menatap pria di sampingnya itu.


Mendengar ucapan Aisyah, David menyadari sesuatu. Ujung-unjung bibirnya pun segera terangkat. Dia merasa senang sekali saat ini.


"Kamu cemburu sama Clara?" David menaik turunkan alisnya, menggoda Aisyah.


"Eh! Ti-tidak!" sanggah Aisyah. Bibirnya pun sudah terlihat semakin manyun.


"Kamu tidak bisa membohongiku." David mencolek dagu Aisyah.


"Ih, apaan, sih!" Aisyah segera menepis tangan David. "Sudah! Kapan kita akan berangkat? Bisa-bisa aku telat."


"Oh, iya!" David baru menyadari. "Siap, Tuan Putri. Kita berangkat."


David menggeber mobilnya menyeruak jalanan yang ramai. Dengan kecepatan tinggi mobil itu melaju. Dia tidak ingin Aisyah terlambat, bisa-bisa ngambeknya lama.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2