Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 169. Sebuah Kotak


__ADS_3

David sedang sibuk mencari benda yang khusus dia belikan untuk Aisyah saat di Prancis. Dia sedikit kesulitan karena yang membawa barang-barangnya pulang adalah sang sopir. Lalu, diletakkan begitu saja di kamar oleh sang pembantu bercampur dengan totebag lainnya.


Setelah satu persatu totebag dibuka, David akhirnya menemukan barang yang dicari. Dia sangat berharap bahwa wanita itu akan menyukainya, lalu berhenti membenci dia. Tiga tahun sudah cukup untuk menyiksa dirinya.


David juga sudah bertekad pada diri sendiri akan mengatakan kepada kedua orang tuanya tentang Aisyah. Suka atau tidak suka, dia tidak perduli. Dia sudah bertekad untuk mempersunting wanita itu.


Namun, saat keluar kamar, David melihat sang bunda yang telah di ujung tangga. Jatung pria itu berdegup kencang. Kekhawatiran segera merasuk ke dalam hati.


"Mama sudah pulang?" tanya David dengan wajah cemas.


"Memang mama tidak boleh pulang?" tanya sang mama dengan wajah tidak suka. "Atau jangan-jangan kamu nyembunyiin sesuatu dari mama, ya?"


"Tidak, bukankah mama sudah melihatnya sendiri di bawah?"


"Oh, kamu mau sembunyiin wanita itu dari mama? Wanita yang manis, tapi sayangnya sudah di usir sama papamu karena menertawakan foto keluarga kita." Sang mama berlalu pergi masuk ke dalam kamar.


David masih berdiri di tempat. Tampak kekecewaan di wajahnya. Dia sudah susah payah mengajak Aisyah untuk datang ke sini. Sekarang, dengan begitu saja sang papa mengusirnya.


David merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa tidak di ajak ke kamar saja wanita itu? Kalau sudah begini, 'kan, gagal semua rencananya.


Dengan tubuh tanpa tenaga David berjalan menuruni tangga. Benda kotak berwarna merah masih ditentengnya. Mulut pria itu juga masih mengomel.


"Dasar, wanita bodoh! Kenapa juga dia ketawain foto keluargaku? Kayak tidak ada kerjaan lain. Padahal, hanya aku suruh tunggu sebentar, dia sudah mencari perkara," gerutu David.


Wanita yang sedang duduk di sofa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan David. Seketika dia berdiri, lalu menatap David tajam.


"Kamu bilang aku bodoh?"

__ADS_1


"Eh!" David kaget melihat wanita yang tiba-tiba muncul dengan mengomel. "Katanya kamu sudah pulang?"


Ya, Aisyah masih berada di sana. Hatinya yang sudah lega beberapa saat yang lalu, kini memanas lagi. Dia tidak suka David mengatai dirinya.


"Aku memang mau pulang!" Aisyah membalikkan badan. Dengan langkah cepat dia menuju pintu.


David secepat mungkin mengejar Aisyah. Dia segera meraih lengan sang wanita supaya langkah wanita itu terhenti.


"Aku minta maaf jika kamu tersinggung dengan ucapanku tadi," ucap David sungguh-sungguh. Dia menyesali ucapannya tadi. Dia mengira bahwa Aisyah benar-benar sudah pergi.


"Memang aku wanita bodoh. Kenapa juga aku mau menunggumu di sini?" Aisyah menghempaskan lengan agar David melepaskan genggamannya.


"Please, jangan pergi! Aku mohon maaf. Maafkan aku, dong."


Aisyah merasa kasihan dengan wajah David yang mengiba. Dia menghembuskan nafas panjang untuk menghilangkan rasa jengkelnya.


Yang ini? Jadi, aku masih punya salah. Yang mana? batin David. Pria itu mengernyitkan dahi tak mengerti kesalahan yang mana lagi.


Biarlah, yang penting sekarang Aisyah tidak marah, batin David. Pria itu menyunggingkan senyum.


"Ai, kamu tadi ketemu orang tuaku?" tanya David. Dia begitu penasaran bagaimana pertemuan antara mereka.


"Hu um." Aisyah menganggukkan kepala.


"Lalu, apa yang dikatakan papa?" David terlihat tidak sabaran.


"Tidak ada. Dia pergi begitu saja setelah melihatku," jawab Aisyah. Raut wajahnya terlihat santai, membuat David lega.

__ADS_1


David menghembuskan nafas lega. Dia kira sang papa akan marah ketika melihat Aisyah di sini. Apalagi penampilan wanita itu tidak seperti wanita berkelas.


"Tapi, wajah papa kamu sangat nyeremin, ya? Tidak bisa senyum kayaknya. Atau mungkin gara-gara kumisnya sehingga membuat bibirnya kaku. Ups!"


Aisyah menutup mulutnya seketika. Dia merasa bersalah dalam berucap. Dirinya takut jika David marah akan hal itu.


"Memang papa seperti itu. Yang penting kamu tidak di apa-apain. Lalu, kalau mama, bagaimana? Apa dia tanya macam-macam?"


David berharap mamanya juga tidak memberi respon negatif kepada Aisyah. Dengan begitu, dia lebih mantap untuk selangkah lebih maju.


"Kami hanya ngobrol sebentar. Mama kamu ramah banget," jelas Aisyah.


"Syukurlah. Tidak terlalu buruk untuk permulaan." David mengelus dada, lega. "Hm ... mama tanya apa saja?"


"Cuma tanya nama dan asalku saja. Kenapa, sih? Sepetinya kamu takut sekali?"


"Tidak. Aku cuma takut mereka tidak menyukai kamu."


"Memangnya kenapa? Suka tidak suka, 'kan, tidak masalah? Setelah ini juga kita sudah tidak berhubungan lagi," ucap Aisyah ketus.


"Sudah! Sekarang hitung, berapa hutangku? Aku sibuk hari ini. Ada kerjaan sedang menungguku." lanjutnya.


"Oh, iya, aku lupa." David memberikan kotak yang sedari tadi di pegangnya. "Ini buat kamu. Oleh-oleh dari perancis."


Aisyah terdiam saat melihat kotak kecil berwarna merah. Dari bentuknya saja dia tahu apa isi kotak itu. Dirinya semakin heran dengan apa yang dilakukan David.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2