Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Mulai mencintainya


__ADS_3

"Apa yang anda katakan?" Tanya Dokter .


"Istriku tidak mengenaliku"


"Tidak mungkin , otaknya baik-baik saja" ucap Dokter .


Dokter melihat kembali beberapa hasil pemeriksaannya .


Dokter merasa heran , Dokter pun datang menemui Renata dan menanyakan hasil terakhir pemeriksaannya, susterpun menyerahkan nya .


Dokter masih merasa heran, dan merasa yakin jika pasien tidak memgalami amnesia.


"Tuan, anda jangan khawatir ,mungkin itu bisa jadi karena istri anda terlalu lama tidur, semoga esok ingatannya segera pulih"


"Baik, terimakasih Dok"


Dokterpun tersenyum pergi meninggalkannya .


Keesokan pagi, Bob menyuapinya .


"Aku bisa makan sendiri", Bob hanya tersenyum, jika seseorang bersama yang tak ia kenal . Mungkin dia akan merasa takut atau marah. Namun mengapa Nata merasa baik-baik saja.


"Tolong, kamu pergi dari sini, aku tidak mengenalmu" Renata membuang muka.


Bob kembali tersenyum, dan merasa gemas .


"Tidak bisa, karena kamu adalah istriku"


Renata sangat terkejut mendengarnya , berdehem "Tidak, aku tidak memiliki suami"


"Darimana kamu tahu, jika kamu tidak memiliki suami?"


Renata menekan tombol darurat . Seorang perawat datang keruangannya.


"Selamat pagi Nyonya"


"Suster, tolong usir laki-laki ini"


Perawat itu tercengang mendengarnya, merasa ia tak berani mengusirnya .


"Tapi kenapa Nyonya??"


"Aku tidak mengenalnya" ,


Perawat itu menatap Bob .


"Nyonya maaf , dia suami anda"


"Suster, aku sudah bilang usir dia" , perawat itu terkejut karena terbentak.


Bob pun memberi kode, menyuruh perawat itu pergi,


dan berjalan mendekati Renata.


"Jika aku pergi siapa yang akan membayar semua ini?" ,Bob menggodanya. Lalu ia pun keluar dari ruangan tersebut.


Perasaan Renata nampak kacau, "Gawat, mengapa aku ceroboh"


Setelah beberapa hari, dalam tahap pemulihan, akhirnya Renata pun diizinkan pulang.


"Ayo, kita pulang" ajak Bob.


Renata pun mengikutinya, semua perawat juga Dokter yang merawatnya senang , karena Renata sudah boleh pulang.


Pikiran Renata masih merasa kacau. Bob tersenyum melihatnya dari spion.


Bob membawanya pulang kerumah mereka . Renata tercengang, dia kembali kerumah itu.

__ADS_1


"Ayo ini rumah kita" Bob membuka pintunya, memberikan tangannya.


"Terimakasih aku bisa jalan sendiri" acuh Renata.


"Mengapa semuanya jadi seperti ini, niat menghindarinya malah masuk kedalam perangkapnya" Renata berpikir keras , bagaimana dia bisa keluar dari masalah itu.


Bob tersenyum terus menatapnya. Mengajaknya melihat kamar. Jantung Renata berdebar ,


"Ini kamar kita, istirahatlah" Bob pamit meninggalkannya . Renata jadi salah tingkah .


"Nyonya, perkenalkan kembali saya pengurus rumah disini, jika anda butuh sesuatu, silahkan panggil saya" Renata terkejut ,dengan datangnya pelayan itu secara tiba-tiba.


"Baik" , jawab Renata, pada pelayan itu, dan ia pun pergi meninggalkannya .


Setelah beberapa saat dikamar, Renata merasa bosan,dan keluar melihat- lihat ke sekitar ,tidak nampak Bob.


"Sini" mendapati pengurus rumah yang sedang menyapu.


"Ya nyonya"


"Kemana Tuan?"


"Tu.."


"Aku sudah pulang sayang" ,tiba -tiba Bob yang datang menyahut.


"Kamu.."


Bob tersenyum ,"Kamu rindu??"


Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Tidak,aku tadi hanya" berusaha mencari alasan yang tepat.


"Renata jika kamu benar hilang ingatan, saat aku mengatakan aku suamimu, kamu tidak akan bersikap gugup seperti itu" Bob menatap Nata dan bicara dalam hatinya.


"Apa??" Renata berteriak, menghempaskan tangannya, jantungnya berdebar cepat.


"Kenapa?"


"Aku, aku masih belum mengingatmu, jadi aku minta kita pisah kamar" Renata bicara dengan memelas.


"Tidak boleh" jawab Bob.


"Aku .." tiba-tiba omongannya terpotong, karena Bob memangkunya, membawanya masuk kedalam kamar. Dan membaringkannya diranjang.


Renata sangat gugup , ia pun segera beranjak dari ranjangnya . Melihat Bob membuka kamejanya, dan masuk kedalam kamar mandi .


"Apa yang harus aku lakukan ? ,bodoh-bodoh" mengatai diri sendiri.


Setelah beberapa saat Bob pun keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk . Renata pura-pura tidur .Bob mencium keningnya, setelah ia selesai berpakaian piyama dan tidur disampingnya dengan memeluk Nata.


"Dia memelukku" Renata merasa tidak biasa disentuh seperti itu .


"Mengapa dia begitu menempel" ,rasa ingin mendorongnya .


Renata tak dapat tidur, jantungnya terus berdebar, juga was-was. Bob pun merasakan hal yang sama, ia hanya berpura-pura tidur, terasa jantung Nata berdetak cepat. Kini hidung Bob menempel pada lehernya .


Renata tercengang, dan refleks mendorongnya .


Bob pun membuka matanya,


"Apa yang kamu lakukan?" tanya nya dengan pura-pura.


"Aku kepanasan" memalingkan badan.


Bob membiarkannya, dan malam ini Bob pun tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Dipagi hari, Renata bangun dengan segera melihat kearah dirinya, ia takut terjadi sesuatu yang tak ia sadari.


Renata melihat Bob keluar dari kamar mandi, "Pagi-pagi sekali ia sudah mandi" celotehnya dalam hati.


"Oya , mana janjimu, katanya kamu akan membuktikan jika kamu adalah suamiku"


"Ada,tapi aku tidak tahu dimana kamu menyimpannya"


Renata terkejut mendengar jawabannya, terperanjat dari ranjang,


"Maksudmu?? kamu telah berbohongkan, dan kamu bukan suamiku" membentak, terlihat raut wajah Bob yang mulai kesal.


"Jika begitu buktikan jika kamu bukan istriku"


Bob mendekatinya,


"Gila" oceh Renata, dan segera beranjak dari ranjangnya , namun Bob menarik lengannya , "Sepertinya kamu sudah baik-baik saja"


"Lepaskan" memberontak.


Bertatapan,


"Aku tidak tahan lagi, aku tidak punya cara lagi untuk pura-pura" dalam hati Renata.


Bob melepas handuknya , menyergap Renata dan menciumnya .


Renata mencoba berontak, namun tak kuasa karena badan yang tertindih Bob .


Merasa sulit untuk bernafas, Bob terus mencium nya, Renata berusaha tak membalasnya, ia hanya diam .


"Ini, apa yang akan ia lakukan setelah ini? "


Melihat Bob hanya memakai celana pendek.


Memberi jeda untuk bernafas, Renata hanya menatapnya .


"Tuan" tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara seorang pelayan.


"Seseorang memanggil" Renata segera mendorongnya , Bob pun marah pada pelayan itu, memakai piyama nya kembali, Renata segera membuka pintu.


"Nyonya , sekretaris Al sudah menunggu Tuan dari tadi dibawah"


"Ya, katakan ia akan segera kesana"


"Baik", ketika pelayan itu pergi, Renata pun segera mengikutinya.


"Siapa namamu?"


Bob bicara diluar pada pelayan itu.


Dan menyuruh Al memecatnya .


Pelayan itu menangis .


"Kenapa dia menangis?" Renata melihatnya, dan pelayan itu membawa tasnya keluar dari rumah.


"Tunggu" Renata memanggilnya, namun pelayan itu mengacuhkannya dan pergi.


"Tuan tolong maafkan dia" bujuk Al. Namun Bob tidak menghiraukan ucapannya.


"Kamu cari pembantu yang lain, yang tidak lancang menggangguku ,terutama saat aku sedang dikamar" kalimat sedang dikamar ,ia katakan dengan pelan.


Bob berpikir, jika dia hampir saja mendapatkannya, namun semuanya gagal karena pelayan itu.


Mobilpun berhenti didepan gedung . Bob dengan segera berjalan masuk . Tiba-tiba langkahnya terhenti. Melihat Bella yang berada dihadapanya.


Bob mengacuhkannya setalah menatapnya sesaat,

__ADS_1


Bela berjalan mengikutinya, menggandeng lengan Bob. Ikut masuk kedalam ruangannya.


__ADS_2