Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 119. Bingkisan untuk Aisyah.


__ADS_3

Aisyah dan David tengah dalam perjalanan ke kampus. Aisyah sungguh di buat repot oleh David karena pria itu kadang-kadang suka mengerem mendadak. Hal itu membuat tubuh Aisyah menabrak tubuh David. Sedangkan, David senang akan hal itu.


"Kamu sengaja ngerem mendadak, ya?" tanya Aisyah sebal.


"Sengaja bagaimana? Kamu lihat lampu merah, 'kan? Jadi aku harus ngerem. Kalau aku terobos tuh lampu, bisa kena tilang nanti," jelas David.


"Tapi ngeremnya jangan mendadak begitu dong. Aku lelah karena harus menahan tubuhku agar tidak menabrak kamu," keluh Aisyah.


"Kalau kamu lelah, sandarkan saja tubuhmu ke tubuhku," ucap David seraya tersenyum tipis yang tak nampak oleh Aisyah.


Aisyah hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Dia menirukan apa yang David katakan tanpa sepengetahuan pria itu. Aisyah sangat malas dengan David.


"Oh ya! Kenapa kamu pagi-pagi ke kosanku?" tanya Aisyah curiga.


"Siapa yang ke kosanmu? Aku hanya kebetulan lewat, lalu melihat kamu sedang bersama mantan suamimu. Aku tahu kamu tidak suka akan kehadirannya, jadi aku terpaksa menghampirimu deh," kilah David.


Sesungguhnya David memang sengaja ingin menjemput Aisyah. Dia ingin berangkat ke kampus bersama sembari mengobrol. Dia ingin lebih tahu dan lebih dekat dengan Aisyah agar bisa menaklukkan hati gadis itu. Entah tak tahu kenapa, sekarang David terobsesi untuk menaklukkan hati Aisyah.


"Dari mana kamu tahu kalau aku tidak suka akan kehadirannya? Aku tidak pernah mengatakan hal itu sama sekali kepadamu," ucap Aisyah tidak percaya.


"Kalau kamu suka akan kehadirannya, lalu kenapa kamu ikut denganku?" selidik David.


Aisyah bergeming atas pertanyaan David. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Dia mengumpat pada dirinya sendiri.


David tersenyum lebar. Dia merasa bahwa dirinya menang. Semua itu terbukti karena Aisyah tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Kenapa diam saja? Kalau kamu diam, berarti aku benar 'kan?" tanya David.


Aisyah masih saja diam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan David yang akan menjebak dirinya. Aisyah tahu bahwa David sedang memancing perkataannya.

__ADS_1


"Kamu membawa apa di dalam kantong plastik itu?" David mengalihkan pembicaraan karena Aisyah tak kunjung menjawabnya.


"Oh, ini jaket kamu waktu itu yang kamu pinjamkan padaku. Aku ingin mengembalikannya padamu," jawab Aisyah.


"Kenapa harus pakai kantong plastik?" pekik David.


David tak habis pikir kenapa jaketnya harus dimasukkan ke dalam kantong plastik? Bukannya sekarang sudah ada tote bag? David semakin merasa bahwa Aisyah itu aneh.


"Masa harus aku tenteng begitu saja. nanti kotor lagi saat aku bawa naik bus," jelas Aisyah.


"Pakai tas lah, biar bisa aku cantelin di stang motor. Kalau kalau tas plastik begitu mau aku taruh mana? Tak mungkin juga aku taruh ke dalam tas ku ini," ucap David Seraya menepuk tas yang ada di depan dadanya.


"Ini juga bisa dicantelin di stang motor," kata Aisyah malas karena David terus saja membantahnya.


Perdebatan terus terjadi di antara mereka Selama perjalanan menuju kampus. Ada saja hal yang mereka dapatkan. Bahkan, seorang ibu-ibu yang menyeberang jalan saja bisa menjadi bahan perdebatan mereka.


Mereka kini telah sampai di parkir kampus. Semua pasang mata tertuju padanya. Mereka berbisik di antara mereka sendiri. Membicarakan pemandangan yang tak biasa di depan mata.


...****************...


Aisyah kini telah sampai di depan gang kosannya. Dia berjalan sedikit tergesa-gesa karena tidak ingin terlambat pergi bekerja. Aisyah kesel karena bis yang datang terlalu lama.


Dari jauh Aisyah melihat sebuah benda yang tergeletak di depan pintu kamarnya. Gadis itu semakin mempercepat langkahnya untuk mengetahui benda apa itu. Dia begitu penasaran dengan benda itu.


"Auw!" pekik Aisyah.


Aisyah menendang sebuah paving yang tergeletak sembarang di jalanan. Jempol kakinya pun seketika terasa nyeri. Akhirnya dia menuju kamarnya dengan kaki sedikit terpincang.


Ternyata sebuah kantong plastik dengan brand toko baju ternama. Aisyah segera membolak-balikkan kantong plastik itu untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Akan tetapi, tidak ada petunjuk yang ditinggalkan di sana.

__ADS_1


"Aisyah, jadi seorang pria yang meninggalkan itu di situ," ucap tetangga wanitanya yang baru saja keluar dari kamar.


"Oh. Ibu tahu tidak nama orang yang menaruh benda ini di sini?" tanya Aisyah.


"Tadi siapa namanya? Ri-Ris ...."


"Riski?" tebak Aisyah.


"Iya, benar. Riski namanya," ujar sang ibu membenarkan perkataan Aisyah.


"Oh. Terima kasih ya, Bu," ucap Aisyah diikuti anggukan kepala.


"Sama-sama, Aisyah," sahut sang ibu.


Aisyah segera membawa masuk kantong plastik itu. Gadis itu mulai membuka, lalu memngeluarkan isi di dalamnya setelah menutup pintu kembali. Dia begitu senang sekaligus heran dengan pemberian Riski itu.


Untuk apa Kak Riski memberikan ini semua padaku. Aku bahkan tidak meminta ini padanya, batin Aisyah.


Aisyah telah mengeluarkan semua isi di dalam plastik itu. Dia seperti melihat sesuatu yang masih ada di dalamnya. Gadis itu mengambilnya yang ternyata adalah sebuah kertas kecil dengan sebuah catatan di atasnya.


Aisyah, kalau kamu sudah menerima baju itu, berarti aku sudah pulang ke kota S. Aku akan menyelesaikan kuliahku dulu. Setelah itu, aku akan kembali ke sana.


Aku berharap kamu tidak menjadi milik orang lain setelah aku lulus nanti, sehingga aku bisa mengejarmu lagi. Aku tak akan menyerah. Semoga hatimu bisa menjadi milikku.


Oh ya, kamu suka 'kan dengan baju yang aku belikan? Kamu harus memakainya!


^^^Riski^^^


Aisyah tak mau terlalu lama berpikir dan membayangkan Riski. Dia kini hanya ingin berangkat bekerja. Aisyah segera mandi untuk pergi bekerja tanpa menyingkirkan baju pemberian Riski terlebih dulu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2