Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Cinta


__ADS_3

"Ya Tuhan ,apa yang terjadi waktu malam itu, apa benar aku berciuman dengannya, tidak -tidak" Unge yang sama-sama mabuk bersama Alex lepas control . Entah mengapa malam itu tatapan mereka begitu panas. Alex tiba-tiba tertarik pada Unge , juga sebaliknya.


"Mengapa jantungku berdebar mengingatnya" Unge geleng-geleng .


"Nata, maafkan aku" Unge menutupi muka dengan kedua tangannya.


Dikantorpun Alex merenung sejenak, mengingat kejadian semalam .


"Baru kali ini aku merasa bersalah seperti ini, apakah ini rasa bersalah pada Nata? tapi aku justru merasa tidak enak dan bersalah sama Unge" meremas rambutnya sendiri.


Alex dulu semasa kuliah, tak segan menyantap wanita manapun yang bersedia menghampirinya , Tapi dia juga pemilih dia terkenal playboy karena itu. Alex banyak melakukan percintaan semalam . Tanpa hubungan yang jelas. Namun setelah mengenal Nata, dia berhenti melakukannya .


Dan sekarang dia lepas control melakukannya pada Unge. Unge masih perawan , selain itu Unge bukan wanita sembarangan, dia juga teman Nata.


Alex begitu bersalah.


Unge terus melamun, merasakan sentuhan-sentuhan malam itu lagi . Bagaimana bisa mereka melakukannya .


"Tidaaaak" teriak Unge. Dia membenturkan kepalanya ke meja berulang kali.


"Pengkhianat .. kamu pengkhianat" mengatai diri sendiri.


*******


"Kemana Alex mengapa dia belum kembali juga?" gumam Nata menunggunya .


Nata memanggilnya dipanggilan telpon ,namun Alex tidak menjawabnya .


Alex malah pergi sendiri ke rumah Unge.


"Aku menunggumu diluar" ucap Alex menelpon Unge tepat dibawah rumahnya . Unge segera turun setelah melihatnya dijendela.


"Ada apa kamu kemari?" Unge dia berpakaian tidur setelan berwana putih tipis . Terlihat tertiup angin sesekali menjiplak bentuk lekuk tubuhnya.


"Diluar dingin" ucap Alex kaku.


"Katakan saja , ada apa?" , Alex menatapnya , lalu menarik lengannya masuk kerumah.


Unge termenung dengan sikap Alex . Jantung mereka berdebar.


"Maaf ,aku mau minta maaf"


"Duar" jantung Unge terasa tersambar . Sepertinya Unge tidak suka mendengarnya.


"Maaf katamu??" wajahnya berubah suram.


Alex ia tampak gugup.


"Baiklah, apa yang terjadi semalam tidak sepenuhnya kesalahanmu, tapi juga kesalahanku, aku sudah melupakannya " Unge segera berbalik, tidak ingin melihatnya . Dan tampak Unge menyembunyikan kesedihannya .


Alex tetap merasa tidak puas ,


"Unge" mengambil lengannya , dan membalikkannya .


"Apakah aku harus beranggungjawab dan bicara pada Nata?" ,Unge tersentuh mengelap air matanya .


"Tidak, jangan" menggelengkan kepala.


Alex mendekapnya erat.


"Maafkan aku" , entah perasaan apa yang merasuk pada Alex hingga sikapnya berubah 360 derajat. Alexpun masih tidak memahaminya .


"Kamu demam?" Alex meraba tubuh Unge yang hangat.


"Sedikit" Alex memapahnya ke sofa . Tiba-tiba Alex dan Unge merasa kaku . Mereka tak tahu apa yang akan mereka lakukan lagi.


"Alex" Unge mencoba membuka obrolan.


"Kamu sudah berusaha bicara, membuka hati Nata?"


"Belum" Alex menggeleng.


Unge merasa curiga , mengapa situasi malam ini begitu terasa tidak nyaman . Unge bertatapan dengan Bob, Unge melihat gerak gerik Alex , yang terus melihat nya ke arah lain . Dia menatap pada bibir Unge, karena jarak mereka yang sudah dekat.


Alex perlahan mengecup bibirnya , sekali .. Unge masih diam , dua kali tidak merespon , ketiga kali Alex menggigitnya ,


"Hentikan, jangan lakukan lagi ,ini sudah malam sebaiknya kamu pergi " Unge segera berdiri. Namun Alex menariknya , kembali mengajaknya berciuman .

__ADS_1


Renata sudah kesal menunggu , dia meminta pelayan menyimpan makanannya . Renata biasa memasak khusus untuk Alex.


"Nat , Alex belum juga kembali?" tanya Ibu.


"Ya , dan Boy bilang dia sudah lama berpisah dengan Alex" Nata pun masuk kedalam kamarnya .


Dini hari Alex baru pulang . Dia langsung masuk kedalam kamarnya.


*********


"Kamu pulang larut lagi?" tanya Nata keesokan paginya.


"Ya" , Nata tidak berani bertanya jauh . Selama hidup bersama Alex ,Renata tidak pernah mencampuri segala urusannya .


"Alex , bolehkah aku meminta berkas perceraianku ?"


"Mengapa?" tanya Alex


"Biar aku saja yang mengurusnya"


"Kamu yakin?"


"Ya"


"Baik" , Alex pagi ini dia tampak segar , dia lahap makan makanannya.


"Aku pergi" Alex mengecup kening Nata. Setelah Nata merapikan dasinya.


*******


"Boy antarkan ini kerumah" Alex memberikan berkas gugatan perceraian Nata.


Boy datang sebentar hanya untuk memberikan berkas.


"Dimana kamu?" Nata menelpon Bob.


Bob terdiam , dia kurang suka dengan ucapan Nata.


"DiKantor"


"Baiklah, aku akan kesana nanti"


"Memberikan berkasnya untuk kau tanda tangani"


"Oh, bertemu ditempat lain saja, nanti aku kirimkan alamatnya" Bob memutusnya .


Tring ,pesan masuk , alamat yang dikirimkan Bob .


Renata tidak tahu dimana itu , Nata pergi sendiri mencarinya dengan aplikasi GPS.


"Dimana ini??" , Renata memasuki tempat yang ditumbuhi banyak pohon ,sepanjang jalan hanya pohon .


"Dan ini dibelakang kota , tempat apa ini? seperti perkebunan milik pribadi" gumamnya .


"Tapi sepi sekali" Renata tiba dihalaman rumah , rumah yang etnik ,model dulu tapi masih terjaga apik . Rumah dengan halaman terluas.


Renata keluar dalam mobilnya, melihat mobil Bob sudah ada disana.


Nata tidak tahu harus kemana, dia menelpon Bob .


"Aku didalam" jawabnya . Nata pun perlahan berjalan masuk .


"Semoga saja dia tidak bohong, langsung tanda tangan" gumamnya.


Bob sudah duduk ditemani koki yang sedang memasak .


"Tempat ini!!" Renata terkesima.


"Tempat yang istimewa" gumamnya dalam hati.


"Duduklah" Bob memperhatikannya.


Koki pun menyajikan makanannya. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kemana dia pergi?" tanya Nata panik.


"Kenapa kamu takut berdua denganku" Bob menebaknya.

__ADS_1


Renata terdiam , dia langsung memberikan amplopnya.


"Simpan ! kita makan dulu" ucap Bob, menyeruput supnya.


"Mana Pacarmu, dia tidak ikut?" Bob terdiam sejenak setelah mendengarnya,


"Jika dia ada, kita tidak bisa bersenang-senang"


"Brengsek" Renata bicara sembari melihat Bob yg asyik makan dengan supnya.


Bob tidak suka dengan panggilan brengsek. Bob menyimpan sendoknya.


"Katakan, apa brengsek itu, seperti apa ! yang kau katakan brengsek itu?!" mengambil tangannya Nata.


"Lepaskan " Nata menarik lengannya berulangkali.


Bob perlahan mengecupi lengannya ,


"Hentikan" teriaknya. Bob melepasnya.


"Cepat makan, jika tidak ingin memancingku" Jantung Renata berdegup sangat kencang.


Renata pun memakan makanannya.


"Hmm .. ini enak sekali" ,Bob langsung melihat reaksinya .


"Sial" ,Bob melihat Nata menjilat bibirnya.


"Bisakah kamu makan dengan tenang" Bob memakinya. Renata terkejut .


"Hahhh" kali ini Renata kepanasan , dia memakan kuah supnya tanpa meniupnya dulu. Nata pikir supnya sudah mendingin.


"Ceroboh, kamu ingin membakar lidahmu" Bob marah lagi .


"Ehmmm" Renata masih mengerang kepanasan. Bob beranjak dari kursinya reflek meniupinya.


Huh ...huh meniupi mulutnya.


Bob langsung terdiam juga Nata , Bob melihat pada bibirnya .


"Diamlah" , Bob langsung menciumnya .


"Ehmm" Renata dan Bob berciuman .


"Rasa panasnya berkurang ,mengapa aku merasa nyaman sekarang?" gumam Nata dalam hati , setelah lepas berciuman.


Mereka terdiam setelah melakukannya.


"Lain kali hati-hati jika makan" gumam Bob , kembali duduk dikursinya.


"Aku kemari hanya untuk ini , cepat tanda tangan" , Bob menatap amplop itu, dan mengambilnya.


"Akan aku tanda tangan , tapi ada syaratnya bagaimana?"


"Syarat?? apa ??"


"Tidurlah denganku malam ini , mau??"


"Mimpi"


"Kamu lupa bagaimana aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya ?!"


Renata terdiam , "Kamu mengancamku lagi?" Renata berdiri dari kursinya , begitu juga Bob.


"Jika tidak malam , disini juga boleh"


"Diam" Nata mendorongnya .


"Ahh" sedikit sakit.


"Kenapa?" tanya Bob.


Dada Nata mulai mengeras , dan sakit, dia harus segera menyusukannya pada sikembar.


Nata memegangnya berhati-hati.


"Punyamu semakin besar" Bob menatapnya.

__ADS_1


Plakk, Nata menamparnya. Bob melotot melihatnya. Nata segera pergi karena takut. Dan Bob membiarkannya.


__ADS_2