Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
PPA 8#


__ADS_3

adari bahwa ucapannya barusan seperti membangunkan singa tidur yang mulai tenang setelah lelah melatih otot-ototnya. Wajah Ravka tampak mengeras menatap tajam Beni.


"Sorry salah ngomong gue," Ucap Beni mengangkat kedua jari membentuk huruf V, menyadari arti tatapan tajam Ravka.


Tak hanya Beni yang menghampirinya setelah itu. Ada Rifzan dan juga Zai turut menyambanginya di belakang Beni.


"Ngapain lu semua pada ngumpul disini?" Ucap Ravka melihat ke-empat sahabatnya sudah merubunginya.


Dia menyadari betul, pasti Dandi sudah mengabari mereka bahwa ia berada di pusat kebugaran ini. Padahal saat ini adalah waktu pelaksanaan resepsi pernikahan yang sudah di elu-elukannya beberapa bulan belakang.


"Ya hunting ceweklah. Kapan lagi gue ga perlu capek-capek buang tenaga, tapi cewek-cewek dengan mudahnya nyamperin gue," Ucap Zai menunjuk dua perempuan yang berjalan ke arah mereka dengan kerlingan matanya. Mencoba mencari jawaban yang tidak akan menyinggung Ravka.


"Hai, anda personal trainer disinikan?" Tanya salah satu wanita kepada Dandi. Namun matanya malah melirik Ravka yang masih menggantungkan tubuhnya pada abdominal bench.


"Iya," Jawab Dandi sembari melemparkan senyuman ramah. Walau sebetulnya ia sangat jengkel karena ia hanya dijadikan alasan bagi perempuan itu untuk mendekati Ravka. Niat perempuan itu sudah sangat jelas. Bagaimana tidak, dia yang diajak bicara tapi perempuan itu justru melihat ke arah Ravka.

__ADS_1


"Boleh kami minta tolong untuk membantu latihan kami?" Tanya perempuan itu masih tidak mengalihkan pandangannya dari Ravka.


"Maaf Nona, saat ini saya sedang melatih member VIP kami," Jawab Dandi datar.


"Tidak masalah. Gimana kalau kita berlatih bersama," Ucap perempuan yang satu lagi.


"Maaf tapi sebetulnya shift saya sudah berakhir setengah jam yang lalu. Jadi mungkin kita bisa menjadwal ulang untuk sesi berikutnya," Tawar Dandi kepada dua perempuan itu. Mencoba mengusir dengan halus dua perempuan yang sudah mulai berlenggok menggoda. Namun, sayangnya keduanya seperti tidak peka.


"Kita bisa kasih tips yang besar untuk kamu, kalau kamu bersedia meluangkan waktu melatih kami di luar shift kamu," Tambah wanita itu maaih terus mendesak.


Ravka yang mulai risih akan kehadiran dua perempuan yang menjadi polusi bagi telinganya mendengar cara mereka bicara, langsung turun dari Abdominal Bench. Betul kata Dandi saatnya mengakhiri sesi latihannya kali ini. dia kemudian melengos pergi begitu saja dari hadapan dua perempuan ganjen itu.


"Maaf saya permisi," Ucap Dandi kepada dua perempuan itu sebelum menyusul teman-temannya. Meski tidak menyukai keduanya, dandi harus tetap menjaga etika kepada member di pusat kebugaran itu. Karena bagaimanapun dia harus menjaga sikapnya sebagai profesional trainer.


"Belagu," Ucap dua perempuan itu samar yang masih dapat ditangkapa oleh telinga Dandi. Hal yang seringkali ia dengar saat para perempuan berusaha mendekati Ravka dan selalu berakhir dengan rasa kecewa karena memang sulit sekali bagi para wanita untuk mendekati temannya itu.

__ADS_1


"Mau kemana lu?" Tanya Rifzan kepada Ravka saat dilihatnya Ravka tidak berbelok menuju loker ataupun ruang ganti. Pemuda itu malah berjalan lurus.


"Mau sauna. Mau ikut lu?" Tanya Ravka sembari menautkan kedua alisnya melihat pakaian yang dikenakan oleh Rifzan. Temannya itu mengenakan kemeja yang digulung hingga siku serta celana bahan.


"Kaya cewek aja lu pake sauna segala," Timpal Beni yang juga tengah mengenakan pakaian yang rapi karena sudah diperjalanan menuju tempat resepsi bersama Rifzan ketika Dandi mengabari mereka keberadaan Ravka di pusat kebugaran.


"Sauna itu bisa mengurangi stress, menstimulasi otot yang kaku habis latihan berat, bisa juga buat nurunin berat badan lu yang udah kaya babon," Ucap Ravka mendelik kepada Rifzan


"Eh gue masih masuk kategori berat badan ideal yah. Jangan mentang-mentang gue ga punya perut kotak-kotak, Lu bisa ngatain gue kaya babon," Ucap Beni sewot disamakan dengan binatang berbulu. Beni memang salah satu teman mereka yang datang ke pusat kebugaran hanya untuk tebar pesona kepada para gadis.


Ravka kemudian masuk ke dalam sauna yang dipenuhi uap panas dengan suhu sekitar delapan puluh derajat Celcius. Dia memang butuh waktu untuk berdiam diri sejenak disana, merenung sekaligus memperlancar sirkulasi tubuhnya supaya bisa kembali berpikir jernih.


"Ngapain lu ikutan masuk kesini?" Tanya Ravka kepada Zai yang ikut masuk ke dalam ruang sauna. Temannya satu itu memang mengenakan kaos dan juga celana pendek, jadi tidak masalah baginya jika berpanas-panasan di dalam sauna.


"Mau ngurangin berat badan biar ga kaya babon," Jawab Zai membalikan omongan Ravka. Mereka kemudian masuk ke dalam ruang sauna di ikuti oleh Dandi.

__ADS_1


"Kita tunggu di cafe aja deh," Ucap Rifzan kemudian beranjak pergi bersama Beni.


Di dalam ruangan sauna mereka bertiga lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam. Ravka hanya memejamkan mata entah tertidur atau sedang berperang dengan pikiran dan batinnya. Sementara Dandi dan Zai hanya saling menoleh melihat tingkah Ravka tanpa satupun yang berani menegur temannya yang sedang asik dalam kesendiriannya.


__ADS_2