Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Posesif


__ADS_3

"AHH" Nata bangun lebih awal, dia merasakan pinggangnya yang sakit. Melihat Bob yang sudah pergi meninggalkannya .


"Apa?? ini sudah pagi !" Nata terkejut setelah melihat jamnya sudah pukul 6 pagi.


"Bayiku" dengan tergesa -gesa mengambil pakaiannya yang berserakan .


"Tok .. Tok" terdengar seseorang mengetuk pintu .


"Siapa?" , Nata membuka pintu , dan seseorang pegawai (wanita) hotel memberikan tas jinjing yang entah isinya apa. Nata mengambil dan membuka nya , ternyata dalamnya adalah pakaian lengkap dan bersih.


Nata pun tak berpikir panjang lagi , ia segera merapikan dan membersihkan dirinya dikamar mandi.


"Oh , pakaianku ruksak semua" melihat pakaiannya yang terobek-robek oleh Bob semalam .


Nata membawanya dan membuangnya setelah keluar dari hotel .


"Pakaian tidak layak aku simpan" ,takut ketauan orang rumah.


"Sayang, kamu sudah bangun" Bob memanggilnya dalam panggilan telpon. Namun Nata kesal segera memutus telponnya. Ia harus segera pulang , dan berangkat kerja.


"Nat"


"Hai Ibu" , Ibu yang melihatnya sudah berganti pakaian rapi.


"Kamu darimana?" tanya Ibu yang melihat Nata segera menggendong bayinya , untuk disusui.


"Aku ada hal mendesak dan mendadak"


"Pagi-pagi sekali? Sampai Ibu terbangun kamu sudah pergi" ,


"Oh, Ibu tidak tahu jika aku pergi dari malam, bahkan aku tidak tidur dirumah" gumam Nata, yang menyadari jika Ibunya tak sadar itu.


Nata terkejut, setelah melihat banyak sekali tanda kepemilikan dalam dadanya.


"Oh ini , aku tadi tidak melihatnya" ,matanya membulat , berpikir saat dia tadi mandi cepat-cepat, tak menyadari ada tanda-tanda merah itu. ditubuhnya.


"Nat" , Nata segera berbalik menghalangi, takut terlihat oleh Ibu.


"Ibu aku titip bayi-bayiku ya" Nata segera menyelesaikan menyusui bayinya.


"Oh mereka menangis" , para pengasuh pun datang memangku dan menenangkan para bayi.


"Aku pergi" , Nata bicara begitu lirih, ada rasa bersalah dalam dirinya , entah itu apa.


.


.


Dalam parkiran Nata tidak segera pergi , terasa begitu sesak , memegang jantungnya .


"Mengapa hidupku begini" merengek sendiri , sekilas sisa-sisa bayangan semalam.


"Ah, aku harus menghapus ingatan semalam" mengelap airmatanya yang sedikit tumpah , segera pergi melajukan mobilnya.


.


"Papa" , tegur Raka yang mengejutkannya .


"Ya sayang" ,


"Cepat habiskan makanannya"


Bob tersenyum melihat putranya kini sudah besar. Mengacak-ngacak rambut Raka dengan lembut.


.


Didalam mobil, perjalanan mengantar Raka sekolah,


"Apa dia marah, apa dia kesal?" Bob terus bergumam dalam hati , merasa tidak tenang dengan hati dan pikirannya .


"Al setelah sampai sekolah , biar mobil aku yang bawa"


"Baik" , Al merasa heran mengapa tiba-tiba Bob ingin menyetir .


Bob ingin berhenti memikirkan Nata dan bayangan yang terjadi semalam .


"Itu membuatku gila, dan ingin melakukannya lagi dan lagi dengannya" gumam Bob dalam hati .


.


Claire sangat kesal , pesannya tak kunjung Bob balas dari semalam .


"Aku akan menemuinya" , seru Claire , segera ia menjinjing tasnya dan keluar dari kamar hotel.

__ADS_1


"Taxi" , Claire pun memanggil dan masuk kedalam taxi yang sudah berada didekatnya.


.


"Nona Nata, bisakah anda datang ke perusahaan tersebut sendiri?" ucap CEO tempatnya bekerja .


Nata bergetar , memegang dokumennya , tahu jika dia diutus pergi ke kantor Bob.


"Baik" Nata pun tak dapat menolaknya.


Tempatnya bekerja , menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Bob , dan Nata pergi kesana untuk meminta tanda tangannya saja.


Tempat Nata bekerja , perusahaan yang terhitung masih kecil , jauh sekali dengan milik Bob, Nata menatap gedung itu yang semakin tinggi. Tempat ayahnya Raka bernaung.


"Baiklah Nat, sejenak lupakan semua, saat ini fokuslah pada pekerjaan"


Nat berjalan seiring dengan Claire , Claire menuruni taxi, dan segera melangkah lebih cepat darinya , tanpa Claire sadari jika Nata pun berada disana melihatnya.


"Dasar pria, wanita nya datang dan apa yang dia lakukan padaku semalam" , merasa tersiksa dengan kejadian semalam.


Nata berjalan perlahan menuju kantor Bob , hingga Al pun terkejut melihat kehadirannya.


"Anda?"


"Maaf , saya datang kesini sebagai sekretaris dari .." menunjukkan dokumennya.


"Ya , silahkan" Al mengantarnya masuk tanpa mengetahui jika Claire sedang berada didalam bersama Bob, karena Al tadi pergi sebentar meninggalkan tempatnya.


"Aaah" teriak Nata , segera berpaling dan berbalik.


"Maaf" Al segera menarik lengan Nata, membawanya keluar .


"Maaf" seru Al pada Nata ,


"Heeh" Nata menyerengeh kesal dengan apa yang baru saja dia lihat. Claire berciuman dengan Bob , dengan posisi Claire duduk diatas mejanya.


"Sudah, hentikan" ucap Bob pada Claire.


"Mengapa kamu selalu menolak" Claire bicara dengan lembut.


"Ini kantor, dan aku sedang bekerja" , padahal Bob menyadari kedatangan Nata dan Al tadi, ia melirik dengan matanya.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu" rengek Claire manja , mengalungan kedua lengannya dileher Bob,


"Bisakah hari ini bolos saja?! Kita bersenang-senang ... Ummm .. Mm" merayunya.


"Aku akan pulang lebih cepat, sekarang kembalilah" ,bujuknya.


"Hmm , mengesalkan" ,Claire pun tak mampu bicara banyak untuk membujuknya lagi. Pergi dari ruangannya . Nata segera berbalik, tidak ingin Claire melihatnya. Dan Claire pun tidak perduli.


"Silahkan anda masuk" tegur Al padanya.


"Terima kasih" , Nata pun perlahan melangkahkan kaki nya masuk keruangan Bob.


Sesampainya didalam , Nata tak ingin berlama-lama menatapnya .


"Maaf , ini , silahkan anda tanda tangan" langsung bicara pada intinya. Bob melihat berkasnya .


"Kamu nyenyak semalam?" tanyanya.


Nata diam , dan menyadari jika Bob memperhatikannya. Ia pun perlahan mengangguk.


Bob mengguratkan coretannya pada berkasnya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" melihat Nata yang hanya diam berdiri mematung, Bob beranjak dari kursi menghampirinya.


"Hai"


"Aah" Renata terkejut.


"Kenapa? Apa karena melihatnya?" maksud pembicaraan pada yang terjadi tadi saat bersama Claire.


"Maaf jika sudah saya mohon undur diri" dengan segera Nata mengambil dokumennya diatas meja.


Bob menghentikannya, dengan cepat menangkap tangannya .


"Ahhh" Nata berontak dan sekejap memukulnya, dengan dokumen yang berada ditangannya.


"Maaf"ucap Nata , segera melepaskan diri menjauh darinya pergi.


Bob tertegun menatap punggungnya yang berjalan keluar dari ruangannya.


Tring ... Sebuah pesan masuk , Nata segera melihat dan membukanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak lupa hari ini membuat makanan untuk anak kita!"


"Tentu saja aku akan membuatnya" , Nata segera memainkan jari jemarinya yang lincah , membalas pesan dari Bob.


.


"Aku duluan ya" semua teman kerja berseruan meninggalkan kantor ,begitu juga Nata.


Tid (bunyi klakson), dari depannya sudah terparkir mobil Bob .


"Kau?!"


"Masuklah, kita akan memasaknya dirumah"


"Tidak , aku akan memasak dirumahku"


"Sebentar saja , masuklah" ucap Bob, sembari membuka pintu samping mobilnya .


"Terima kasih" ,namun Nata naik dan duduk dibelakangnya. Bob menyeringai melihatnya .


Selama bersama didalam mobil , tak satupun yang bicara , jika Bob mungkin menyadari sikap Nata yang sedang marah .


"Bagaimana pekerjaanmu, kamu betah?


"Apa?" jawabnya ketus,


"Kantor dan atasannya, apa disana baik-baik saja?"


"Tentu"


"Hmm" jawab Bob tidak senang, ia segera mengerem mobilnya mendadak.


"Kamu tidak nyaman?"


"Apa?" ,Nata terkejut Bob yang keluar dan masuk kedalam mobil duduk bersamanya.


"Kau" kedua matanya membulat.


"Kamu marah? Katakan !!"


"Tidak!!"


"Aku tahu kamu marah" memainkan helaian rambut Nata.


"Apa karena kejadian semalam atau tadi?" lanjutnya.


Jantung Nata berdebar , mulutnya seolah terkunci , padahal banyak sekali sesal dan makian kepada Bob.


"Hentikan" Nata takut, kini jaraknya dengan Bob hanya berkisar centian.


"Hentikan" Bob hendak menciumnya , namun Nata berpaling , membuang muka kearah lain. Dan Bob pun sadar ini di jalan, dia tidak mungkin melakukannya disini, meskipun kaca jendela mobil sangat gelap.


"Baiklah, aku anggap kamu marah karena kejadian tadi" , Bob pun keluar, kembali masuk dan duduk dikursi kemudi.


"Kamu pikir aku sedang cemburu!" jawab Nata menghentikannya


"Lalu karena kejadian semalam??" tanya nya. Nata tertegun .


"Aku rasa apa yang aku lakukan semalam tidaklah salah, aku masih berhak memintanya" Bicara dengan sangat jelas.


"Oooh , benar, kamu benar, kamu adalah laki-laki paling pintar dan licik aku temui" Nata tidak terima dan segera ingin keluar dari mobilnya , Namun segera disadari Bob dan menguncinya dengan rapat .


"Baik , kita selesaikan sekarang!" ucap Bob segera melajukan mobilnya . Memotong jalanan kota yang nampak luang , karena matahari mulai tenggelam .


.


"Mama" seru Raka melihatnya , sangat senang.


"Maaf Mama datang terlambat" ,


"Tidak apa!" jawab Raka.


"Ayo" Raka menariknya berjalan kedapur.


"Hari ini Mama akan membuatkan aku apa?"


Nata melihat pada isi kulkas ,


"Hari ini mama masak yang cepat saja ya?!"


"Hmm" Raka mengangguk .


Bob kembali sudah berganti pakaian. Menghampiri Raka dan bersama-sama duduk dimeja .

__ADS_1


__ADS_2