Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
PPA 11#


__ADS_3

"Hey, apa yang kau lakukan hah?" Hardik Ravka sembari menendang kaki yang disentuh Alea dengan kasar, hingga wanita itu hampir saja terjengkang ke belakang. Beruntung gadis itu masih bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


"Aku hanya ingin membantumu membuka sepatu. Kamu sepertinya kelelahan karena naik ke tempat tidur tanpa membuka sepatu," Jawab Alea gugup.


"Jangan pernah menyentuh tubuhku. Kau hanya gadis binal yang sama sekali tidak pantas hanya untuk berada di dekatku, apalagi menyentuhku," Ucapnya dengan tajam.


Kata-kata Ravka seolah sembilu yang tepat mengenai jantung Alea. Seburuk itukah citra dirinya di mata suaminya? Hanya seorang perempuan binal. Ia terdiam mematung di tempatnya berdiri dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.


"Tidak usah berpura-pura menangis dihadapanku. Aku tidak akan percaya dengan akting mu itu. Katakan sesungguhnya, apa tujuanmu mengacaukan hidupku?" Ravka beranjak berdiri dari kasur. Menatap gadis di hadapannya seolah hendak mengulitinya.


" Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu," Ucap Alea terbata.


"Tidak mengerti ha? Kau sengaja menjebakku agar bisa menikah denganku. Dan kau berharap aku percaya kau tidak punya maksud apapun?" Ravka berjalan mendekati Alea. Meraih rahang wanita itu dan mencengkramnya dengan erat.


Bau minuman keras menyeruak dari mulut suaminya, mengahntarkan bau menusuk hidung Alea hingga wanita itu mengernyit tidak tahan dengan bau yang menyengat itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu dengan mudah mencapai tujuanmu. Kau tidak akan pernah bisa memanfaatkanku untuk meraih apapun yang kau rencanakan melalui pernikahan ini," Lanjut Ravka. Dia melepaskan genggaman rahang Alea sembari mendorong wanita itu kasar hingga menyentuh pinggiran dipan.


Alea bertahan pada pinggiran dipan supaya tidak terjatuh. Mendaratkan bokongnya di atas kasur dengan kedua tangan mencengkram sprei, menyalurkan rasa takut yang mendebarkan jantung.


"Aku sama sekali tidak mempunyai rencana apapun. Aku bersumpah," Ucap Alea dengan air mata yang mulai menderas di kedua pipinya.


"Jangan kau kira aku sebodoh itu. Percaya begitu saja dengan mulut wanita binal sepertimu," Hardik Ravka sembari mendekat ke Alea.


Gadis itu semakin ketakutan. Ia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh kepala dipan. Ia tidak dapat memprediksi apa yang akan dilakukan suaminya. Saat ini kesadaran pria itu sudah di ambil alih minuman keras yang ditenggaknya.


"Demi Allah aku sama sekali tidak pernah menjebakmu. Aku disini juga sama sepertimu. Aku juga korban jebakan," Ucap Alea.


"Aku tidak tahu bagaimana meyakinkanmu untuk percaya kepada ku. Tapi aku benar-benar tidak tahu siapa yang sudah melakukan ini semua kepada kita. Ku mohon percayalah,"


"Kau pasti merasa senangkan bisa menjadi bagian dari keluarga Dinata yang terpandang?!" Ucap Ravka tidak memperdulikan apa yang Alea ungkapkan.

__ADS_1


"Kamu bisa menceraikanku untuk membuktikan kalau aku juga sama sepertimu. Sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini," Ungkap Alea sarat permohonan.


Rahang Ravka mengeras seketika dengan tangan yang terkepal erat. Pria itu mendekati Alea hingga menghimpitnya. Mendelik tajam menembus ke dalam retina gadis itu hingga menghadirkan remang ketakutan di sekujur tubuh Alea.


"Jangan harap aku akan menceraikanmu dengan mudah. Aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang teramat sangat karena menjeratku dalam pernikahan brengsek ini," Kemarahan berkelabat di sorot mata Ravka, menghujam tepat ke manik mata gadis berparas ayu yang meringkuk ketakutan di atas ranjang pengantinnya.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu meraih kebebasanmu sejak hari ini. Aku akan mengikatmu dalam ikatan ini seumur hidupmu hingga kau memohon-mohon padaku agar bersedia melepaskanmu," Ucap Ravka dengan penekanan di setiap katanya.


Pria itu kemudian meninggalkan Alea sendiri masih meringkuk di ujung dipannya. Menangis dalam diam, meratapi takdir yang menjeratnya.


Bruk!! Suara bantingan pintu membuat air mata di pipi Alea semakin menderas.


"Kalau memang kamu akan terus menjeratku dalam pernikahan ini, maka aku akan membuatmu mencintaiku sebagaimana rosulullah mencintai aisyah," Lirih Alea dalam tangisnya.


Gadis itu membulatkan tekad dalam dirinya. Kalau memang dia tidak bisa lepas dari jeratan takdir yang membelenggunya, maka ia akan menjalaninya dan membuatnya berjalan sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Dia hanya mempunyai dua pilihan, melepaskan pernikahan ini dan terbang bebas meraih mimpi-mimpi yang sudah lama ia bangun di dalam benaknya. Atau menjalani pernikahan ini sebagaimana mestinya dan mempertahankannya dengan segala daya upaya yang dimilikinya.


Ucapan Ravka membuat Alea terpaksa mengambil pilihan kedua dan bertekad untuk bisa membuktikan bahwa dia bukanlah wanita binal seperti yang dituduhkan oleh suaminya.


__ADS_2