
Bob menatapnya , Renata pun menatapnya , mereka bertatapan dengan begitu intim , masih terasa tertancap rasa itu .Renata menyuapi Bob dengan penuh kelembutan.
Bob memegang sendoknya , menyimpannya. memegang tangan Renata dengan tiba tiba . Renata menyadari hal itu terperanjat , dengan gugup ia pun berdiri .
"Jika sudah, aku, aku izin ke toilet dulu, permisi".
Renata melihat kran di wastafel . Diapun segera mengambil air, membasuh mukanya .
"Pria itu"menatap dirinya pada kaca.
Bob nampak sedang melihat kejendela ,Renata duduk disofanya.
"Haruskah aku mengabari Ibu?"
"Tidak perlu, ini tidak akan lama, setelah infusnya habis, aku akan segera pulang"
"Kamu akan pulang kemana?" tanya Renata.
Bob diam tak menjawabnya.
"Apakah aku harus memberitahu Bella?"
Bob melihat kearahnya, "Untuk apa?"
"Agar dia dapat merawatmu" dengan lirih Renata mengatakannya.
Bob memalingkan wajahnya, tak ingin menjawabnya.
Renata hendak berinisiatip menelponnya, Bob melihat bayangannya dari jendela ,
"Hentikan,jangan kabari siapun"
"Tapi"
"Untuk apa ada kamu"
"Apaa??aku?? maksudnya??" Renata bergumam dalam hati, ingin sekali menanyakan maksudnya.
Beberapa susterpun datang, mereka membantu Bob melepaskan suntik infusnya . Renata yang ditatap Bob , seolah mengerti, beranjak membantunya .Kemudian Renata memberikan pakaiannya. Bob akan berganti pakaian,
Al dan Renata menunggunya diluar.
"Renata akan mengurusku, selama aku belum sehat, dia akan tinggal bersamaku, tolong bantu juga dia" Bob bicara pada Al dimobil .
Lagi-lagi Renata dengar ,jika dia yang harus selalu mengurusnya.
"Tapi tuan, aku tidak bisa tinggal bersamamu"
Bob melihatnya, "Baik aku mengerti" , Renata tidak dapat mencari alasan.
Al dan Bob mengantar Renata ke kosannya untuk mengambil beberapa pakaian .
Masuk kedalam kamar hotel , kamar yang tidak biasa, sungguh nyaman juga besar . Renata berkeliling melihat isi kamar tersebut, memikirkan juga tempat untuk dia tidur.
__ADS_1
"Lagi-lagi sofa, baiklah aku akan tidur disini, wah sangat empuk nyaman sekali" Renata duduk mencoba sofanya , Bob duduk diranjangnya melihat Renata yang cengengesan senangnya. Al pun melihatnya.
"Bos" Al memanggilnya , meminta izin pamit kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan , Bob pun mengijinkannya pergi.
Bob terdiam, melihat Renata yang berjalan mondar mandir kesana kemari , juga berbenah.
"Aku akan memasak, aku akan membuat sup untukmu"
"Mengapa kamu nampak begitu senang?"
"Aku ?? tidak, aku hanya berusaha, melayanimu"
"Melayaniku??"
"Jika begitu, kemarilah layani aku"
Renata tercengang mendengarnya.
Bob berdiri dari ranjangnya, menghampirinya, Renata berjalan mundur perlahan menjauhinya ,
"Jika kamu berbuat senonoh, maka aku akan pergi" ancam Renata,
Bob menyeringai " Sehina itu kah? ,sekotor itukah aku dimatamu? ,dimatamu mungkin aku adalah pria yang brengsek, sebagai suami aku selalu diremehkan"
"Hentikan, aku akan pergi" Renata mencoba menghindar membawa tasnya untuk pergi .
Bob segera menangkap tangannya, "Aku sudah tidak tahan lagi" , tubuh Bob begitu lemas, hingga ia pun tak memiliki kekuatan lagi, menyandarkan dirinya pada Renata. Renata sungguh terkejut, jantungnya berdebar, tidak memahami Bob.
Renata segera memapahnya ke ranjang, Bob berbaring dibantu Renata,
"Sebentar saja, biarkan aku menggenggam tanganmu"
Bob memegang tangannya dengan erat. Renata pun membiarkannya . Bob tertidur disampingnya, karena lelah .Setelah Sekian lama Renata pun tertidur disampingnya, lama-lama bergeser tidur diranjangnya .
Tengah malam Bob sadar dari tidurnya, perutnya terasa lapar, dan kepalanya sedikit sakit. Ia pun menyadari jika Renata telah tidur disampingnya , Bob cukup senang, diam-diam memperhatikan tidurnya, memandanginya sampai puas , Bob perlahan mendekatinya , mengecup bibirnya. Teringat saat pertama kali Bob mengecupnya. Tak lama Renata pun terbangun, ia membuka kedua matanya, menyadari jika dia sudah tertidur diranjang bersama Bob .
"Maaf, aku tertidur"
"Buatkan aku makanan" Bob memintanya dengan parau. Renata menatap wajahnya, yang terlihat imut dan tetap tampan meskipun sedang sakit.
Renata sebelumnya pergi ke mini market terdekat, untuk membeli beberapa bahan makanan.
Renata pergi menghangatkan makanannya, lalu menyuapinya.
"Mengapa kamu ingin kembali ke hotel? mengapa tidak pulang kerumah?dan mengapa kamu memilih hotel, bukan apartemen ?"
"Banyak bertanya"
Renata diam mendengar jawabannya, merasa tersinggung diacuhkan.
"Kamu tidak suka aku bertanya atau bicara padamu?"
"Bawel" Bob menyela lagi omongannya.
__ADS_1
Renata sungguh tersinggung .
"Baik, jika begitu aku akan pergi, kamu urus saja dirimu sendiri"
"Renata" Bob meninggikan suaranya
Renatapun menoleh, "Selama ini aku terlalu baik memperlakukanmu" Bob menatapnya dengan tatapan tajam . Renata sedikit ketakutan dengan ancamannya.
"Kamu akan pergi??" tanya Bob, dengan tegas.
Renata melihat waktu menunjukkan tengah malam, jika pergipun mustahil dia mendapatkan taxi, Renata tidak ingin pulang dengan berjalan .
Renata berpura-pura mengalah. Meletakkan tasnya kembali , dan duduk disofa.
"Aku tidak akan berlama-lama membiarkanmu, lihat saja besok setelah aku pulih,aku akan ingatkan dimana posisi mu yang sebenarnya" Bob dalam hatinya.
Disuatu pagi, Renata mendapati Bob yang sudah duduk dengan laptop dipangkuannya, menghampirinya,
"Kamu sudah bangun?, ingin ku siapkan air untuk mandi?"
"Ya" jawab Bob, Bob terus menatapnya ,Renata berjalan untuk menyiapkan air,
Handphone Bob bergetar, tanda pesan masuk dari Bella, Bob hanya membacanya.
Bella sangat kesal, lagi-lagi Bob selalu mengacuhkannya, sikapnya yang tak terduga, selalu berubah-ubah padanya, Bella berfikir mengapa sikap Bob seperti itu padanya .
Bob berjalan menghampiri Renata dikamar mandi , Renata terkejut ,tiba -tiba Bob sudah dibelakangnya,
"Kamu"
Bob mendekat padanya, menahannya dengan kedua lengannya menempel pada dinding tembok .
"Airnya sudah siap,tolong biarkan aku pergi"
Bob menatapnya, nafasnya begitu terasa
"Aku menyukaimu"
Renata tercengang mendengarnya, menatapnya begitu intim, Renata mengepalkan tangannya.Bob terus menatapnya, melangkah mendekat. Renata memejamkan matanya, jantungnya berdebar "Kumohon" Renata memohon dalam hatinya, Bob melihat Renata memejamkan matanya , nampak meringis, juga ketakutan . Bob tak tega melihatnya , bob membelai wajahnya, Renata sontak kaget membuka matanya, Bob terlihat sudah didepan matanya,karena begitu dekat, refleks Renata tiba-tiba ingin menciumnya, melihat reaksi itu Bob pun mendekatkan dirinya, sepasang bibir itu bertemu, sungguh canggung, Renata segera menyadarinya, mencoba menghindar ,namun Bob tidak membiarkannya, Bob berinisiatip menciumnya dengan penuh kelembutan, Renatapun tak lama membalasnya, kakinya nampak berjinjit .
Setelah beberapa waktu, Bob melepaskan ciumannya, nampak nafas Renata terengah-engah, Renata menatapnya , lalu Renatapun beranjak meninggalkan Bob dalam kamar mandi sendiri.
Segera menyadari lagi apa yang telah terjadi tadi , Renata memegang dadanya yang berdebar. Bob menyadari cinta nya terbalas, tak ingin kehilangannya lagi, segera mengejar Renata.
"Renata" Bob memanggil .
Wajah Renata nampak merah, dia menutupi pipinya dengan telapak tangan .
"Ya" , jantungnya berdebar lagi .
Bob berjalan hendak mendekat,
"Tuan , aku ,aku akan segera ke kantor, Al tadi menelponku ada pekerjaan yang mendesak, aku... aku pergi dulu, permisi" Renata dengan cepat membawa tasnya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bob cepat menyusulnya , namun Renata pergi begitu cepat, hingga sudah tidak terlihat batang hidungnya . Bob cepat mengambil Handphone dikamarnya . Mencoba memanggil Renata , namun Tidak terjawab . Renata menyimpan nya dalam tas.