
dak apa-apa. Al bisa membawakannya sendiri," Ucap Alea sembari melemparkan senyuman ramah kepada Bi Mimah. Wanita paruh baya itu terpesona melihat senyum tulus yang tersungging di bibir mungil majikan barunya. Tidak seperti Sherly, tunangan Ravka sebelum ini ataupun gadis-gadis yang sering di bawa Alex ke rumah. Semuanya terlihat angkuh dan suka sekali memerintah.
"Kalau begitu apa yang bisa saya lakukan untuk Non Alea," Tanya Bi Mimah.
"Untuk sekarang tidak ada Bi. Tapi ke depannya mungkin Al akan banyak minta tolong sama Bibi," Jawab Alea lembut.
"Tentu saja Non. Non Alea tinggal katakan saja pada Bibi apa yang Non Alea butuhkan," Ucap Bi Mimah.
"Hey, mau naik apa enggak? Kalau masih mau lama-lama disitu, cari aja sendiri kamar saya," Hardik Ravka dari lantai atas.
"Iya, aku naik sekarang," Ucap Alea terbata. Gadis itu setengah berlari menaiki tangga mengejar suaminya.
Sementara Bi Mimah berjengit heran melihat sikap Ravka yang begitu kasar kepada istrinya. Padahal selama ini Ravka adalah pemuda yang baik dan santun kepada siapa saja. Bahkan kepada seluruh pekerja yang tinggal di rumah mewah keluarga Dinata.
Namun, Bi Mimah hanya mengunci rapat mulutnya tidak mau ikut campur atas apa yang terjadi pada keluarga majikannya. Sudah satu minggu belakangan rumah keluarga Dinata seperti sulit dihinggapi kedamaian. Hampir setiap hari mereka mendengar pertengkaran di dalamnya. Bahkan membuat sebagian besar anggota keluarga menjadi tidak betah berada di rumah.
__ADS_1
Mata Bi Mimah masih mengekori Alea yang terlihat kepayahan berlari menaiki tangga sembari menyeret koper yang cukup besar untuk ukuran tubuh Alea yang mungil. Suaminya bahkan sama sekali tidak berniat membantu Alea membawakan koper itu.
"Tunggu sebentar Mas," Suara lirih ketakutan keluar dari mulut mungil Alea.
Namun Ravka tidak memperdulikannya, Ia meninggalkan Alea yang bersusah payah menyusulnya.
Mata Alea terus melihat punggung pemuda itu kemana arah perginya. Alea tidak mau sampai tersesat di rumah seluas ini. Begitu banyak pintu di lantai dua yang akan membuatnya kerepotan mencari letak kamar Ravka kalau sampai ia kehilangan jejak suaminya.
Bruk!! Suara keras bantingan pintu membuat Alea mematung di tempatnya. Terkejut dengan bantingan pintu di ujung lorong.
"Mas? saya boleh masuk?" Tanya Alea di depan pintu kamar Ravka seusai ia mengetuk pintu kamar itu hingga beberapa kali. Namun, tak secuilpun suara ia dengar menjawab dari dalam sana.
"Duh, ini aku mesti gimana dong? Masuk apa nunggu disini aja yah?" Gumam Alea yang tampak gusar di depan kamar. Tangannya menggantung di handle pintu.
Gadis itu juga lelah dan ingin segera merebahkan diri di atas kasur. Tak hanya lelah fisik saja yang mendera. Hati dan perasaannya bahkan lebih membutuhkan istirahat yang panjang. Namun, rasa takut kepada Ravka menyurutkan niatnya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Alea merebahkan tubuhnya di lantai. Menyandarkan tubuh pada daun pintu dengan lutut yang ditekuk. Wajahnya menelungkup bersembunyi di balik lutut.
Entah untuk berapa lama Alea berdiam diri dengan posisi seperti itu hingga ia menyerah pada lelah dan terpejam sejenak.
"Awww...." Jerit Alea saat tiba-tiba pintu yang disandarnya terbuka. Gadis itu terjerembab ke belakang dengan kepala membentur lantai.
Namun, Ravka yang membuka pintu hanya membuang muka tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Alea. Dilangkahinya tubuh Alea yang tergeletak jatuh di lantai begitu saja. Ia kemudian berlalu pergi entah kemana tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.
"Sakit banget kepala ku," Ucap Alea sembari menggosok kepalanya yang terbentur lantai.
Ia sempat melirik Ravka yang sudah berganti pakaian. Bahkan pemuda itu sepertinya sudah menyegarkan tubuhnya dengan berlama-lama mengguyur tubuhnya dengan air di dalam kamar mandi. Rambut hitamnya terlihat mengkilat terbias cahaya lampu karena masih basah.
"Mas tunggu," Ucap Alea masih dengan posisi duduk di lantai saat melihat Ravka pergi begitu saja. Namun laki-laki itu tidak menggubris Alea dan terus berjalan meninggalkan gadis itu terbengong di tempatnya.
"Yasudahlah. Aku akan meletakkan koperku terlebih dulu ke dalam kamar," Gumam Alea. Gadis itu menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Menyiapkan mental mengahadapi jalan panjang yang penuh liku membentang untuk ia takluki.
__ADS_1