Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 138. Perubahan


__ADS_3

“Ari!”


Ari yang baru saja turun dari motor, segera menengok ke arah sumber suara. Dia menatap seorang wanita yang berjalan ke arahnya. Matanya tak berkedip karena merasa kagum dengan keanggunan wanita itu.


Wanita itu mengenakan dress biru langit di bawah lutut dan dilapisi rompi senada berlengan panjang. Dandanan yang sederhana tak seperti biasanya membuat wajah manis aslinya terlihat. Walaupun bertubuh tambun, Denok memiliki pipi lumayan tirus.


“Ini, aku bawakan bekal makan siang untukmu.” Denok menyerahkan sebuah bingkisan kepada Ari. Pria itu pun menerima bingkisan darinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Buatku?” Anton menunjuk pada dirinya sendiri.


“Itu ada dua. Yang satu buat kamu.” Denok tersenyum manis ke arah Anton.


“Aku duluan, ya?” pamit Denok meninggalkan mereka.


Ari masih saja diam membisu. Pria itu terus saja menatap kepergian Denok, hingga sang gadis menghilang di balik sebuah bangunan.


“Hei! Wah, tanda-tanda, nih,” goda Anton seraya tersenyum nakal ke arah Ari.


“Tanda-tanda apa?” tanya Ari pura-pura tidak mengerti.


“Ya udah, kalau kamu tidak mau, buat aku saja,” celetuk Anton.


“Ish, apaan sih, kamu.” Ari meninggalkan Anton. Dia tidak ingin digoda sahabatnya tersebut. Namun, entah kenapa setelah melihat Denok mengubah penampilan, dirinya merasa kagum kepada wanita itu.


Anton berlari mengikuti Ari seraya tersenyum kecil. Dia tahu bahwa sahabatnya itu mulai tertarik dengan Denok. Pria itu lega karena sang sahabat mulai bisa melupakan Aisyah.


...****************...

__ADS_1


Jam istirahat, Denok saat ini sedang berjalan menuju sebuah taman. Dengan wajah berseri, dirinya ingin segera menemui Aisyah. Dia merasa saran Aisyah sangat bagus. Untuk itu, dirinya ingin mengucapkan terima kasih.


“Hai, Aisyah,” sapa Denok lembut.


“Hai, Denok. Tumben sendirian. Mana temanmu?” tanya Denok.


Denok duduk di samping Aisyah seraya menjawab, “Dia lagi di kantin. Dia tidak mau aku ajak ke sini.”


“Oh.” Aisyah menjeda perkataannya. Gadis itu memperhatikan wanita di sebelahnya. “Kamu cantik banget hari ini,” puji Aisyah.


“Ini, ‘kan, semua atas saranmu.” Denok tersenyum lebar kepada Aisyah.


“Lalu, apa kamu sudah menemui Ari?” Aisyah memasang wajah serius.


“Sudah,” jawab Denok singkat.


“Hi-hi-hi. Dia bengong saat melihatku pertama kali. Ini baru pertama kali dia melihatku seperti itu. Rasanya, seneng banget.” Denok membayangkan wajah Ari saat itu.


“Benarkah?” Aisyah ikut bahagia karena saran yang dia berikan sepertinya berhasil.


Denok menganggukkan kepala beberapa kali. “Terima kasih, Aisyah. Mulai sekarang aku tidak akan mengejarnya lagi. Aku akan berusaha menjadi temannya saja.”


“Nah, itu bagus. Lagi pula, kita sebagai wanita tak sepatutnya mengejar laki-laki.”


“Hu um.” Denok sekarang mengerti apa yang dikatakan Aisyah.


Di kantin, Ari sedang menikmati makan siang pemberian Denok. Namun, pria itu merasa ada sesuatu yang salah. Pasalnya, wanita yang mengejarnya tidak datang, seperti hari-hari sebelumnya, di mana Denok selalu menemuinya di jam istirahat. Jadi, dia merasa aneh.

__ADS_1


Ari celingukan seperti mencari sesuatu. Hal itu membuat Anton penasaran.


“Apaan, sih, Ri? Dari tadi celingak-celinguk. Kamu cari siapa?” tanya Anton penasaran.


“Ah, tidak. Aku tidak cari siapa-siapa.” Ari kembali fokus pada makannya.


Anton menyadari apa yang sedang dicari Ari. Lagi-lagi dia tersenyum sendiri.


“Sudahlah. Jangan bohongi perasaanmu,” ucap Anton. Dengan santainya dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


“Perasaan apa?” tanya Ari seolah-olah tak mengerti.


“Kamu cari Denok, ‘kan? Kamu suka sama dia?” tanya Anton balik, langsung pada intinya.


“Ma-mana ada.” Ari gelagapan akan pertanyaan Anton. Jantungnya pun seketika berdetak kencang ketika sahabatnya tentang perasaan.


“Sudahlah. Jangan kamu tutup-tutupi lagi. Kelihatan, kok.” Anton melirik ke arah Ari.


“Sudah! Jangan bahas itu lagi, lebih baik kita makan.” Ari dengan kesal memasukkan sesendok nasi ke dalam mulut.


Apakah benar aku suka sama Denok? Tidak mungkin, ah. Tapi, dia bukan tipeku.


Apa tadi kelihatan banget, ya, kalau aku mencarinya? Dasar aku bodoh, untuk apa juga aku mencarinya, batin Ari di sela makannya.


Ari sungguh tak mengerti akan perasaannya. Dengan kejadian ini, apakah membuktikan dirinya menyukai Denok? Namun, disisi lain dia masih menyimpan sedikit cinta untuk Aisyah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2