Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bersama dengannya


__ADS_3

"Aku rasa selama ini kamu acuh padaku"


"Maaf"


"Aku merindukanmu" Bella bersandar manja.


"Aku akan bekerja, jika kamu disini aku tidak bisa kerja"


"Kenapa, aku hanya akan melihatmu disini "


Bob menatapnya, tak mampu mengusirnya.


Bella terus tersenyum memandanginya, Bob yang tahu itu , merasa tidak nyaman.


"Kamu tidak bekerja??"


"Tidak, hari ini aku sengaja meluangkan waktu untukmu, Aku" Bella menghampiri dan memeluk Bob, kemudian mencium pipinya.


"Apa yang kamu lakukan"


"Hmm ... kenapa?"


"Ini kantor"


"Aku tahu"


"Jika begitu jaga sikapmu"


Bella cemberut manja.


"Eh , wanita itu tidak ada, kamu memecatnya?" Bob melihat arah tatapan Bella.


"Syukurlah kamu telah memecatnya, wanita penggoda " mengejeknya.


"Pergilah jangan ganggu lagi"


"Kenapa kamu membentakku " merasa kesal


"Jangan mengoceh lagi, pergilah"


"Kamu" mata Bella berkaca-kaca, saat Bella berbalik mengambil tasnya hendak pergi ,


"Aku bukan lah pria romantis yang dapat memanjakanmu, jika kamu menginginkan pria penurut, kamu salah memilihku"


"Kamu" Bella pun berbalik menatapnya kembali.


"Carilah pria lain, aku tidak bisa melanjutkan nya lagi"


"Bob"


Sementara Bella bersama Bob . Renata hendak pergi berkunjung kerumah Ibu.


Ketika Renata melangkah keluar rumah, tiba-tiba merasa sakit dikepala.


"Ah.. kenapa sakit sekali" wajahnya berubah pucat . Renata pun kembali masuk, mengambil obat dan meminumnya. Melihat rumah yang begitu besar, kini hanya dia tinggal seorang diri .


"Bella , tidak bisakah kamu tidak mengikutiku?"


"Aku tidak akan pergi satu langkahpun dari dekatmu"


"Tidakkah kamu memahami perkataanku tadi?"


"Blalallalla, aku tidak dengar"


"Hentikan" ,


Bella terus mengoceh "Blablablablabla"


"Hentikan" ,Bob sangat kesal , Bella pun ikut naik mobilnya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Apa" Bella terus berpura-pura. Al menatapnya dari kaca spion depan.


"Mau kemana bos?"


"Rumah Bella"


"Tidak" Bella semakin erat menggandeng lengannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang"


"Lepaskan, kenapa kamu begitu kekanak kanakkan?"


"Aku mencintaimu, aku menyukaimu, bukan kekanak kanakkan" Bicara dengan tegas.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan"


Bob memberi isyarat pada Al.


Bob membawanya ke hotel, Bella hanya terlihat senyum.


"Kamu tidak ingin bertanya?"


"Tidak" Bella menggelengken kepalanya, terlihat cukup senang.


Setelah mereka berjalan memasuki kamar ,


Tak , suara pintu tertutup. Bob memikirkan sesuatu, berjalan mendekati Bella, Bella diam menatapnya,


"Aku pikir kamu tidak hanya cantik ,kamu juga pintar, namun tidak diduga kamu juga gampangan, begitu mudah dibawa pria masuk kamar"


"Apa maksudmu?" kesal merasa diejek.


Bob menyerengeh. Meninggalkan Bella seorang dikamar itu.


"Bob" Bella berteriak memanggilnya . Bob berjalan tanpa memperdulikannya .


Setiba dirumah, Bob mendapati seluruh rumah gelap, "Kemana dia?" berjalan mencari Nata, membuka pintu kamarnya .


Nampak Renata sedang tidur, Bob berganti pakaian tanpa mengetahui keadaan Nata.


Ketika hendak berbaring disampingnya, terasa tubuh Nata demam .Bob Segera memastikannya,


"Kamu demam, wajahmu pucat, sejak kapan kamu begini?"


Renata tidak berkata-kata ,merasakan tubuh yang sakit.


"Aku akan membawamu ke dokter"


"Dokter apakah serius?"


"Tidak, dia hanya demam" jawab Dokter, Bob melihat kearahnya.


Bob menatapnya, "Apa yang terjadi?"


"Tidak ada, tadi aku hanya merasa sakit kepala"


Bob memeluknya, "Aku akan menjagamu besok"


"Tapi"


"Tidak apa, sudahlah ,mari kita pulang"


"Kini Bob bersikap sangat lembut, apakah dia sedang berpura-pura menjadi suami yang baik didepanku" dalam hati Nata.


"Aduh" merasakan lagi sakit kepala.


"Ayo kita cari makanan, kamu harus makan"


Renata menggangguk, menurut.


"Apakah ini cocok denganmu"


Bob bicara mengenai makanan.


"Ya"


"Aku akan menyuapimu"


"Tidak , aku bisa sendiri" ,Renata meminum supnya,


"Hati-hati itu panas"


Huh , merasa kepanasan.


"Biar aku saja" Bob mengambilnya,


A , meminta Nata membuka mulutnya. Sendok demi sendok ,ia berikan. Bob mendinginkan supnya terlebih dahulu dengan meniupinya.

__ADS_1


Mereka pun terus bertatapan, Deg jantung keduanya berdetak kencang, Bob terus memperhatikan bibir Nata saat menyuapinya,


"Perasaan apa ini?" dalam hatinya , setiap kali melihat bibinya, Bob tak kuasa melihatnya, sungguh menggodanya.


"Aku sudah kenyang"


"Kenyang?"


Nata menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kini saat nya kamu istirahat"


Bob membuang sisa makanannya, dan membersihkannya.


Saat kembali ke kamar Nata sudah tertidur.


Renata pagi ini bangun lebih awal, melihat Bob yang sudah tidur disampingnya. Renata menatapnya. Bob membuka matanya, Renata cukup terkejut melihatnya, tak menghindarinya. Bob mendekat memeluknya, dan mencium keningnya.


"Kamu tidak pergi kerja?" tanya nya.


"Tidak, aku sudah janji akan menjagamu" Bob memeluknya dengan penuh kelembutan .


Jantung Renata berdebar, "Perasaan ini mengapa begitu nyaman" dalam hatinya.


"Dengan dia pura-pura amnesia menjadi lebih baik" Bob tiba-tiba ingin menciumnya. Ada rasa was-was, apakah Nata akan menolaknya atau tidak . Bob pun memberanikan diri menciumnya. Ketika hendak mencium bibirnya, Nata melepaskan lengannya . Bergeser menjauh . Seolah jika itu tidaklah pantas. Bob merajuk "Mengapa kamu berbalik menghindariku" .


"Aku lapar"


Bob tercengang, tidak disangka itu jawaban yang ia dapat . Bob pun tersenyum, "Baik aku akan memasak untukmu"


"Kamu bisa memasak?"


"Tentu saja" tersenyum .


Renata mengikutinya, duduk melihatnya yang sedang memasak .


Tersenyum senang , "Kamu seperti koki" . Bobpun tersenyum senang melihat kearahnya.


"Aku tidak pernah merasakan ini saat bersama dengannya, dia tidak buruk juga sebagai pria" Lanjut Nata dalam hati.


Bob menyiapkan makanan yang telah matang diatas meja, menyajikannya .


Renata terperangah sangat senang melihatnya .


"Apa ini enak?" tanya nya.


"Cicipi saja" Bob tersenyum padanya .


"Eumm ... ini enak"


"Sepertinya ini pujian" kata Bob.


"Jangan lupa minum obatnya"


Renata mengangguk .


Renata duduk menonton tv. Bob duduk menghampirinya, meminta Nata bersandar dibahunya . Nata menatapnya begitu canggung ,namun menurutinya .


Ini adalah pertama kalinya mereka duduk bersama menonton tv.


"Aku merasa sangat senang cuti bekerja" celoteh Bob.


Renata menatapnya , namun tatapan Bob melihat pada bibirnya, lagi-lagi ada keinginan menciumnya . Namun Nata segera berpaling saat dirinya hendak mendekat.


Bob berdehem karena malu. Renata tersenyum melihat acara tv.


"Apakah kamu sudah mengingatku?"


Renata terdiam mendengarnya.


"Aku rasa kamu sudah mengingatku"


Bob mendekapnya lebih dekat, mata keduanya bertatapan .


"Tidak perlu amnesia untuk menghindariku" Bob bicara dalam hati mengingat kejadian terakhir sebelum kecelakaan.


"Aku ingin tidur" Renata menghindarinya , pergi menuju kamar.


Bersandar dibelakang pintu, "Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?, aku harus bisa keluar dari situasi ini" Renata memikirkan semua kesalahannya. Tak disangka hendak menghindarinya, malah diakuinya sebagai istri.

__ADS_1


Bob yang sendiri di ruang tv "Sebenarnya kita belum bercerai, maaf kan aku telah membohongimu, aku terpaksa mengikuti egomu" Bob menyesalinya .


Malam itu mereka masih tidur dikamar yang sama.


__ADS_2