Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Menyelinap di kapal


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Nata,


Alex termenung duduk dikursi , ada yang ia khawatirkan .


"Untuk jaga-jaga"


Renata menoleh ke kiri dan kekanan .


"Anak buahmu banyak" ucap Renata, Alex tampak memejamkan matanya .


"Tidurlah, kembali ke kamar"


Renata masih diam menatapnya.


"Pagi-pagi kita harus segera pergi" lanjut Alex.


"Pergi??? pergi kemana lagi?"


Alex tidak menjawab .


"Alex, sejauh mana kita pergi? lebih baik kita kembali saja" , Renata menghampirinya , dan memohon.


"Tidak, kita tidak akan kembali" Alex membuka matanya .


"Tapi kumohon , aku tidak ingin pergi jauh"


"Keluarga mu semua disini, siapa yang kamu rindukan disana?"


Renata terdiam, matanya berkaca-kaca, tertunduk dan pasrah . Ia pun berjalan kembali ke kamar.


Ibu terbangun , " Sayang ada apa?" .


Renata memeluknya , ia menangis . Ibu mengelusnya.


********


"Maaf tuan, malam-malam begini anda mencari orang?!" ucap kepala desa


"Ehem"Pak kepala Desa nampak berpikir .


Al memberikan sejumlah uang ,


"Aku ingin mendapatkannya sekarang juga"


"Baiklah, akan kuusahakan" ucap kepala desa, setelah melihat uang.


Al bersama kepala desa menemui beberapa orang, dan meminta mencarinya malam ini segera .


Seseorang mendengarnya , ia tampak ketakutan .


Ia segera melaporkan pada Boy .


Boy pun segera menemui Alex.


"Bos , mereka sedang menyisir ke setiap rumah"


Alex menyerengeh, "Desa yang sebesar ini, sampai kapan dia dapat memeriksa semuanya"


"Sebentar lagi , dini hari kita akan berangkat" ucap Alex.


*******


Tampak riuh orang berdesakan hilir mudik, Alex berjalan bersama Renata, Ibu dan Daniel bersama orang-orangnya Alex, Boy bersama Raka .


Mereka berjalan diantara orang berdesakan, mereka semua bertudung.


Perasaan Renata masih berat untuk pergi dia ingin sekali bertemu Bob,


Beberapa orang suruhan Bob ikut mencari di pelabuhan dan sudah memeriksa semua kapal . Mereka juga nampak mencari dipasar.


Jantung Boy deg-deg an . Ia sangat khawatir akan tertangkap.


Alex bersikap tenang , Renata menatapnya sembari berjalan, tangan tergandeng Alex.


"Mengapa sekeras ini dia ingin melindungiku"


"Apakah benar dia tulus?" gumam Nata dalam hati.


Renata seketika menghentikan langkahnya, dan melepas tangannya.


Alex menyadari itu , melihat padanya .

__ADS_1


"Nata"


"Tidak, aku tidak akan ikut"


Ibu yang sudah naik , melihatnya .


Renata menggeleng-gelengkan kepalanya , perlahan mundur, dan mencari Bob diantara keramaian , dan akan membuka tudungnya.


Hap , Alex segera menangkapnya , menariknya dengan paksa naik ke kapal .


"Nata , anakku" Ibu teriak melihatnya , ia segera dibawa masuk oleh pengawalnya.


"Alex , lepaskan" Renata mencoba berontak .


"Hentikan, tidak ada tempat lain untukmu kembali" Alex nampak marah.


"Kumohon lepaskan aku" Renata memohon ,terisak menangis .


"Kamu sudah janji" Alex mencoba mengingatkannya.


Renata menangis.


"Tidak bisakah kamu lupakan saja ? kumohon lepaskan aku"


"Meskipun ada yang akan membunuhmu?"


Renata masih terisak , Alex berdiri dihadapannya sangat kesal .


"Aku tahu siapa penjahatnya"


Alex melihat kearahnya ,


"Dila, dia yang selama ini ingin membunuhku" Renata bicara dengan keras.


"Aku akan laporkan dia"


Alex menyerengeh , "Kamu pikir mudah dengan begitu saja"


"Polisi pasti sedang menginterogasi penjahatnya , dan Dila pasti sudah tertangkap" Nata merasa yakin .


"Diamlah, lebih baik kamu istirahat" Alex pergi meninggalkannya , ia hanya ditemani dua orang bawahannya.


"Mungkin dia berhasil lolos" memberikan ipadnya kembali .


********


Malam itu, sipenjahat begitu pintar, saat tangannya terborgol dan petugas polisi lengah , ia mengecohkan supir dengan mencekiknya , hingga mobilpun tidak stabil . Ia pun tak berhenti berontak . Hingga mobil menabrak tiang lampu jalanan kota , dan ia segera loncat keluar dari mobil tersebut . Semua petugas kepolisian semua cedera dan terperangkap didalam mobil , yang tertimpa tiang lampu.


Polisi belum mendapat keterangan apapun mengenainya, karena ia sudah melarikan diri .


Dila ia ditemukan orang setempat, dan ketika ia sadar dia sudah ada di Rumah sakit.


"Nona" perawat itu ada dihadapannya, ia memanggil Dokter .


"Dimana ini?" tanya Dila .


"Anda berada di Rumah Sakit kami"


Dila menghela nafas begitu dalam .


"Lepaskan infusnya , aku ingin pulang"


"Tunggu sampai cairannya habis , anda boleh pulang" ucap perawat.


"Apa disini ada kaca?" Dila meraba wajahnya yang sudah tertutup perban.


Perawat memberinya , Dila nampak marah menatapnya .


"Luka anda tidak begitu serius , anda jangan khawatir" , Dila melototinya . Perawat itu menjadi segan , lalu ia pun pergi meninggalkan Dila diruangannya.


"Sial , Alex awas saja aku akan membalasmu"


******


"Bos" Al yang habis berlarian menghampirinya .


"Disini begitu ramai" ucapnya.


Bob sangat kesal , "Ayo kita cari lagi"


Alex berlayar menyelinap diantara kapal yang membawa barang . Sebelumnya kapal itu sudah lolos pemeriksaan , dan hanya membawa barang dan ikan.

__ADS_1


Renata masih termenung dan terisak sendirian.


"Papa, mana Mama?" Raka bertanya pada Alex .


Ibunya Nata terkejut, mendengar Raka menanyakannya .


"Ada , Raka mau bertemu Mama?"


"Iya" Raka mengangguk .


Alex meminta bawahannya membawa Nata .


"Mama" Raka memeluknya.


"Sayang" Nata mengelusnya , melihat mata dan rambut yang dimiliki Raka begitu mirip Bob, terasa hati nya teriris mengingatnya .


"Tersenyumlah" Alex berbisik padanya .


"Ma kita akan kemana?" tanya Raka


Renata menggelengkan kepala , Raka tampak bingung .


"Ayo kita duduk dekat Nenek" Renata berjalan menghampiri Ibu, dan duduk disampingnya . Ibu menangis sedih memeluknya .


Alex tidak dapat menyembunyikan kekesalannya , ia pun pergi ketempat lain, memandangi laut .


Ia tak tega melihat Renata menderita , selebihnya ia tak menerima jika Bob masih pria yang dicintainya .


"Tuan , dari kemarin Ketua ada menelpon" Boy menemuinya .


"Sepertinya dia sedang marah besar"


Alex mengacuhkannya.


Boy ia berpikir " Mengapa Alex begitu repot mengurusi Nata , cinta memang gila" gumamnya dalam hati .


*******


Kepala desa melaporkan jika ada satu rumah yang dicurigai, Bob segera berlari kerumah tersebut .


Rumah sudah tampak kosong dan rapi, perapian dirumah itu masih terasa hangat. Ia melihat bantal ditempat tidur, rambut yang begitu panjang.


"Pria ini, pria ini yang tahu siapa mereka" ,kepala desa menunjuk pada pria yang melapor semalam pada Boy dan Alex.


Pria itu ketakutan , tampak canggung . Bob melangkah mendekatinya .


"Kemana mereka sekarang?"


"Aku ... aku tidak tahu" pria itu tertunduk , tak bernyali menatapnya .


"Kamu pasti tahu kemana tujuan mereka"


"Aku .. aku sungguh tidak tahu" tampak gagap


Kini Bob bertanya lagi ,


"Jika kamu tidak mengatakannya ,akan kupastikan kamu membusuk dipenjara"


"Tuan, anda siapa!? berani sekali mengancam saya" pria itu melawan dengan rasa takut.


"Aku memiliki banyak cara untuk melakukannya" Bob bicara dengan lirih dihadapannya, mengancam dirinya .


Beberapa orang menangkap pria itu. Dan pria itu memberontak.


"Lepaskan , tuan lepaskan" teriaknya .


"Lepaskan" perintah Bob.


Bob menghampirinya lagi, "Katakan!"


"Dia... dia sudah pergi tadi pagi-pagi sekali , dini hari ,mereka sudah pergi naik kapal barang" .


Bob terperangah mendengarnya .


"Sial, cepat cari tahu kemana tujuan kapal itu" Bob segera bertindak . Mereka semua dengan cepat bergerak .


Kepala desa menyeringai sinis pada pria itu , dan membawanya .


Bob segera naik helikopternya, mengejar kapal itu .


Kapal berlayar sudah begitu jauh . Renata dan Ibu masih merasa takut, Daniel berusaha bersikap tenang, ia terus memandangi Alex ,kakak dari kekasihnya Dita, ia tidak menyangka jika Alex akan berbuat sejauh ini pada Kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2