Terpaksa Nikah

Terpaksa Nikah
Bab 113. Lagi


__ADS_3

Riski sungguh tidak menyangka dengan jawaban Aisyah saat itu. Pria itu merasa yakin bahwa Aisyah akan mau menerimanya kembali. Dia rasa bahwa Aisyah masih punya rasa kepadanya.


Riski masih akan tetap berjuang untuk mendapatkan hati Aisyah. Untuk sementara waktu dia kembali ke kota S untuk menyelesaikan masalah di sana.


"Mana Aisyah?" tanya Doni setelah melihat Riski menutup pintu sendirian.


Riski membalikkan badannya, lalu menatap kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang tamu. Riski berjalan mendekat, kemudian duduk di samping Laela. Pria itu menggeleng pelan sambil menundukan kepalanya.


"Aku belum bisa membawanya kembali. Aku akan selesaikan urusanku di sini dulu. Setelah itu aku akan kembali ke sana untuk memastikan Aisyah kembali bersamaku," jelas Riski merasa yakin.


Laela menggelengkan kepalanya. Selalu nama Aisyah terus yang disebut oleh kedua pria yang barada dihadapannya. Dia tak habis pikir, kenapa Riski begitu ingin kembali pada Aisyah.


"Sudahlah, kenapa juga kamu masih mau mengharap Aisyah? Wanita di luar sana, 'kan masih banyak. Kamu tinggal pilih saja. Mungkin kamu mau bunda kenalkan dengan anak teman bunda?" usul Laela.


"Aisyah itu beda dari wanita lain, Bunda. Tidak ada wanita lain yang sepertinya di luar sana," ujar Riski.


"Tentu saja beda. Anak teman bunda itu kan anak orang kaya. Tidak seperti Aisyah. Bahkan mereka lebih cantik dari pada Aisyah," ucap Laela.


"Tidak seperti itu juga, Bunda. Aisyah itu wanita yang bisa mengerti aku. Dia begitu sabar menghadapiku. Apa anak teman bunda juga seperti itu?" Riski menikkan kedua alisnya.


"Kalau kamu belum coba, mana tahu," timpal Laela.


Doni tak tahu dengan pemikiran Laela. Kenapa wanita itu begitu benci pada Aisyah? Padahal Aisyah orang yang begitu baik menurut Doni.


"Sudahlah, Bunda. Biarkan Riski memilih yang dia mau. Dia sudah besar, seharusnya dia bisa belajar dari pengalaman kemarin," kata Doni.


"Aku lelah! Aku mau istirahat dulu." Riski beranjak dari duduknya.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Laela.


"Nanti kalau lapar, aku pasti akan turun untuk makan," jawab Riski seraya meningglkan tempat itu.

__ADS_1


Laela juga meningglakan ruang tamu, beberapa saat setelah Riski pergi. Tinggal Doni sendiri di sana dengan lamunannya. Doni berharap, Aisyah bisa segera di bawa pulang oleh Riski.


...****************...


Beberapa hari setelah itu, Ari merasakan ada sesuatu pada Aisyah. Pasalnya, gadis itu tak seceria sebelumnya. Sehingga membuat Ari mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaannya.


Ari tidak ingin mengungkapkan perasaannya di saat yang tidak tepat. Dia takutnya Aisyah akan menolak cintanya seperti dulu. Pria itu akan mencari waktu yang tepat.


Namun sebelumnya, dia ingin mengetahui masalah yang menimpa Aisyah selama ini. Mungkin dia bisa membantu sedikit masalah itu. Akan tetapi, sampai sekarang Aisyah belum mau bercerita padanya tentang masalah yang dihadapi.


Aisyah masih di taman tidak, ya? Semoga dia masih di sana. Semua gara-gara Riyan sehingga membuatku terlambat untuk menemui Aisyah, batin Ari.


Ari bergegas menuju taman. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Aisyah. Setelah sampai di sana, Ari bersyukur karena Aisyah masih di sana.


"Aisyah, kenapa kamu masih saja melamun?" Ari duduk di sebelah Aisyah.


"Eh! Ari!" Aisyah tersadar dari lamunannya. "Ada apa?" lanjutnya.


"Tidak! Aku tidak melamun," jawab Aisyah seraya tersenyum manis.


"Kamu tidak bisa membohongiku. Aku melihat kamu sedang melamun tadi dari kejauhan. Kenapa?" ucap Ari.


"Sudah ku bilang aku tidak melamun, kok," sangkal Aisyah.


"Ayo, lebih baik kamu ceritakan saja masalahmu. Aku pasti akan membantumu." Berulang kali Ari mengatakan hal itu. Dia berharap kali ini Aisyah mau bercerita.


"Ih, kenapa sekarang kamu jadi pemaksa begitu sih?" gerutu Aisyah.


"Aku ini sahabatmu, aku akan sedih bila melihatmu sedih." Ari menatap sendu ke arah Aisyah.


Aisyah memberikan senyum terbaiknya ke pada Ari. Dia tidak ingin Ari beranggapan bahwa dirinya sedang sedih. Aisyah hanya ingin keceriaan di antara mereka.

__ADS_1


Namun, Aisyah tidak bisa menutupi kesedihannya dari Ari. Pria itu masih bisa melihat kesedihan itu di wajah Aisyah. Dia akan selalu berusaha agar Aisyah mau bercerita, walaupun lagi-lagi Aisyah menolaknya.


"Baiklah kalau begitu. Em ... bolehkah aku melanjutkan pembicaraan kita waktu di Unit Kesehatan?" tanya Ari sedikit ragu.


"Oh! Yang waktu itu. Boleh. Kamu mau ngomong apa sih sebenarnya? Bikin aku penasaran," tanya Aisyah dengan wajah riang. Dia melupakan masalanhnya walau sebentar.


"Hm ... Aisyah." Ari menjeda ucapannya.


Aisyah memperhatikan Ari dengan seksama. Hingga matanya tertuju pada pergerakan bibir pria itu.


"Kamu tahu, 'kan, sejak dulu kalau aku suka sama kamu."


Aisyah terkejut mendengarkan penuturan Ari. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan pria itu. Sekarang dia semakin bingung.


"Jadi, karena sekarang aku tahu bahwa kamu telah sendiri. Aku mau kamu mau menjadi pacarku. Kamu mau, 'kan? tanya Ari dengan tatapan serius ke arah Aisyah.


Aisyah tak bisa membuka mulutnya. Kata-kata gadis itu seakan tercekat di tenggorokan, lalu membuatnya kering. Dia harus menelan ludah untuk membasahi tenggorokan.


Ari menatap Aisyah yang masih diam. Dia masih berharap agar Aisyah mau menerimanya, walaupun kini gadis itu diam.


"Bagaimana?" tanya Ari karena Aisyah tak kunjung memberi jawaban.


"Eh! Maaf, aku belum bisa memberi jawabannya." Aisyah menundukan kepalanya.


"Tak apa. Aku masih bisa menunggu hingga kamu mendapat jawabannya. Aku harap, kamu tidak akan mengecewakanku," ujar Ari menatap ke depan.


Ari, kenapa kamu membuatku semakin bingung. Untuk yang kedua kalinya kamu menyatakan cinta padaku. Aku harus berbuat apa? batin Aisyah yang menatap Ari.


Mereka masih di sana beberapa saat, hingga Ari mengajak Aisyah kembali ke kelas untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Mereka masih dalam suasana hening saat berjalan bersama. Tak ada obrolan seperti dahulu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2