
"Eh, malah pake tangan. Sapu tanganku tidak berguna, dong."
"Ngapain kamu ke sini? Udah, jangan ganggu aku lagi!" bentak Aisyah tidak suka akan kedatangan David.
Bukannya pergi, David malah duduk di samping Aisyah. Aisyah pun seketika menggeser duduknya. Dia tidak ingin berdekat-dekatan dengan pria itu.
Mereka duduk dalam diam. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Mereka berada dalam pikirannya masing-masing.
Masih terdengar lirih isakan Aisyah. David pun menoleh ke arah gadis itu. Air mata nampak masih mengalir di pipi gadis di sebelahnya.
"Maaf." Satu kata terucap dari bibir David yang memecah keheningan.
Aisyah menghentikan isakannya setelah mendengar kata itu, lalu menghapus air mata dengan tangan. Dirinya tidak menyangka jika David akan mengucapkan kata maaf kepadanya. Dia tahu persis bagaimana pria itu yang tak mungkin mengatakan kata maaf kepada orang lain.
Namun, Aisyah tak menghiraukan permintaan maaf itu. Dirinya hendak berdiri meninggalkan tempat itu. Dia tak ingin berlama-lama dengan David.
"Tunggu, Aisyah!" David memegang tangan Aisyah, membuat gadis itu menghentikan pergerakannya.
"Ini adalah pertama kali dalam seumur hidupku, aku minta maaf. Jadi, kamu harus memaafkanku!" pinta David memaksa.
Aisyah tersentak mendengar ucapan David. "Ih, apaan? Kok, maksa, sih," gerutu Aisyah.
"Karena aku tidak menerima penolakan!"
"Dasar menyebalkan!" gerutu Aisyah hendak melangkah pergi lagi.
Namun, David menarik tangan Aisyah, membuat gadis itu hilang keseimbangan, lalu jatuh di pangkuannya. Dia segera melingkarkan tangan ke perut sang gadis.
Aisyah memberontak, mencoba untuk melepaskan diri.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" bentak Aisyah.
David semakin mempererat pelukannya, membuat Aisyah semakin terkunci.
"Kalau kamu tidak mau melepaskanku, aku akan teriak!" ancamnya.
"Coba saja teriak!" tantang David. "Pasti juga tidak ada yang akan menyelamatkanmu."
Aisyah seketika tenang. Dia menyadari bahwa dirinya tak akan bisa melakukan apa pun. Usahanya hanya akan sia-sia.
"Baiklah, aku tidak akan lari. Jadi, kumohon, lepaskan aku," pinta Aisyah dengan nada yang lebih lembut.
Akhirnya David melepaskan pelukannya, tetapi sedikit tak rela. Pria itu sangat menikmati saar-saat itu. Entah mengapa ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya, tidak seperti saat bersama wanita lain.
David lebih merasa tenang pikirannya dan ada perasaan damai. Walaupun, jantungnya berdebar tak karuan saat itu, tetapi dia menikmatinya. Ingin rasanya dia menyandarkan kepala di punggung mungil Aisyah.
Aisyah kini sudah terlepas dari pelukan yang menjeratnya. Dia duduk sedikit jauh dari David. Dirinya tidak ingin orang-orang menganggapnya murahan lagi.
Aisyah terus menatap ke depan. Dia malas untuk menatap pria di sampingnya. "Memafkan untuk apa?"
"Segala hal."
"Termasuk kemarin yang kamu bermesraan sama wanita di sana." Aisyah menunjuk taman di seberang tempat David bersama wanita waktu itu.
David menyeringai setelah mendengar ucapan Aisyah. Dia menyadari sesuatu.
"Jadi, kamu marah melihat aku bermesraan dengan wanita lain?" tanya David menggoda.
"Eh, bukan seperti itu. Aku cuma tidak suka saja kamu selalu ganta ganti cewek. Karena itu juga aku kena imbasnya," jelas Aisyah dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
"Kamu kena imbasnya? Apa itu?" tanya David penasaran.
Aisyah menceritakan kejadian tadi pagi kepada David. Semua yang dia dengar, diungkapkannya. Tanpa terasa, air mata mulai jatuh lagi di pipi mungil Aisyah. Gadis itu merasakan sakit hati lagi karena mengingat ucapan dan tatapan mencemooh orang-orang.
"Apa?" pekik David. "Mereka berani melakukan itu padamu?"
"Iya, semua itu gara-gara kamu yang selalu ngedeketin aku. Mereka menganggap aku wanita murahan." Aisyah meluapkan emosi yang selama ini terpendam.
David menundukan kepalanya. Baru kali ini dia merasa bersalah kepada seorang wanita. Pria itu sungguh tak tega wanita yang cintai menangis.
"Baiklah. Aku akan segera menutup mulut mereka agar tak mengatakan omong kosong lagi dan aku akan mencukil mata siapa saja yang berani menatapmu dengan cara menghina," ucap David serius.
Aisyah hanya diam. Dia tak mempedulikan ucapan David. Yang dirasanya kini, hanya sakit hati dengan air mata yang masih meleleh.
David menahan tangan Aisyah yang hendak menghapus air mata. Pria itu segera mengusap air mata itu dengan sapu tangannya. Dengan lembut dia melakukannya.
Aisyah yang menerima perlakuan itu seketika mematung. Isakannya terhenti lagi dan saat itu pula jantungnya berdegup kencang.
"Bagaimana? Kamu memaafkanku, 'kan?" tanya David seraya menatap Aisyah dengan mata teduh.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Aisyah melangkah pergi meninggalkan David. Kali ini pria itu tidak mencegah kepergian Aisyah. Dia hanya mengeluarkan benda pipih dari saku celananya.
Sedangkan Aisyah kini telah berjalan menuju fakultasnya. Setelah kejadian tadi pagi, dia tak berani lagi menatap ke sekeliling. Dirinya baru menyadari bahwa orang-orang ternyata menganggapnya hina. Maka dari itu, dia juga baru merasa bahwa tidak ada orang yang benar-benar berteman dekat dengannya.
Aisyah memang bukan tipe orang yang supel. Dirinya terbiasa melakukan semuanya sendiri. Jadi, gadis itu tidak begitu mempermasalahkan hal itu dulu. Dia biasa saja berjalan di antara mereka. Akan tetapi, kini dia tak sanggup.
"Siang, Aisyah." Seseorang menyapanya dengan ramah.
__ADS_1
Aisyah segera mengangkat kepala. Betapa terkejut dia saat melihat orang-orang di sekitarnya. Mereka kelihatan begitu ramah kepadanya.
Bersambung.