
Satu bulan berlalu, Aisyah masih saja di ganggu Denok. Kini Denok lebih gila dalam menjalankan aksinya. Terakhir, buku Aisyah samapi basah karena dilempar, lalu masuk ke dalam selokan. Aisyah tak bisa membalas karena kalah jumlah.
David pun juga, kini dia lebih sering menemui Aisyah. Akan tetapi, Aisyah sudah tidak menghiraukannya lagi setelah kejadian waktu itu. Dia hanya menganggap perkataan David bualan saja.
Pagi ini, Aisyah sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Gadis itu mengambil tas yang tergeletak di samping keranjang bajunya. Sekilas Aisyah melihat ke keranjang baju, lalu dia mengingat sesuatu.
"Aku lupa mengembalikan jaket David," gumamnya seraya mengambil jaket itu dari tumpukan baju.
Memang, Aisyah tidak memilki lemari untuk bajunya. Hanya sebuah keranjang dari plastik yang dia gunakan untuk menampung baju bersihnya. Tidak perlu besar, terpenting kamarnya kelihatan rapi.
Aisyah segera memasukan jaket itu ke dalam kantung plastik, lalu ditentengnya kantung plastik itu keluar kamar. Aisyah mengunci pintu kamar untuk pergi kuliah.
Aisyah berjalan menyusuri gang yang sudah terlihat ramai. Di jam itu, banyak orang yang mulai beraktivitas, walaupun matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Aisyah memang suka berangkat kuliah lebih awal.
"Aisyah!" Terdengar seseorang memanggilnya dari arah depan.
Aisyah melihat ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya dia milihat orang yang memanggil namanya. Sepagi ini kenapa orang itu sudah berada di sana?
"Kak Riski! Untuk apa Kakak ke sini lagi?" tanya Aisyah yang hanya melirik ke arah Riski.
__ADS_1
"Dulu 'kan aku sudah bilang padamu bahwa aku ingin membawamu kembali. Urusanku di sana sudah selesai sekarang, jadi hari ini aku ke sini pagi. Ayo Aisyah, kumohon kembalilah padaku," ucap Riski dengan menangkupkan kedua tangannya.
Urusan? Apa dia sunguh-sunguh menceraikan Kak Vera? Atau mungkin ada urusan lain? Sudahlah, itu bukan urusanku, batin Aisyah.
Ya, kini Riski telah bercerai dengan Vera. Sidang perceraian mereka berjalan dengan lancar. Walaupun Vera banyak menuntut, namun semua tuntutan dipenuhi oleh Riski. Pria itu tahu bahwa Vera membuat tuntutan itu hanya untuk mempersulit Riski. Sebab itu, Riski menyanggupinya kecuali hal mengenai sang anak karena itu bukan urusannya.
"Untuk apa Kakak memungut sampah yang telah dibuang. Aku tak mau kembali lagi denganmu!" Seru Aisyah dengan hati yang bergemuruh.
"Aku tidak pernah menganggapmu begitu. Kamu adalah yang terbaik bagiku. Waktu itu pikiranku yang salah, tetapi sebenarnya hatiku memilihmu," jelas Riski meyakinkan Aisyah.
Aisyah menarik ujung bibirnya sebelah. Dia tidak mau mempercayai pria yang telah menyakiti hatinya. Walaupun, saat itu dirinya pernah jatuh hati pada pria itu.
Aisyah dan Riski serempak menengok ke arah orang yang telah memanggil Aisyah. Seseorang yang menaiki motor sport menuju ke arah mereka. Sungguh terlihat gagah pria itu.
Pria itu lagi. Mau apa lagi dia? batin Riski.
Aisyah hanya menatap ke arah orang itu, hingga dia sampai di hadapannya. Tak satu kata pun terucap dari mulut Aisyah. Dia hanya menunggu apa yang pria itu inginkan.
"Bagaimana? Apa kamu sudah membawanya?" tanya David seraya melirik ke arah kantung plastik di tangan Aisyah.
__ADS_1
Nemun, Aisyah tidak menanggapi ucapan David karena tidak mengerti. Akhirnya David menunjuk kantong plastik itu. Pria itu hanya ingin mencari alasan agar Aisyah terbebas dari Riski, walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa yang ada di dalam kanting plastik itu.
Aisyah tersentak dan mengerti apa yang di maksud David. Dia segera mengangkat kantong plastik itu.
"Oh! Iya, ini sudah aku bawa," ucap Aisyah yang melai membuka ikatan kantong plastik.
"Kalau begitu, bagus. Ayo, sekarang kita berangkat ke kampus." David menarik tangan Aisyah sebelum gadis itu membuka kantong plastik.
Aisyah sebenarnya enggan untuk naik ke motor David. Akan tetapi, dia tidak memiliki pilihan lain. Gadis itu juga tidak ingin berlama-lama mendengar penjelasan Riski.
David tersenyum senang karena bisa membawa Aisyah tanpa ada drama dan adu mulut. Dia bersyukur karena ada mantan suami Aisyah di sana sehingga mempermudah jalannya. Kini David melajukan motornya meninggalkan Riski yang tanpa perlawanan.
Riski hanya menatap kepergian Aisyah. Dia tidak ingin menahan mereka karena pria itu datang dengan baik-baik. Riski juga tahu bahwa Aisyah tidak ada hubungan apa-apa dengan pria itu. Dia melihat itu dari keseganan yang diperlihatkan Aisyah tadi.
Baiklah Aisyah, aku tidak akan memaksamu kembali. Tapi, aku akan mengambil hatimu lebih dulu sehingga kamu dengan suka rela kembali padaku, batin Riski.
Riski segera menuju mobilnya yang terparkir di luar gang karena tidak bisa masuk karena gang yang terlalu sempit. Pria itu segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu. Dia ingin menjalankan rencananya sebelum kembali ke kota S lagi.
Bersambung.
__ADS_1